<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9035263491279041580</id><updated>2012-02-16T03:25:08.560-08:00</updated><title type='text'>TENTANG WAHABI</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wahabi-selawat.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahabi-selawat.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9035263491279041580.post-1881912656847893965</id><published>2010-09-23T07:07:00.000-07:00</published><updated>2010-09-23T07:07:44.941-07:00</updated><title type='text'>Siapakah Syekh Muhammad Nashirudin al- Albani ?</title><content type='html'>&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada akhir-akhir ini diantara ulama yang dibanggakan dan dijuluki oleh sebagian golongan Wahabi/Salafi sebagai &lt;i&gt;Imam Muhadditsin&lt;/i&gt;&amp;nbsp; (Imam para ahli hadits) yaitu Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani karena –menurut golongan ini–&amp;nbsp; ilmunya tentang hadits bagaikan samudera tanpa bertepi. Beliau lahir dikota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M. Begitu juga Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baz di Saudi Arabia . Ada juga dari golongan Salafi ini berkata bahwa al-Albani &lt;i&gt;sederajad&lt;/i&gt; dengan Imam Bukhori pada zamannya. Sehingga semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan dan sebagainya, oleh beliau ini, sudah pasti lebih mendekati kebenaran.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Buat ulama-ulama madzhab sunnah selain madzhab Wahabi, julukan dan ujian golongan Wahabi/Salafi terhadap ulama mereka Al-Albani semacam itu&amp;nbsp; &lt;i&gt;tidak ada masalahnya&lt;/i&gt;. Hanya sekarang yang dimasalahkan adalah penemuan ulama-ulama ahli hadits dari berbagai madzhab diantaranya dari Jordania yang bernama Syeikh Hasan Ali Assegaf&amp;nbsp; tentang banyaknya kontradiksi dari hadits-hadits dan catatan-catatan yang dikemukakan oleh al-Albani ini jumlahnya lebih dari 1200 hadits. Judul bukunya yang mengeritik Al-Albani ialah: &lt;i&gt;Tanaqudlaat Albany al-Waadlihah fiima waqo’a fi tashhihi al-Ahaadiits wa tadl’iifiha min akhtho’ wa gholath&lt;/i&gt; (Kontradiksi Al-Albani yang nyata terhadap penshahihan hadits-hadits dan pendhaifannya yang salah dan keliru). Sebagian isi buku itu telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris yang kami terjemahkan dan susun secara bebas dalam bahasa Indonesia . Bagi para pembaca yang ingin membaca seluruh isi buku Syeikh Saggaf ini dan berminat untuk memiliki buku aslinya bisa menulis surat pada alamat: IMAM &lt;span style="color: black;"&gt;AL-NAWAWI HOUSE POSTBUS 925393 AMMAN , JORDAN . (Biaya untuk jilid 1 ialah US$ 4,00 belum termasuk ongkos pengiriman (via kapal laut) dan biaya untuk jilid 2 ialah US$ 7, 00 belum termasuk ongkos pengiriman (via&amp;nbsp;&amp;nbsp; kapal laut). Biaya&amp;nbsp;bisa selalu berubah.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kami mengetahui setiap manusia tidak luput dari kesalahan walaupun para imam atau ulama pakar kecuali Rasulallah saw. yang maksum. Tujuan kami mengutip kesalahan-kesalahan Syeikh Al-Albani,yang ditulis oleh Syeikh Saqqaf,&amp;nbsp;ini bukan untuk memecah belah antara muslimin tapi tidak lain adalah untuk lebih meyakinkan para pembaca bahwa Syeikh ini sendiri masih banyak kesalahan dan belum yakin serta masih belum banyak&amp;nbsp;menguasai ilmu&amp;nbsp;hadits, karena masih banyak kontradiksi yang beliau kutip didalam buku-bukunya. Dengan demikian hadits atau riwayat yang dilemahkan, dipalsukan dan sebagainya oleh Syeikh ini serta &lt;span style="color: black;"&gt;pengikut-pengikutnya tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, harus diteliti dan diperiksa lagi oleh ulama madzhab lainnya.&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Contoh-contoh kesalahan Syeikh Albani yang ditulis oleh Syeikh Saqqaf, yaitu umpamanya disatu halaman atau bukunya mengatakan hadits ..&lt;i&gt;Lemah&lt;/i&gt; tapi dihalaman atau dibuku lainnya mengatakan hadits (yang sama itu) ....&lt;i&gt;Shohih&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Hasan&lt;/i&gt;&lt;b&gt;.&lt;/b&gt; Begitu juga beliau disatu buku atau halaman mengatakan bahwa perawi.... adalah tidak &lt;i&gt;Bisa Dipercaya&lt;/i&gt; banyak membuat kesalahan dan sebagainya, tapi dibuku atau halaman lainnya beliau mengatakan bahwa perawi (yang sama ini) &lt;i&gt;Dapat Dipercaya&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Baik&lt;/i&gt;. Begitu juga beliau disatu halaman atau bukunya &lt;i&gt;memuji-muji&lt;/i&gt; perawi...atau ulama...tapi dibuku atau halaman lainnya&amp;nbsp; beliau ini &lt;i&gt;mencela &lt;/i&gt;perawi atau ulama (yang sama tersebut). Albani juga sering menyatakan tidak menemukan haditsnya, tetapi Syeikh Saqqaf bisa menemukannya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Diantara ulama-ulama pengeritik Al-Albani ini ada yang berkata; Kontradiksi tentang hadits Nabi saw. itu atau perubahan pendapat terdapat juga pada&amp;nbsp; empat ulama pakar yang terkenal (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hanbali) atau ulama lainnya! &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Perubahan pendapat para ulama ini biasanya yang berkaitan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri. Misalnya; Disalah satu kitab mereka &lt;i&gt;membolehkan&lt;/i&gt; suatu masalah sedangkan pada kitabnya yang lain &lt;i&gt;memakruhkan&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;mengharamkan&lt;/i&gt; masalah yang sama ini atau sebaliknya.&amp;nbsp;Perubahan pendapat ulama ini kebanyakan tidak ada sangkut pautnya dengan hadits yang mereka kemukakan sebelum dan sesudahnya, tapi kebanyakan yang bersangkutan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri waktu mengartikan hadits yang bersangkutan tersebut. Dan seandainya diketemukan adanya kontradiksi yang berkaitan dengan hadits yang disebutkan ulama ini pada kitabnya yang satu dengan kitabnya yang lain, maka kontradiksi ini tidak akan kita dapati lebih dari 10 hadits. Jadi bukan ratusan yang diketemukan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tapi yang lebih aneh lagi ulama golongan Salafi (baca:Wahabi) tetap mempunyai keyakinan &lt;i&gt;tidak ada kontradiksi&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;kesalahan&lt;/i&gt; dalam hadits yang dikemukakan oleh al-AlBani tersebut tapi lebih merupakan &lt;i&gt;ralat, koreksi atau rujukan&lt;/i&gt;. Sebagaimana alasan yang mereka ungkapkan sebagai berikut; umpama al-Albani menetapkan dalam kitabnya suatu hadits kemudian dalam kitab beliau lainnya menyalahi dengan kitab yang pertama ini bisa dikatakan bahwa dia &lt;i&gt;meralat atau merujuk&lt;/i&gt; hal tersebut! &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Alasan ini baik oleh ulama maupun awam (bukan ulama) tidak bisa diterima baik secara aqli (akal) maupun naqli (menurut nash). Seorang yang dijuluki ulama pakar oleh sekte Wahabi dan sebagai &lt;i&gt;Imam Muhadditsin&lt;/i&gt; karena ilmu haditsnya seperti &lt;i&gt;samudra yang tidak bertepian&lt;/i&gt;, seharusnya sebelum menulis satu hadits, beliau harus tahu dan meneliti lebih dalam apakah hadits yang akan ditulis tersebut shohih atau&amp;nbsp;lemah, terputus dan sebagainya. Sehingga tidak memerlukan &lt;i&gt;ralatan &lt;/i&gt;yang begitu banyak lagi pada kitabnya yang lain. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apalagi ralatan tersebut –yang diketemukan para ulama– bukan puluhan tapi ratusan! Sebenarnya&amp;nbsp;yang bisa dianggap sebagai ralatan yaitu bila sipenulis menyatakan dibukunya sebagai berikut; hadits ..…yang saya sebutkan pada kitab .… sebenarnya bukan sebagai hadits .....(dhoif, maudhu’ dan sebagainya) tapi sebagai hadits...... ( shohih dan sebagainya). Dalam kata-kata semacam ini jelas si penulis telah mengakui kesalahannya serta meralat pada kitabnya yang lain. Selama hal tersebut tidak dilakukan maka ini berarti &lt;i&gt;bukan ralatan&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;rujukan &lt;/i&gt;tapi&amp;nbsp;kekurang telitian si penulis. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Golongan Salafi/Wahabi ini bukan hanya tidak mau menerima keritikan ulama-ulama yang tidak sependapat dengan ulama mereka, malah justru sebaliknya mengecam pribadi ulama-ulama yang mengeritik ini sebagai orang yang &lt;i&gt;bodoh, golongan zindik, golongan sesat, tidak mengerti bahasa Arab&lt;/i&gt;, dan lain sebagainya. Mereka juga menulis hadits-hadits Nabi saw. dan wejangan ulama-ulamanya –untuk menjawab kritikan ini– tetapi sebagian isinya tidak ada sangkut pautnya dengan kritikan yang diajukan oleh para ulama madzhab selain madzhab Salafi (baca:Wahabi)!! Alangkah baiknya kalau golongan Salafi ini tidak mencela siapa/ bagaimana pribadi ulama pengeritik itu, tapi mereka langsung membahas atau menjawab satu persatu dengan dalil yang aqli dan naqli masalah yang dikritik tersebut. Sehingga bila jawabannya itu benar maka sudah pasti ulama-ulama pengeritik ini dan para pembaca akan menerima jawaban golongan Wahabi dengan baik. Ini tidak lain karena &lt;i&gt;keegoisan&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;kefanatikan &lt;/i&gt;pada ulamanya sendiri sehingga mereka tidak mau terima semua keritikan-keritikan tersebut, dan mereka berusaha dengan jalan apa pun untuk membenarkan riwayat-riwayat atau nash baik yang dikutip oleh al-Albani maupun ulama mereka lainnya.&amp;nbsp; Sayang sekali golongan Salafi ini merasa dirinya yang &lt;i&gt;paling pandai&lt;/i&gt; memahami ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw., &lt;i&gt;paling suci&lt;/i&gt;, dan merasa satu-satunya golongan yang memurnikan agama Islam dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dengan demikian mudah mensesatkan, mensyirikkan sesama muslimin&amp;nbsp; yang tidak sepaham dengan pendapatnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mari kita sekarang meneliti sebagian &lt;i&gt;pilihan/seleksi&lt;/i&gt; isi buku Syeikh Saqqaf tentang kesalahan-kesalahan al-Albani yang kami kutip bahasa Inggrisnya dan kami terjemahkan&amp;nbsp;serta susun semampunya dari versi bahasa Inggris dengan judul &lt;i&gt;‘Al-Albani’s Weakening of Some of Imam Bukhari and Muslim’s Ahadit&lt;/i&gt;. Kitab asli bahasa Arabnya berjudul &lt;i&gt;‘Tanaqadat al-Albani al-Wadihat’&lt;/i&gt; (Kontradiksi yang nyata/ jelas pada Al-Albani) oleh Syeikh Saqqaf, Amman , Jordania. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;AL-ALBANI'S WEAKENING OF&amp;nbsp;SOME OF IMAM BUKHARI AND MUSLIM'S AHADITH.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Albani melemahkan beberapa hadits dari Imam Bukhori dan Imam Muslim.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Albani has said in "Sharh al-Aqeedah at-Tahaweeah, pg. 27-28" (8th edition, Maktab al-Islami) by Shaykh Ibn Abi al-Izz al-Hanafi (Rahimahullah), that any Hadith coming from the Shohih collections of al-Bukhari and Muslim is Shohih, not because they were narrated by Bukhari and Muslim, but because the Ahadith are in fact correct. But he clearly contradicts himself, since he has weakened Ahadith from Bukhari and Muslim himself! Now let us consider this information in the light of elaboration :-&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syekh Al-Albani telah berkata didalam &amp;nbsp;&lt;i&gt;Syarh Al-Aqidah at-Tahaweeah hal.27-28 cet.ke 8 Maktab Al-Islami oleh Sjeik Ibn Abi Al-Izz Al-Hanafi &lt;/i&gt;(Rahimahullah). “&lt;i&gt;Hadits-hadits shohih yang dikumpulkan oleh Bukhori dan Muslim bukan karena diriwayatkan oleh mereka tapi karena hadits-hadits tersebut sendiri shohih”.&lt;/i&gt; !&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tetapi dia (Albani) telah nyata berlawanan dengan omongannya sendiri karena pernah &lt;i&gt;melemahkan&lt;/i&gt; hadits dari dua syeikh tersebut. Mari kita lihat beberapa hadits dari Imam Bukhori dan Imam Muslim yang dilemahkan oleh Syekh al-Albani keterangan berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Selected translations from volume 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Terjemahan-terjemahan yang terpilih dari jilid (volume) 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.1: (*Pg. 10 no. 1 ) Hadith: The Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) said: "Allah says I will be an opponent to 3 persons on the day of resurrection: &lt;b&gt;(a)&lt;/b&gt; One who makes a covenant in my Name but he proves treacherous, &lt;b&gt;(b)&lt;/b&gt; One who sells a free person (as a slave) and eats the price &lt;b&gt;(c)&lt;/b&gt; And one who employs a laborer and gets the full work done by him, but doesn't pay him his wages." [Bukhari no 2114-Arabic version, or see the English version 3/430 pg 236]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in "Daeef al-Jami wa Z iyadatuh, 4/111 no. 4054". Little does he know that this Hadith has been narrated by Ahmad and Bukhari from Abu Hurayra (Allah be pleased with him)!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.1:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal. 10 nr.1) Sabda Rasulallah saw. bahwa Allah swt.berfirman: &lt;i&gt;Aku musuh dari 3 orang pada hari kebangkitan ; &lt;/i&gt;&lt;b&gt;a)&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; Orang yang mengadakan perjanjian atas NamaKu, tetapi dia sendiri melakukan pengkhianatan atasnya &lt;/i&gt;&lt;b&gt;b)&lt;/b&gt;&lt;i&gt; Orang yang menjual orang yang merdeka sebagai budak dan makan harta hasil penjualan tersebut &lt;/i&gt;&lt;b&gt;c)&lt;/b&gt;&lt;i&gt; orang yang mengambil buruh untuk dikerjakan dan bekerja penuh untuk dia, tapi dia tidak mau membayar gajihnya.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Bukhori no.2114 dalam versi bahasa Arab atau dalam versi bahasa Inggris&amp;nbsp; 3/430 hal. 236). Al-Albani berkata dalam &lt;i&gt;Dhaif Al-jami wa Ziyadatuh 4/111 nr. 4054.&lt;/i&gt; bahwa hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt;.&lt;/u&gt; Dia (Al-Albani) memahami hanya sedikit tentang hadits, hadits diatas ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhori dari Abu Hurairah ra.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.2: (*Pg. 10 no. 2 ) Hadith: "Sacrifice only a grown up cow unless it is difficult for you, in which case sacrifice a ram." [Muslim no. 1963-Arabic edition, or see the English version 3/4836 pg. 1086]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 6/64 no. 6222." Although this Hadith has been narrated by Imam's Ahmad, Muslim, Abu Dawood, Nisai and Ibn Majah from Jaabir (Allah be pleased with him)!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.2:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;(Hal. 10 nr.2) Hadits : &lt;i&gt;“Korbanlah satu sapi muda kecuali kalau itu sukar buatmu maka korbanlah satu domba jantan”&lt;/i&gt; ( Muslim nr.1963 dalam versi bahasa Arab yang versi bahasa Inggris 3/4836 hal.1086). Al-Albani berkata Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 6/64 nr. 6222 bahwa hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah.&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Jabir ra. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.3: (*Pg. 10 no. 3 ) Hadith: "Amongst the worst people in Allah's sight on the Day of Judgement will be the man who makes love to his wife and she to him, and he divulges her secret." [Muslim no. 1437- Arabic edition]. Al-Albani claims that this Hadith is DAEEF in "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/197 no. 2005." Although it has been narrated by Muslim from Abi Sayyed (Allah be pleased with him)!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.3:&amp;nbsp; &amp;nbsp;(Hal.10 nr.3)&amp;nbsp; Hadits: ‘&lt;i&gt;Termasuk orang yang paling buruk dan Allah swt. akan mengadilinya pada hari pembalasan yaitu suami yang berhubungan dengan isterinya dan isteri berhubungan dengan suaminya dan dia menceriterakan rahasia isterinya &lt;/i&gt;(pada orang lain)&lt;i&gt; ‘&lt;/i&gt; (Muslim nr.1437 penerbitan dalam bahasa Arab). Al-Albani menyatakan dalam &lt;i&gt;Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/197 nr. 2005&amp;nbsp; &lt;/i&gt;bahwa hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Sayyed ra.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.4: (*Pg. 10 no. 4 ) Hadith: "If someone woke up at night (for prayers) let him begin his prayers with 2 light rak'ats." [Muslim no. 768]. Al-Albani stated that this Hadith was DAEEF in "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 no. 718." Although it is narrated by Muslim and Ahmad from Abu Hurayra (may Allah be pleased with him)!!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.4:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.10 nr.4) Hadits: “&lt;i&gt;Bila seorang bangun malam &lt;/i&gt;(untuk sholat)&lt;i&gt;, maka mulailah sholat dengan 2 raka’at ringan”&lt;/i&gt; (Muslim nr. 768). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 nr. 718 menyatakan bahwa hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.5: (*Pg. 11 no. 5 ) Hadith: "You will rise with shining foreheads and shining hands and feet on the Day of Judgement by completing Wudhu properly. . . . . . . ." [Muslim no. 246]. Al-Albani claims it is DAEEF in "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 no. 1425." Although it has been narrated by Muslim from Abu Hurayra (Allah be pleased with him)!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.5:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.11 nr. 5) Hadits: ‘&lt;i&gt;Engkau akan naik keatas dihari kiamat dengan cahaya dimuka, cahaya ditangan dan kaki dari bekas wudu’ yang sempurna’ &lt;/i&gt;(Muslim nr 246). Al-Albani dalam &lt;i&gt;Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 nr. 1425 &lt;/i&gt;menyatakan bahwa hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.6: (*Pg. 11 no. 6 ) Hadith: "The greatest trust in the sight of Allah on the Day of Judgement is the man who doesn't divulge the secrets between him and his wife." [Muslim no's 124 and 1437] Al-Albani claims it is DAEEF in "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/192 no. 1986." Although it has been narrated by Muslim, Ahmad and Abu Dawood from Abi Sayyed (Allah be pleased with him)!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.6:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.11 nr. 6) Hadits: &lt;i&gt;‘orang yang dimuliakan disisi Allah pada hari pembalasan &lt;/i&gt;(kiamat)&lt;i&gt; ialah yang tidak membuka rahasia antara dia dan isterinya’.&lt;/i&gt; (Muslim nr.124 dan 1437). Al-Albani dalam &lt;i&gt;Dhaeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/192 nr. 1986 &lt;/i&gt;menyatakan bahwa hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Abi Sayyed.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.7: (*Pg. 11 no. 7 )Hadith: "If anyone READS the last ten verses of Surah al-Kahf he will be saved from the mischief of the Dajjal." [Muslim no. 809]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 5/233 no. 5772." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;NB- The word used by Muslim is MEMORIZED and not READ as al-Albani claimed; what an awful mistake! This Hadith has been narrated by Muslim, Ahmad and Nisai from &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Abi Darda (Allah be pleased with him)!! (Also recorded by Imam Nawawi in " Riyadh us-Saliheen, 2/1021" of the English ed'n).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.7:&amp;nbsp; &amp;nbsp;(Hal.11 nr.7) Hadits: &lt;i&gt;‘Siapa yang membaca 10 surah terakhir dari Surah Al-Kahfi, akan dilindungi dari kejahatan Dajjal ‘&lt;/i&gt;&amp;nbsp; (Muslim nr. 809). Al-Albani dalam &lt;i&gt;Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 5/233 nr. 5772&lt;/i&gt; menyatakan hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Nasa’i dari Abi Darda ra. juga dikutip oleh Imam Nawawi dalam Riyadhos Sholihin 2/1021 dalam versi Inggris).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;NotaBene&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;: Didalam riwayat Muslim disebut &lt;i&gt;&lt;u&gt;Menghafal&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;(10 surat terakhir Al-Kahfi) bukan &lt;i&gt;&lt;u&gt;Membaca&lt;/u&gt; &lt;/i&gt;sebagaimana yang dinyatakan Al-Albani, ini adalah kesalahan yang nyata !&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.8: (*Pg. 11 no. 8 ) Hadith: "The Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) had a horse called al-Laheef." [Bukhari, see Fath al-Bari of Hafiz Ibn Hajar 6/58 no. 2855]. But Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 4/208 no. 4489." Although it has been narrated by Bukhari from Sahl ibn Sa'ad (Allah be pleased with him)!!! Shaykh Saqqaf said: "This is only anger from anguish, little from a lot and if it wasn't for the fear of lengthening and boring the reader, I would have mentioned many other examples from al-Albani's books whilst reading them. Imagine what I would have found if I had traced everything he wrote?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;AL-ALBANI'S INADEQUACY IN RESEARCH (* Vol. 1 pg. 20) Shaykh Saqqaf said: "The strange and amazing thing is that Shaykh l-Albani misquoted many great Hadith scholars and disregards them by his lack of knowledge, either directly or indirectly! He crowns himself as an unbeatable source and even tries to imitate the great scholars by using such terms like "Lam aqif ala sanadih", which means "I could not find the chain of narration", or using similar phrases! He also accuses some of the best memorizers of Hadith for lack of attention, even though he is the one best described by that!" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No. 8 (Hal.11 nr. 8) Hadits: &lt;i&gt;Rasulallah saw. mempunyai seekor kuda bernama Al Laheef’’&lt;/i&gt; (Bukhori, lihat Fath Al-Bari oleh Hafiz ibn Hajar 6/58 nr.2855). Tapi Al-Albani dalam &lt;i&gt;"Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 4/208 nr. 4489 &lt;/i&gt;berkata&lt;i&gt; &lt;/i&gt;bahwa hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;. Walaupun diriwayatkan oleh Bukhori dari Sahl Ibn Sa’ad ra. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syeikh Segaf berkata : Ini hanya marah dari sakit hati ! Kalau tidak karena takut terlalu panjang dan pembaca menjadi bosan karenanya saya akan sebutkan banyak contoh-contoh dari buku-buku Al-Albani ..............)&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;AL-ALBANI TIDAK SESUAI DALAM PENYELIDIKANNYA&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(jilid 1 hal.20)&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Syeikh Seggaf&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; berkata: ‘ Sangat heran dan mengejutkan, bahwa Syeikh Al-Albani menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama pakar ahli hadits baik secara langsung atau tidak secara langsung, tidak lain semuanya ini karena kedangkalan ilmu Al-Albani ! . Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia sering meniru kata-kata para ulama pakar (dalam menyelidiki suatu hadits)&amp;nbsp; ‘&lt;i&gt;Lam aqif ala sanadih’&lt;/i&gt;&amp;nbsp; artinya ‘ &lt;i&gt;Saya tidak menemukan rantaian sanadnya’ &lt;/i&gt;atau dengan kata-kata yang serupa. Dia juga menyalahkan beberapa ulama pakar penghafal Hadits yang terbaik untuk kurang perhatian, karena dia sendiri merasa sebagai penulis yang paling baik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Now for some examples to prove our point:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Beberapa contoh-contoh bukti yang dimaksud berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.9: (* Pg. 20 no. 1 ) Al-Albani said in "Irwa al-Ghalil, 6/251 no. 1847" (in connection to a narration from Ali): "I could not find the sanad." Shaykh Saqqaf said: "Ridiculous! If this al-Albani was any scholar of Islam, then he would have known that this Hadith can be found in "Sunan al-Bayhaqi, 7/121" :- Narrated by Abu Sayyed ibn Abi Amarah, who said that Abu al-Abbas Muhammad ibn Yaqoob who said to us that Ahmad ibn Abdal Hamid said that Abu Usama from Sufyan from Salma ibn Kahil from Mu'awiya ibn Soayd who said, 'I found this in my fathers book from Ali (Allah be pleased with him).'" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.9:&amp;nbsp;(Hal. 20 nr.1) Al-Albani dalam &lt;i&gt;Irwa Al-Ghalil, 6/251 nr. 1847&lt;/i&gt; berkata: (dalam kaitannya dengan sebuah riwayat dari Ali ra.): ‘ Saya tidak menemukan sanadnya”. Syeikh &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saqqaf berkata: ‘Menggelikan!&amp;nbsp;Bila Al-Albani ini orang yang terpelajar dalam Islam maka dia akan tahu bahwa hadits ini ada dalam Sunan Al-Baihaqi 7/121 diriwayatkan dari Abi Sayyed ibn Abi Amarah yang katanya bahwa Abu Al-Abbas Muhammad ibn Yaqub berkata pada kami bahwa Ahmad ibn Abdal Hamid berkata, bahwa Abu Usama dari Sufyan dari Salma ibn Kahil dari Mu’awiyah ibn Soayd berkata, Saya menemukan ini dalam buku ayah saya dari Ali kw.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.10: (* Pg. 21 no. 2 ) Al-Albani said in 'Irwa al-Ghalil, 3/283': Hadith of Ibn Umar 'Kisses are usury,' I could not find the sanad." Shaykh Saqqaf said: "This is outrageously wrong for surely this is mentioned in 'Fatawa al-Shaykh ibn Taymiyya al-Misriyah (3/295)': 'Harb said Obaidullah ibn Mu'az said to us, my father said to me that Soayd from Jiballa who heard Ibn Umar (Allah be pleased with him) as saying: Kisses are usury.' And these narrators are all authentic according to Ibn Taymiyya!" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.10:&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.21 nr.2) Al-Albani dalam &lt;i&gt;'Irwa Al-Ghalil, 3/283'&lt;/i&gt; berkata; Hadits dari Ibn Umar&amp;nbsp; 'Ciuman-ciuman adalah riba’ '. Saya tidak menemukan sanadnya.Syeikh Seggaf berkata: Ini kesalahan yang sangat aneh ! Ini sudah ada didalam Fatwa Syeikh Ibn Taimiyya Al-Misriyah 3/295: “Harb berkata bahwa Ubaidullah ibn Mu’az berkata pada kita; ayah saya berkata bahwa Suaid dari Jiballa mendengar dari Ibn Umar ra berkata: ‘ Ciuman-ciuman itu adalah riba' ".&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan perawi-perawi dapat dipercaya menurut Ibn Taimiyyah ! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.11: (* Pg. 21 no. 3 ) Hadith of Ibn Masood (Allah be pleased with him): "The Qur'an was sent down in 7 dialects. Everyone of its verses has an explicit and implicit meaning and every interdiction is learly defined." Al-Albani stated in his checking of "Mishkat ul-Masabih, 1/80 no. 238" that the author of Mishkat concluded many Ahadith with the words "Narrated in Sharh us-Sunnah," but when he examined the chapter on Ilm and in Fadail al-Qur'an he could not find it! Shaykh Saqqaf said: "The great scholar has spoken! Wrongly as usual. I wish to say to this fraud that if he is seriously interested in finding this Hadith we suggest he looks in the chapter entitled 'Al-Khusama fi al-Qur'an' from Sharh-us-Sunnah (1/262), and narrated by Ibn Hibban in his Shohih (no. 74), Abu Ya'ala in his Musnad (no.5403), Tahawi in Sharh al-Mushkil al-Athar (4/172), Bazzar (3/90 Kashf al-Asrar) and Haythami has mentioned it in Majmoo'a al-Zawaid (7/152) and he has ascribed it to Bazzar, Abu Ya'ala and Tabarani in al-Awsat who said that the narrators are trustworthy." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.11:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.21 nr.3) Hadits dari Ibn Mas’ud ra : ‘&lt;i&gt;Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh &lt;/i&gt;(macam)&lt;i&gt; bahasa, setiap ayat ada yang jelas dan ada yang kurang jelas dan setiap larangan itu jelas &lt;/i&gt;....(ada batasnya) ‘ Al-Albani dalam &lt;i&gt;Mishkat ul-Masabih, 1/80 nr. 238 &lt;/i&gt;menyatakan menurut penyelidikannya bahwa pengarang/penulis Mishkat memutuskan banyak hadits dengan kata-kata “diceriterakan/diriwayatkan dalam Syarh As Sunnah” tapi waktu dia (Albani) menyelidiki bab masalah Ilmu dan Keutamaan Al-Qur’an tidak menemukan hal itu !&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syeikh Seggaf berkata: ‘Ulama yang paling pandai telah berbicara&amp;nbsp; kesalahan yang sudah biasa. Dengan kebohongan itu saya ingin mengata= kan , bila dia benar-benar tertarik untuk menemukan ini hadits,&amp;nbsp; kami mengusulkan agar dia melihat dalam bab yang berjudul&amp;nbsp; &lt;i&gt;'Al-Khusama fi Al-Qur'an van Sharh-us-Sunnah (1/262)&lt;/i&gt; dan diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam shohihnya nr. 74, Abu Ya’la dalam Musnadnya nr. 5403, Tahawi dalam Sharh Al Mushkil Al-Athar 4/172, Bazzar dalam Kash Al-Asrar 3/90, Haitami telah menyatakan dalam Majmu’a Al-Zawaid 7/152 dan dia merujuk kepada Bazzar, Abu Ya’la dan Tabrani dalam Al-Awsat yang berkata bahwa semua perawinya bisa dipercayai.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.12: (* Pg. 22 no. 4 ) Al-Albani stated in his "Shohihah, 1/230" while he was commenting on Hadith no. 149: "The believer is the one who does not fill his stomach. . . . The Hadith from Aisha as mentioned by Al-Mundhiri (3/237) and by Al-Hakim from Ibn Abbas, I (Albani) could not find it in Mustadrak al-Hakim after checking it in his 'Thoughts' section." Shaykh Saqqaf said: "Please don't encourage the public to fall into the void of ignorance which you have tumbled into! If you check Mustadrak al-Hakim (2/12) you will find it! This proves that you are unskilled at using book indexes and the memorization of Hadith!" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.12:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (hal.22 nr.4) Al-Albani berkata dalam &lt;i&gt;Shahiha, 1/230&lt;/i&gt; waktu dia memberi komentar tentang hadits nr. 149;&amp;nbsp; “ &lt;i&gt;Orang yang beriman ialah orang yang perutnya tidak kenyang...&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“&amp;nbsp; hadits ini dari Aisyah yang disebutkan dalam Al-Mudhiri 3/237 dan Al-Hakim dari Ibn Abbas. Saya (Albani) tidak menemukan dalam Mustadrak Al-Hakim setelah penyelidikannya dan menurut pasal pikirannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syeikh Seggaf berkata: Tolong jangan berani menjatuhkan masyarakat kepada kebodohan yang sia-sia, yang mana engkau sudah terperosok didalamnya! Kalau engkau akan mencari dalam Mustadrak Al-Hakim 2/12 maka dia akan engkau dapati ! Ini membuktikan bahwa engkau sendiri tidak ahli menggunakan buku index dan memberitakan dari Hadits.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.13: (* Pg. 23 ) Another ridiculous assumption is made by al-Albani in his "Shohihah, 2/476" where he claims that the Hadith: "Abu Bakr is from me, holding the position of (my) hearing" is not in the book 'Hilya'. We suggest you look in the book "Hilya , 4/73!"&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.13: &amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.23)&amp;nbsp; Lebih menggelikan lagi&amp;nbsp; dugaan yang dibuat oleh Al-Albani dalam Shohihah, 2/476 yang mana dia menyatakan bahwa hadits: ‘&lt;i&gt;Abu Bakar dari saya dan dia menempati posisi saya&lt;/i&gt;’ tidak ada didalam ‘Hilya’. Saya usulkan agar anda melihat didalam &lt;i&gt;"Hilya, 4/73 " &lt;/i&gt;! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.14: (*Pg. 23 no. 5 )Al-Albani said in his "Shohihah, 1/638 no. 365, 4th edition": "Yahya ibn Malik has been ignored by the 6 main scholars of Hadith, for he was not mentioned in the books of Tahdhib, Taqreeb or Tadhhib." Shaykh Saqqaf: "That is what you say! It is not like that, for surely he is mentioned in Tahdhib al-Tahdhib of Hafiz ibn Hajar al-Asqalani (12/19 Dar al-Fikr edition) by the nickname Abu Ayoob al-Maraagi!! So beware!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.14 (Hal.23 nr. 5) Al-Albani dalam &lt;i&gt;"Shohihah, 1/638 nr. 365, cet.ke 4" &lt;/i&gt;mengatakan : Yahya Ibn Malik tidak dikenal/termasuk&amp;nbsp; 6 ahli hadits karena dia ini tidak tercatat Tahdzib, Taqreeb dan Tadzhib.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syeikh Seggaf berkata: ‘Itu menurut anda!&amp;nbsp; Sebenarnya bukan begitu,&amp;nbsp; nama julukannya ialah Abu Ayub Al-Maraagi dan ini ada didalam Tahdzib, Al-Tahdzib disebutkan oleh Hafiz ibn Hajar Al-Asqalani 12/19 cet.Dar Al-Fikr ! Hati-hatilah!&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;FURTHER EXAMPLES OF AL-ALBANI'S CONTRADICTIONS &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;MASIH BANYAK CONTOH KONTRADIKSI DARI AL-ALBANI !&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 15 : (* Pg. 7 )Al-Albani has criticized the Imam al-Muhaddith Abu'l Fadl Abdullah ibn al-Siddiq al-Ghimari (Rahimahullah) for mentioning in his book "al-Kanz al-Thameen" a Hadith from Abu Hurayra (Allah be pleased with him) with reference to the narrator Abu Maymoona: "Spread salaam, feed the poor. . . ." &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Albani said in "Silsilah al-Daeefa, 3/492", after referring this Hadith to Imam Ahmad (2/295) and others: "I say this is a weak sanad, Daraqutni has said 'Qatada from Abu Maymoona from Abu Hurayra: Unknown, and it is to be discarded.'" Al-Albani then said on the same page: "Notice, a slapdash has happened with Suyuti and Munawi when they came across this Hadith, and I have also shown in a previous reference, no. 571, that al-Ghimari was also wrong for mentioning it in al-Kanz." But in reality it is al-Albani who has become slapdashed, because he has made a big contradiction by using this same sanad in "Irwa al-Ghalil, 3/238" where he says, "Classified by Ahmad (2/295), al-Hakim . . . from Qatada from Abu Maymoona, and he is trusted as in the book 'al-Taqreeb', and Hakim said: 'A Shohih sanad', and al-Dhahabi agreed with Hakim! So, by Allah glance at this mistake! Who do you think is wrong, the Muhaddith al-Ghimari (also Suyuti and Munawi) or al-Albani? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.15.&amp;nbsp; (Hal.7) Al-Albani mengeritik Imam Al-Muhaddith Abu'l Fadl Abdullah ibn Al-Siddiq Al-Ghimari (Rahimahullah) waktu mengetengahkan hadits dari Abu Hurairah ra. dalam kitabnya Al-Kanz Al-Thameen yang bertalian dengan perawi Abu Maymuna ; &lt;i&gt;‘Sebarkan salam, beri makan orang-orang miskin..’&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;” Al-Albani berkata dalam &lt;i&gt;Silsilah Al-Daifa, 3/492 &lt;/i&gt;setelah merujuk hadits ini pada Imam Ahmad 2/295 dan lain-lain : Saya berkata bahwa sanadnya lemah, Daraqutni juga berkata ‘Qatada dari Abu Maymoona dari Abu Hurairah tidak dikenal dan itu harus dikesampingkan “.&amp;nbsp; Al-Albani berkata pada halaman yang sama; ‘Pemberitahuan, pukulan bagi Suyuti dan Munawi, waktu mereka menemukan hadits ini, dan saya juga telah menunjukkan dalam referensi yang lalu nr. 571 bahwa Al-Ghimari itu telah salah menyebutkan (hadits) itu dalam Al-kanz.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tetapi sebenarnya Al-Albani-lah yang terkena pukulan,&amp;nbsp; sebab sangat bertentangan dengan perkataannya dalam&amp;nbsp; &lt;i&gt;Irwa Al-Ghalil, 3/238&lt;/i&gt;&amp;nbsp; yang meng gunakan sanad yang sama, katanya: ‘ Diklasifikasikan oleh Ahmad (2/295), al-Hakim....dari Qatada dari Abu Maymuna dan orang mepercayainya sebagaimana yang disebutkan didalam buku Al-Taqreeb dan Hakim berkata;&amp;nbsp; Sanad yang shohih dan Al-Dhahabi sepakat dengan Hakim !&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitulah Allah langsung melihatkan kesalahan tersebut ! Sekarang siapa- kah yang selalu salah;&amp;nbsp; Ahli hadits( Al-Ghimari, Suyuti, Munawi) atau Al-Albani ? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 16 : (* Pg. 27 no. 3 ) Al-Albani wanted to weaken a Hadith which allowed women to wear golden jewellery, and in the sanad for that Hadith there is Muhammad ibn Imara. Al-Albani claimed that Abu Haatim said that this narrator was: "Not that strong," see the book "Hayat al-Albani wa-Atharu. . . part 1, pg. 207." The truth is that Abu Haatim al-Razi said in the book 'al-Jarh wa-Taadeel, 8/45': "A good narrator but not that strong. . ." So note that al-Albani has removed the phrase "A good narrator !" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;NB-(al-Albani has made many of the Hadith which forbid Gold to women to be Shohih, in fact other scholars have declared these Hadith to be daeef and abrogated by other Shohih Hadith which allow the wearing of gold by women. One of the well known Shaykh's of the "Salafiyya" - Yusuf al-Qardawi said in his book: 'Islamic awakening between rejection and extremism, pg. 85: "In our own times, Shaykh Nasir al-Din al-Albani has come out with an opinion, different from the consensus on permitting women to adorn themselves with gold, which has been accepted by all madhahib for the last fourteen centuries. He not only believes that the isnad of these Ahadith is authentic, but that they have not been revoked. So, he believes, the Ahadith prohibit gold rings and earrings." So who is the one who violates the ijma of the Ummah with his extreme opinions?!)&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.16&amp;nbsp;(Hal.27 nr.3) Al-Albani mau melemahkan hadits yang membolehkan wanita memakai perhiasan emas dan dalam sanad hadits itu ada Muhammad ibn Imara. Al-Albani menyatakan bahwa Abu Haatim berkata; “perawi ini&amp;nbsp; tidak kuat “, lihat buku &lt;i&gt;Hayat Al-Albani wa-Atharu&lt;/i&gt; ..jilid 1 hal.207. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Yang benar ialah bahwa Abu Haatim Al-Razi dalam buku &lt;i&gt;‘Al-Jarh wa-Taadeel, 8/45&lt;/i&gt; berkata: “ Perawi yang baik tapi tidak sangat kuat....”&amp;nbsp; Jadi lihat pada catatan Al-Albani bahwa kalimat “Perawi yang baik “ dibuang!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;NotaBene&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;:&amp;nbsp; Al-Albani telah membuat/menulis banyak hadits yang menyata- kan larangan emas (dipakai) untuk wanita menjadi Shohih, padahal kenyata- annya para Ulama lain menyatakan hadits-hadits ini lemah dan berlawanan dengan hadits Shohih yang memperbolehkan pemakaian (perhiasan) emas oleh kaum wanita. Salah seorang Syeikh ‘Salafiah’ terkenal, Yusuf Al-Qardawi berkata dalam bukunya &lt;i&gt;Islamic awakening between rejection and extremism,&lt;/i&gt; halaman 85: “Dalam zaman kita sendiri Syeikh Nasir al-Din (Al-Albani) telah muncul dengan suatu pendapat yang bertentangan dengan kesepakatan tentang pembolehan wanita-wanita menghias diri mereka dengan emas, yang telah diterima/disetujui oleh semua madzhab selama empat belas abad terakhir. Dia tidak hanya mempercayai bahwa sanad dari hadits-hadits ini (yang melarang wanita memakai perhiasan emas--pen.)dapat dipercaya, tapi bahwa hadits-hadits ini belum dicabut/dihapus. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Maka dia percaya hadits-hadits tersebut melarang (pemakaian) cincin dan anting-anting emas".&amp;nbsp; Lalu siapa yang merusak kesepakatan (ijma’) ummat dengan pendapat-pendapatnya yang ekstrem?&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 17: (* Pg. 37 no. 1 )Hadith: Mahmood ibn Lubayd said, "Allah's Messenger (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) was informed about a man who had divorced his wife 3 times (in one sitting), so he stood up angrily and said: 'Is he playing with Allah's book whilst I am still amongst you?' Which made a man stand up and say, 'O Allah's Messenger, shall I not kill him?'" (al-Nisai). Al-Albani declared this Hadith to be Daeef in his checking of "Mishkat al-Masabih, 2/981, 3rd edition, Beirut , 1405 A.H; Maktab al-Islami", where he says: "This man (the narrator) is reliable, but the isnad is broken or incomplete for he did not hear it directly from his father." Al-Albani then contradicts himself in the book "Ghayatul Maram Takhreej Ahadith al-Halal wal Haram, no. 261, pg. 164, 3rd Edn, Maktab al-Islami, 1405 A.H"; by saying it is SHOHIH!!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 17&amp;nbsp;&amp;nbsp;(Hal. 37 nr. 1) Hadits : Mahmud ibn Lubayd berkata; ‘Rasulallah saw. telah diberitahu mengenai seorang yang telah mencerai isterinya 3x dalam satu waktu, oleh karena itu dia berdiri dengan marah dan berkata; ‘&lt;i&gt;Apakah dia bermain-main dengan Kitabullah, sedangkan aku masih berada dilingkungan engkau ? &lt;/i&gt;Yang mana berdiri seorang untuk berkata ; Wahai Rasulallah, apakah&amp;nbsp; dia tidak saya bunuh saja ? (Al-Nisa’i).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Albani menyatakan hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; menurut penyelidikannya dari kitab ‘Mishkat Al-Masabih 2/981 cet.ketiga, Beirut 1405 A.H. de Maktab Al-Islami ‘ yang mengatakan “ Perawinya bisa dipercaya tapi isnadnya terputus atau tidak komplit, karena dia tidak mendengar langsung dari ayahnya”. Al-Albani berkata berlawanan dengan dirinya sendiri dalam buku Ghayatul Maram Takhreej Ahadith Al-Halal wal-Haram, nr. 261, hal. 164, cet.ketiga&amp;nbsp; Maktab Al-Islami, 1405 A.H" telah mengatakan bahwa hadits itu &lt;i&gt;&lt;u&gt;Shohih&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; !! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 18 : (* Pg. 37 no. 2)Hadith: "If one of you was sleeping under the sun, and the shadow covering him shrank, and part of him was in the shadow and the other part of him was in the sun, he should rise up." Al-Albani declared this Hadith to be SHOHIH in "Shohih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761)", but then contradicts himself by saying it is DAEEF in his checking of "Mishkat ul-Masabih, 3/1337 no. 4725, 3rd Ed" and he has referred it to the Sunan of Abu Dawood!" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 18 (Hal.37 nr.2) Hadits; “Bila salah satu dari engkau tidur dibawah (terik) sinar matahari dan bentuk naungan telah menutupinya dan sebagian darinya didalam naungan dan sebagiannya lagi dibawah (terik) sinar matahari, maka dia harus bangun” . Al-Albani menyatakan hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;shohih&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; dalam Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761) tapi perkataannya berlawanan dengannya karena mengatakan hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah &lt;/u&gt;&lt;/i&gt;dalam penyelidikannya dari Mishkat ul-Masabih 3/1337 nr.4725 cet.ketiga dan dia merujuk hadits ini pada Sunan Abu Daud.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 19 : (* Pg. 38 no. 3 )Hadith: "The Friday prayer is obligatory on every Muslim." Al-Albani rated this Hadith to be DAEEF in his checking of "Mishkat al-Masabih, 1/434", and said: "Its narrators are reliable but it is discontinuous as is indicated by Abu Dawood". He then contradicts himself in "Irwa al-Ghalil, 3/54 no. 592", and says it is SHOHIH!!! So beware o wise men! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No. 19&amp;nbsp; (Hal.38 nr. 3) Hadits : “&lt;i&gt;Sholat Jum’at itu wajib bagi setiap Muslim&lt;/i&gt;” Al-Albani menganggap hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; dalam penyelidikannya dari De Mishkat Al-Masabih, 1/434 dan katanya; Perawi dari hadits ini bisa dipercaya, tetapi terputus sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Daud. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kalau begitu dia bertentangan dengan perkataannya dalam’ Irwa Al-Ghalil 3/54 nr. 592’ dan mengatakan hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;Shohih&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; ! &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hati-hatilah sedikit, wahai orang bijaksana !&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 20 : (* Pg. 38 no. 4 ) Al-Albani has made another contradiction. He has trusted Al-Muharrar ibn Abu Hurayra in one place and then weakened him in another. Al-Albani certifies in "Irwa al-Ghalil, 4/301" that Muharrar is a trustee with Allah's help, and Hafiz (Ibn Hajar) saying about him "accepted", is not accepted, and therefore the sanad is Shohih. He then contradicts himself in "Shohihah 4/156" where he makes the anad DAEEF by saying: "The narrators in the sanad are all Bukhari's (i.e.; used by Imam al-Bukhari) men, except for al-Muharrar who is one of the men of Nisai and Ibn Majah only. He was not trusted accept by Ibn Hibban, and that's why al-Hafiz Ibn Hajar did not trust him, Instead he only said 'accepted!'" So beware of this fraud!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.20:&amp;nbsp; (Hal. 38 nr. 4). Al-Albani membuat lagi kontradiksi. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dia disatu tempat &lt;i&gt;mempercayai &lt;/i&gt;Al-Muharrar ibn Abu Huraira kemudian ditempat lain dia &lt;i&gt;melemahkannya&lt;/i&gt;. Al-Albani menerangkan dalam Irwa Al-Ghalil 4/301 bahwa Al-Muharrar dengan bantuan Allah seorang yang &lt;i&gt;dapat dipercaya&lt;/i&gt; dan Hafiz (Ibnu Hajar) berkata mengenai dia “&lt;i&gt;dapat diterima&lt;/i&gt;”,&amp;nbsp;bahwa pernyataan ini (yaitu pernyataan Ibn Hajar--pent) tidak dapat diterima, dan oleh karenanya sanadnya Shohih. Maka dia (Albani) berlawanan dengan omongannya dalam Shohihah 4/156 yang mana dia melemahkan sanad sambil mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;” Para perawi dalam sanad itu semuanya adalah para perawi Imam Bukhori”, kecuali Al-Muharrar yang merupakan salah satu perawi Imam An-Nasa’i dan Ibn Majah saja. Ia tidak dipercaya kecuali hanya Ibn Hibban, dan karena sebab itulah Al-Hafidz Ibn Hajar tidak mempercayainya, hanya saja ia berkata ‘Dapat Diterima’! &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Berhati-hatilah dari penyimpangan ini !!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 21 : (* Pg. 39 no. 5 ) Hadith: Abdallah ibn Amr (Allah be pleased with him): "The Friday prayer is incumbent on whoever heard the call" (Abu Dawood). Al-Albani stated that this Hadith was HASAN in "Irwa al-Ghalil 3/58", he then contradicts himself by saying it is DAEEF in "Mishkatul Masabih 1/434 no 1375"!!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.21&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Hal. 39 nr. 5) Hadits: Abdullah ibn Amr ra. “ &lt;i&gt;Sholat Jumat wajib bagi orang yang sudah mendengar panggilan (adzan)”&lt;/i&gt; (Abu Daud). Al-Albani menyatakan hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;Hasan&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; dalam “Irwa Al-Ghalil 3/58”,&amp;nbsp; dan dia berlawanan dengan perkataannya yang menyatakan hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;dalam Mishkatul Masabih 1/434 nr. 1375 !&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 22 : (* Pg. 39 no. 6 )&amp;nbsp; Hadith: Anas ibn Malik (Allah be pleased with him) said that the Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) used to say : "Do not be hard on yourself, otherwise Allah will be hard on you. When a people were hard on themselves, then Allah was hard on them." (Abu Dawood) Al-Albani stated that this Hadith was DAEEF in his checking of "Mishkat, 1/64", but he then contradicts himself by saying that this Hadith is HASAN in "Ghayatul Maram, pg. 141"!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.22&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal. 39 nr. 6) Hadits : Anas ibn Malik ra. berkata&amp;nbsp; bahwa Rasulallah saw. telah bersabda: “&lt;i&gt;Janganlah keras terhadap dirimu, dengan demikian Allah juga akan keras terhadapmu, bilamana manusia keras terhadap dirinya maka Allah akan keras juga terhadap mereka&lt;/i&gt;”. (Abu Daud). Al-Albani menurut penyelidikannya di Mishkat 1/64, mengatakan bahwa hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt;.&lt;/u&gt; Tapi dia lalu berlawanan dengan perkataannya di&amp;nbsp; "Ghayatul Maram, hal. 141 bahwa hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;Hasan&lt;/u&gt; &lt;/i&gt;&amp;nbsp;!!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 23: (* Pg. 40 no. 7 ) Hadith of Sayyida Aisha (Allah be pleased with her): "Whoever tells you that the Prophet (Peace be upon him) used to urinate while standing, do not believe him. He never urinated unless he was sitting." (Ahmad, Nisai and Tirmidhi ) Al-Albani said that this sanad was DAEEF in "Mishkat 1/117." He then contradicts himself by saying it is SHOHIH in "Silsilat al-Ahadith al-Shohihah 1/345 no. 201"!!! So take a glance dear reader! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.23&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.40 nr. 7) Hadits dari ‘Aisyah ra : “&lt;i&gt;Siapapun yang mengatakan bahwa Rasulallah saw biasa kencing dengan berdiri, janganlah dipercayai. Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan duduk”&lt;/i&gt; (Ahmad,Nasa’i dan Tirmidzi). Al-Albani dalam Mishkat 1/117 mengatakan sanad hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;lemah.&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; Dia bertentangan dengan perkataannya di “Silsilat Al-Ahadits al-Shohihah 1/345 nr.201”&amp;nbsp; bahwa hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;Shohih&lt;/u&gt; &lt;/i&gt;! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 24 : (* Pg. 40 no. 8 ) Hadith "There are three which the angels will never approach: The corpse of a disbeliever, a man who wears ladies perfume, and one who has had sex until he performs ablution" (Abu Dawood). Al-Albani corrected this Hadith in "Shohih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh, 3/71 no. 3056" by saying it was HASAN in the checking of "Al-Targhib 1/91" [Also said to be Hasan in the English translation of 'The Etiquettes of Marriage and Wedding, pg. 11]. He then makes an obvious contradiction by saying that the same Hadith was DAEEF in his checking of "Mishkatul-Masabih, 1/144 no. 464" and says that the narrators are trustworthy but the chain is broken between Al-Hasan al-Basri and Ammar (Allah be pleased with him) as al-Mundhiri had said in al-Targhib (1/91)!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.24&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.40 nr.8) Hadits : “&lt;i&gt;Tiga macam orang yang malaikat tidak mau mendekatinya : Mayit orang kafir, lelaki yang memakai minyak wangi wanita dan orang yang telah berhubungan sex &lt;/i&gt;(junub)&lt;i&gt; sampai dia bersuci&lt;/i&gt; ” (Abu Daud). Al-Albani telah membenarkan hadits ini dalam &lt;i&gt;Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh 3/71 nr. 3056&lt;/i&gt; dengan mengatakan hadits itu &lt;i&gt;&lt;u&gt;Hasan &lt;/u&gt;&lt;/i&gt;dalam penyelidikan dari &lt;i&gt;Al-Targhib 1/91 &lt;/i&gt;(juga mengatakan &lt;i&gt;Hasan &lt;/i&gt;dalam Terjemahannya kedalam bahasa Inggris “The Etiquettes of Marriage and Wedding, page 11). Dia membuat kontradiksi yang nyata dalam penyelidikannya dalam Mishkatul-Masabih 1/144 nr. 464 mengatakan hadits yang sama ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;Lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;, dan dia berkata bahwa perawi-perawinya patut di- percaya tapi rantai sanadnya terputus antara Hasan Basri dan Ammar&amp;nbsp; sebagaimana yang disebutkan juga oleh Al-Mundhiri dalam Al-Targhib 1/91 !! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 25 : (* Pg. 42 no. 10 ) It reached Malik (Rahimahullah) that Ibn Abbas (Allah be pleased with him) used to shorten his prayer, in distances such as between Makkah and Ta'if or between Makkah and Usfan or between Makkah and Jeddah. . . . Al-Albani has weakened it in "Mishkat, 1/426 no. 1351", and then contradicts himself by saying it is SHOHIH in "Irwa al-Ghalil, 3/14"!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.25&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal. 42 nr. 10) Telah sampai (riwayat) dari Malik rh “&lt;i&gt;bahwa Ibn Abbas ra. biasa menyingkat (menggashor) sholatnya dalam jarak antara Makkah dan Ta’if atau antara Makkah dan Usfan atau antara Makkah dan Jeddah&lt;/i&gt;.....”&amp;nbsp; Al-Albani telah &lt;i&gt;&lt;u&gt;melemahkannya&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;dalam Mishkat, 1/426 nr.1351, dan dia bertentangan dengan perkataannya di &lt;i&gt;Irwa al-Ghalil 3/14&lt;/i&gt; yang mengatakan ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;Shahih&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 26 : (* Pg. 43 no. 12 ) Hadith: "Leave the Ethiopians as long as they leave you, because no one takes out the treasure of the Ka'ba except the one with the two weak legs from Ethiopia ." Al-Albani has weakened this Hadith in his checking of "Mishkat 3/1495 no. 5429" by saying: "The sanad is DAEEF." But then he contradicts himself as is his habit, by correcting it in "Shohihah, 2/415 no. 772." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No. 26.&amp;nbsp; (Hal.43 nr.12) Hadits : “&lt;i&gt;Tinggalkan orang-orang Ethiopia selama mereka meninggalkanmu, sebab tidak ada orang yang mengambil barang berharga dari Ka’bah kecuali seorang Ethopia yang dua kakinya lemah&lt;/i&gt;” . Al-Albani dalam penyelidikannya di Mishkat 3/1495 nr. 5429 mengatakan sanadnya &lt;i&gt;&lt;u&gt;Lemah&lt;/u&gt;.&lt;/i&gt; Tapi sebagaimana biasa dia bertentangan dengan perkata- annya dengan &lt;i&gt;&lt;u&gt;membenarkannya&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;dalam Shahihah 2/415 nr. 772 !&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;An example of al-Albani praising someone in one place and then disparaging him in another place in his books&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Contoh (Sifat) dari Al-Albani ialah pertama memuji seseorang disatu tempat dibukunya dan dilain tempat mengecilkan orang tersebut.!!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 27 : (* Pg. 32 ) He praises Shaykh Habib al-Rahman al-Azami in the book 'Shohih al Targhib wa Tarhib, page 63', where he says: "I want you to know one of the things that encouraged me to. . . . which has been commented by the famous and respected scholar Shaykh Habib al-Rahman al-Azami" . . . . And he also said on the same page, "And what made me more anxious for it, is that its checker, the respected Shaykh Habib al-Rahman al-Azami has announced. . . ." Al-Albani thus praises Shaykh al-Azami in the above mentioned book; but then makes a contradiction in the introduction to 'Adaab uz Zufaaf (The Etiquettes of Marriage and Wedding), new edition page 8', where he said: "Al-Ansari has used in the end of his letter, one of the enemies of the Sunnah, Hadith and Tawhid, who is famous for that, is Shaykh Habib al-Rahman al-Azami. . . . . For his cowardliness and lack of scholarly deduction. . . .." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.27: (Hal. 32) Dia (Albani) memuji Syeikh Habib al-Rahman al-Azami didalam &lt;i&gt;Shahih al Targhib wa Tarhib hal. 63&lt;/i&gt; yang mana katanya ; “Saya ingin agar engkau mengetahui satu dari beberapa hal bahwa saya memberanikan diri untuk....yang dikomentari oleh ulama yang terkenal dan terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami “.... dan dia (Albani) mengatakan pada halaman yang sama “Dan apa yang membuat saya lebih senang dalam hal ini, bahwa kajian serta hasil penelitian ini ditanggapi (dengan baik--pen.) oleh yang terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami “. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Albani memuji Syeikh al-Azami dalam buku yang tersebut diatas. Tapi kemudian membuat &lt;i&gt;penyangkalan&lt;/i&gt; dalam &lt;i&gt;‘Adaab uz Zufaaf&lt;/i&gt; (Akhlak Perkawinan dan Pernikahan), edisi baru hal.8 yang dia berkata;&amp;nbsp; “Al-Ansari telah membiasakan akhir dari tulisannya, salah satu musuh dari Sunnah, Hadits dan Tauhid, yang cukup terkenal, ialah Syaikh Habib al-Rahman al-Azami ...karena sikap pengecutnya dan kekurangan ilmunya...”.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;NB &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;- (The above quotation from Adaab uz Zufaaf is not found in the English translation by his supporters, which shows that they deliberately avoided translating certain parts of the whole work). So have a glance at this!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;NB&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;: (Kutipan diatas dari &lt;i&gt;‘Adaab uz Zufaaf&lt;/i&gt; , tidak terdapat didalam terjemahan bahasa Inggris oleh pendukung-pendukungnya, yang mana menunjukkan bahwa mereka dengan sengaja tidak mau menterjemahkan bagian-bagian tertentu). Oleh karena itu perhatikan penyimpangan ini, Wahai para pembaca yang mulia! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;SELECTED TRANSLATIONS FROM VOLUME 2 &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Terjemahan-terjemahan pilihan dari jilid (volume) 2&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 28 : (* Pg. 143 no. 1 ) Hadith of Abi Barza (Allah be pleased with him): "By Allah, you will not find a man more just than me" (Sunan al-Nisai, 7/120 no. 4103). Al-Albani said that this Hadith was SHOHIH in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 6/105 no. 6978", and then he astonishingly contradicts himself by saying it is DAEEF in "Daeef Sunan al-Nisai, pg. 164 no. 287." So beware of this mess! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.28&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.143 nr.1) Hadits dari Abi Barza ra: &lt;i&gt;“ Demi Allah, Engkau tidak akan menemukan seorang&amp;nbsp; lebih benar dari saya “(&lt;/i&gt;Sunan Al-Nisai 7/120 nr. 4103) Al-Albani berkata bahwa hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;Shohih&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;dalam &lt;i&gt;Shohih Al-Jami wa Ziyadatuh 6/105 nr.6978 &lt;/i&gt;dan kemudian lebih mengherankan dia bertentang- an dengan perkataannya dalam Daeef Sunan Al-Nisai hal. 164 nr. 287 yang mengatakan itu &lt;i&gt;&lt;u&gt;Lemah&lt;/u&gt;.&lt;/i&gt; HATI-HATILAH DARI PENGACAUN INI ! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 29 : (* Pg. 144 no. 2 ) Hadith of Harmala ibn Amru al-Aslami from his Uncle: "Throw pebbles at the Jimar by putting the extremity of the thumb on the fore-finger." (Shohih Ibn Khuzaima, 4/276-277 no. 2874) Al-Albani acknowledged its weakness in "Shohih Ibn Khuzaima" by saying that the sanad was DAEEF, but then contradicts himself by saying it is SHOHIH in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923!" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 29&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal. 144 nr. 2) Hadits dari Harmala ibn Amru al-Aslami dari pamannya: “&lt;i&gt;Letakkanlah batu kerikil pada ujung ibu jari diatas jari depan (telunjuk) pada lemparan &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;jumrah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; “ (Shohih Ibn Khuzaima, 4/276-277 nr.2874). Al-Albani memberitahu kelemahan ini (hadits) dalam Shohih Ibn Khuzaima sambil mengatakan sanad hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;Lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;, tapi kemudian dia bertentangan sendiri&amp;nbsp; yang mengatakan &lt;i&gt;&lt;u&gt;Shohih&lt;/u&gt; &lt;/i&gt;dalam "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923 !" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 30 : (* Pg. 144 no. 3 ) Hadith of Sayyidina Jabir ibn Abdullah (Allah be pleased with him): "The Prophet (Peace be upon him) was asked about the sexually defiled [junubi]. . . can he eat, or sleep. . . He said :'Yes, when this person makes wudhu.'" (Ibn Khuzaima no. 217 and Ibn Majah no. 592). Al-Albani has admitted its weakness in his comments on "Ibn Khuzaima, 1/108 no. 217", but then contradicts himself by correcting the above Hadith in "Shohih Ibn Majah, 1/96 no. 482 "!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 30&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal. 144 nr.3) Hadits dari Sayyidina Jabir ibn Abdullah ra. : &lt;i&gt;“Rasulallah saw. ditanyai tentang Junub (orang yang belum suci setelah bersetubuh) ...apa boleh dia makan atau tidur...Beliau saw. bersabda : Boleh, bila orang ini wudu dahulu “&lt;/i&gt; (Ibn Khuzaima nr. 217 dan Ibn Majah nr.592). Al-Albani telah mengikrarkan &lt;i&gt;&lt;u&gt;kelemahannya&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; didalam komentarnya di Ibn Khuzaima 1/108 nr. 217, Tetapi kemudian kontradiksi sendiri dengan &lt;i&gt;&lt;u&gt;membenarkan&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;hadits tersebut dalam Shohih Ibn Majah 1/96 nr. 482). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 31 : (* Pg. 145 no. 4 ) Hadith of Aisha (Allah be pleased with her): "A vessel as a vessel and food as food" (Nisai, 7/71 no. 3957). Al-Albani said that it was SHOHIH in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 2/13 no. 1462", but then contradicts himself in "Daeef Sunan al-Nisai, no. 263 pg. 157", by saying it is DAEEF!!!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No. 31&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.145 nr.4)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits dari Aisyah ra ; “ &lt;i&gt;Perahu sebagai perahu (berlayar) dan makanan sebagai makanan&lt;/i&gt; “ (Nasai 7/71 nr. 3957). Al-Albani mengatakan hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;Shohih&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; dalam Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/13 nr.1462, tetapi kemudian menyangkal sendiri dengan mengatakan &lt;i&gt;&lt;u&gt;Lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;dalam Daeef Sunan al-Nisai nr. 263 hal. 157. !!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 32 : (* Pg. 145 no. 5 ) Hadith of Anas (Allah be pleased with him): "Let each one of you ask Allah for all his needs, even for his sandal thong if it gets cut." Al-Albani said that the above Hadith was HASAN in his checking of "Mishkat, 2/696 no. 2251 and 2252", but then contradicts himself in "Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 5/69 no. 4947 and 4948"!!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 32&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.145 nr. 5) Hadits dari Anas ra : &lt;i&gt;“Mintalah setiap kamu pada Allah semua yang engkau butuhkan walaupun mengenai tali sandalnya bila telah putus”&lt;/i&gt; Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini &lt;i&gt;Hasan&lt;/i&gt; dalam penyelidik- annya di Mishkat 2/696 nr. 2251 dan 2252, tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam Daeef al-jami wa Ziyadatuh 5/69 nr. 4947 dan 4948 !! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 33 : (* Pg. 146 no. 6 ) Hadith of Abu Dharr (Allah be pleased with him): "If you want to fast, then fast in the white shining nights of the 13th, 14th and 15th." Al-Albani declared it to be DAEEF in "Daeef al-Nisai, pg. 84" and in his comments on "Ibn Khuzaima, 3/302 no. 2127", but then contradicts himself by calling it SHOHIH in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 2/10 no. 1448" and also corrected it in "Shohih al-Nisai, 3/902 no. 4021"!! So what a big contradiction! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;NB- (Al-Albani mentioned this Hadith in 'Shohih al-Nisai' and in 'Daeef al-Nisai', which proves that he is unaware of what he has and is classifying, how inept!). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No. 33 (Hal.146 nr.6) Hadits dari Abu Dzar ra : “&lt;i&gt;Bila engkau ingin berpuasa, maka puasalah pada bulan purnama tanggal 13, 14 dan 15&lt;/i&gt; “ . &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Albani menyatakan hadits ini &lt;i&gt;&lt;u&gt;Lemah&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;dalam Daeef al-Nisai hal. 84 dan dalam komentarnya di Ibn Khuzaima 3/302 nr. 2127. Tetapi kemudian kontradiksi sendiri yang menyebutnya &lt;i&gt;&lt;u&gt;Shohih &lt;/u&gt;&lt;/i&gt;dalam Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/10 nr. 1448 dan pula membenarkan itu dalam Shohih al-Nisai&amp;nbsp; 3/902 nr. 4021 !!&amp;nbsp; Ini adalah kontradiksi yang besar ! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;NB: (Al-Albani menyebutkan hadits ini dalam &lt;i&gt;Shohih al-Nisai&lt;/i&gt; dan dalam &lt;i&gt;Daeef al-Nisai&lt;/i&gt;, ini semua menunjukkan bahwa dia tidak hati-hati/ceroboh atas apa yang telah dia perbuat, semuanya tidak layak)&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 34 : (* Pg. 147 no. 7 )Hadith of Sayyida Maymoonah (Allah be pleased with her): "There is nobody who has taken a loan and it is in the knowledge of Allah. . . ." (Nisai, 7/315 and others). Al-Albani said in "Daeef al-Nisai, pg 190": "Shohih, except for the part al-Dunya." Then he contradicts himself in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/156", by saying that the whole Hadith is SHOHIH, including the al-Dunya part. So what an amazing contradiction!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.34&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal. 147 nr.7) Hadits dari Siti Maymunah ra ; &lt;i&gt;“ Tidak seorangpun yang menerima pinjaman dan itu (selalu)dalam pengetahuan Allah&lt;/i&gt;” (Nisai, 7/315 dan lain-lain). &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Albani berkata dalam Daeef al-Nisai hal.190 ; ‘&lt;i&gt;Shohih&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;&lt;u&gt;kecuali bagian&lt;/u&gt; al-Dunya’&lt;/i&gt;. Kemudian dia menayangkal sendiri dalam Shohih al Jami wa Ziyadatuh 5/156, dengan mengatakan bahwa &lt;i&gt;semua Hadits ini Shohih &lt;u&gt;termasuk bagian&lt;/u&gt; al-Dunya&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ini kontradiksi yang sangat menakjubkan !&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 35 : (* Pg. 147 no. 8 ) Hadith of Burayda (Allah be pleased with him): "Why do I see you wearing the jewellery of the people of hell" (Meaning the Iron ring), [Nisai, 8/172 and others. . .]. Al-Albani has said that it was SHOHIH in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/153 no. 5540", but then contradicts himself by saying it is DAEEF in "Daeef al-Nisai, pg. 230"!!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.35&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal. 147 nr. 8) &amp;nbsp;Hadits dari Buraidah ra: “&lt;i&gt;Mengapa saya melihat engkau memakai perhiasan dari penghuni neraka &lt;/i&gt;(Maksudnya cincin besi)”. (Nisai 8/172 dan lain-lainnya....). Al-albani telah mengatakan hadits in &lt;i&gt;&lt;u&gt;Shohih &lt;/u&gt;&lt;/i&gt;dalam Shahih al-jami wa Ziyadatuh 5/153 nr. 5540. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tetapi kemudian dia menyangkal sendiri dengan mengatakan &lt;i&gt;&lt;u&gt;Lemah&lt;/u&gt; &lt;/i&gt;dalam Daeef al-Nisai hal.230) !&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 36 : (* Pg. 148 no. 9 )Hadith of Abu Hurayra (Allah be pleased with him): "Whoever buys a carpet to sit on, he has 3 days to keep it or return it with a cup of dates that are not brownish in colour" (Nisai 7/254 and others). Al-Albani has weakened it with reference to the '3 days' part in "Daeef Sunan al-Nisai, pg. 186", by saying: "Correct, except for 3 days." But the 'genius' contradicts himself by correcting the Hadith and approving the '3 days' part in "Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/220 no. 5804". So wake up (al-Albani)!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.36&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal.148 nr. 9) Hadits dari Abu Huraira ra ; “ &lt;i&gt;Siapapun membeli permadani untuk diduduki, dia mempunyai waktu tiga hari untuk menyimpan- nya atau mengembalikannya dalam beberapa waktu selama warnanya tidak menjadi coklat &lt;/i&gt;(karena kotor) ”. (Nisai 7/254 dan lain-lainya). Al-Albani telah &lt;i&gt;melemahkan&lt;/i&gt; hadits ini pada bagian “tiga hari” dengan menyebut referensi- nya dalam Daeef Sunan al-nisai hal. 186, sambil katanya “&lt;i&gt;Benar/Shohih kecuali kata-kata tiga hari”.&lt;/i&gt;Tetapi ‘orang cerdik ini’ menyangkal sendiri dengan membenarkan hadits itu dan termasuk bagian kata-kata “&lt;i&gt;tiga hari&lt;/i&gt;” dalam Shohih al-jami wa Ziyadatuh 5/220 nr. 5804“. Bangunlah hai al-Albani! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 37 : (* Pg. 148 no. 10 )Hadith of Abu Hurayra (Allah be pleased with him): "Whoever catches a single rak'ah of the Friday prayer has caught (the whole prayer)." (Nisai 3/112, Ibn Majah 1/356 and others). Al-Albani has weakened it in "Daeef Sunan al-Nisai, no. 78 pg. 49", where he said: "Abnormal (shadh), where Friday is mentioned." He then contradicts himself by saying SHOHIH, including the Friday part in "Irwa, 3/84 no. 622 ." May Allah heal you! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.37&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Hal. 148 nr.10) Hadits Abu Hurairah ra : “Siapapun yang mendapati satu raka’at dari Sholat Jum’at itu telah memadainya&amp;nbsp;&lt;i&gt; (&lt;/i&gt;untuk semua sholat)”. (Nisai 3/112, Ibn Majah 1/356 dan lain-lainnya). Al-Albani telah &lt;i&gt;&lt;u&gt;melemahkan&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; ini dalam Daeef Sunan al-Nisai, nr. 78 hal. 49, dimana dia telah berkata; ‘Luar biasa (shadh), bilamana disitu disebutkan hari jumat’. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kemudian dia kontradiksi sendiri dengan mengatakan &lt;i&gt;&lt;u&gt;Shohih termasuk bagian hari Jum’at&lt;/u&gt; &lt;/i&gt;dalam Irwa, 3/84 nr. 622 !!&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Semoga Allah menyembuhkanmu !&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;AL-Albani and his Defamation and Authentication of Narrators at will !&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Albani dan Fitnahannya Dan Perawi-perawi yang dipercaya kesenangannya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;!&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 38 : (* Pg 157 no 1 ) KANAAN IBN ABDULLAH AN-NAHMY :- Al-Albani said in his "Shohihah, 3/481" : "Kanaan is considered Hasan, for he is attested by Ibn Ma'een." Al-Albani then contradicts himself by saying, "There is weakness in Kanaan" (see "Daeefah, 4/282")!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 38:&amp;nbsp; (Hal. 157 nr.1) Kanan Ibn Abdullah An-Nahmy:&amp;nbsp; Al-Albani berkata dalam Shohihah, 3/481 ; “Kanaan telah dianggap sebagai Hasan, untuk itu telah dinyatakan oleh Ibn Ma’een. Kemudian Al-Albani menyangkal sendiri dengan katanya “Ada kelemahan pada Kanaan”(lihat Daeefah, 4/282) !!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 39 : (* Pg. 158 no. 2 ) MAJA'A IBN AL-ZUBAIR :- Al-Albani has weakened Maja'a in "Irwa al-Ghalil, 3/242", by saying, "This is a weak sanad because Ahmad has said: 'There is nothing wrong with Maja'a', and Daraqutni has weakened him. . ." Al-Albani then made a contradiction in his "Shohihah, 1/613" by saying: "His men (the narrators) are trusted except for Maja'a who is a good narrator of Hadith." An amazing contradiction! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 39: (Hal.158. nr.2) Maja’a Ibn Al-Zubair : Al-Albani telah melemahkan Maja’a dalam Irwa al-Ghalil, 3/242, dengan katanya. “ Ini adalah sanad yang lemah sebab Ahmad telah berkata ‘ Tidak ada kesalahan dengan Maja’a, dan Daraqutni telah melemahkan dia...’”. Al-Albani telah membuat kontradiksi dalam bukunya Shohihah 1/613 dengan mengatakan “ Perawi-perawinya bisa dipecaya kecuali Maja’a, itu seorang perawi hadits yang baik”. Suatu pertentangan yang menakjubkan!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 40 : (* Pg. 158 no. 3 ) UTBA IBN HAMID AL-DHABI :- Al-Albani has weakened him in "Irwa al-Ghalil, 5/237" by saying: "And this is a weak (Daeef) sanad which has three defects. . . . the second defect is the weakness of al-Dhabi, the Hafiz said: 'A truthful narrator with hallucinations'". Al-Albani then makes an obvious contradiction in "Shohihah, 2/432", where he said about a sanad which mentions Utba: "And this is a good (Hasan) sanad, Utba ibn Hamid al-Dhabi is trustworthy but has hallucinations, and the rest of the narrators in the sanad are trusted." !!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 40:&amp;nbsp;&amp;nbsp;(Hal. 158 nr.3) Utba Ibn Hamid Al-Dhabi; Al-Albani telah melemahkan dia dalam Irwa al-Ghalil 5/237 sambil katanya ; “ Dan ini adalah sanad &lt;i&gt;lemah &lt;/i&gt;yang mempunyai tiga kekurangan....(salah satunya) adalah kekurangan yang kedua karena lemahnya al-Dhabi, Al-Hafiz berkata; ‘ Seorang perawi jujur dengan khayalan’ . Kemudian Al-Albani&amp;nbsp; membuat kontradiksi yang nyata dalam Shohihah 2/432, dimana dia berkata tentang sanad yang menyebut Utba; “Dan ini sanad yang &lt;i&gt;baik&lt;/i&gt;, Utba ibn Hamid al-Dhabi dapat dipercaya namun sering salah, dan selebihnya dalam sanad ini adalah para perawi yang terpercaya” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 41: (* Pg. 159 no. 4 )HISHAM IBN SA'AD :- Al-Albani said in his "Shohihah, 1/325": "Hisham ibn Sa'ad is a good narrator of Hadith." He then contradicts himself in "Irwa al-Ghalil, 1/283" by saying: "But this Hisham has a weakness in memorizing" So what an amazement !! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 41&amp;nbsp;&amp;nbsp;(Hal. 159 nr. 4) Hisham Ibn Sa’ad ; Al-Albani berkata dalam Shohihah 1/325; “ Hisham ibn sa’ad ialah &lt;i&gt;perawi hadits yang baik&lt;/i&gt;”. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kemudian dia bertentangan sendiri dalam Irwa al-Ghalil 1/283 sambil katanya ; “Tapi Hisham ini &lt;i&gt;lemah dalam hafalan&lt;/i&gt;”. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sesuatu yang mengherankan !!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 42 : (* Pg. 160 no. 5 ) UMAR IBN ALI AL-MUQADDAMI :- Al-Albani has weakened him in "Shohihah, 1/371", where he said: "He in himself is trusted but he used to be a very bad forger, which makes him undependable. . . ." Al-Albani then contradicts himself again in "Shohihah, 2/259" by accepting him and describing him as being trustworthy from a sanad which mentions Umar ibn Ali. Al-Albani says: "Classified by Hakim, who said: 'A Shohih Isnad (chain of transmission)', and al-Dhahabi went along with it, and it is as they have said." So what an amazement !!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.42:&amp;nbsp;&amp;nbsp;(Hal.160 nr. 5) Umar Ibn Ali Al-Muqaddami ; Al-albani telah melemah- kan dia dalam Shohihah 1/371, dimana dia berkata ; “Ia sendiri sebetulnya adalah terpercaya tapi dia sebagai &lt;i&gt;Pemalsu yang sangat jelek&lt;/i&gt;, yang membuatnya tidak terpercaya...”.&amp;nbsp; Al-Albani membuat kontradiksi baru lagi dalam Shohihah 2/259 mengakui dia (Umar ibn Ali) dan mengatakan bila ada sanad yang menyebut Umar Ibn Ali maka &lt;i&gt;bisa dipercayainya&lt;/i&gt;. Al-Albani berkata “ Dinilai oleh Hakim yang mana berkata : “Shohih isnadnya” (rantaian perawinya) dan Al-Dhahabi mengakuinya juga dan ini yang mereka (berdua) katakan (hadits benar/shohih--pen)“. Ini sangat mengherankan !!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 43: (* Pg. 160 no. 6 )ALI IBN SA'EED AL-RAZI :- Al-Albani has weakened him in "Irwa, 7/13", by saying: "They have said nothing good about al-Razi." He then contradicts himself in another 'fantastic' book of his, "Shohihah, 4/25", by saying: "This is a good (Hasan) sanad and the narrators are all trustworthy." So beware !!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No.43:&amp;nbsp;(Hal. 160. nr. 6) Ali Ibn Sa’eed Al-Razi ; Al-Albani telah &lt;i&gt;melemahkan &lt;/i&gt;dia dalam Irwa 7/13, dengan katanya : “Mereka tidak mengatakan sesuatu yang baik tentang al-Razi” Dia kemudian menyangkal sendiri&amp;nbsp; dalam ‘buku lain nya yang&amp;nbsp; ‘indah/hebat’ Shohihah, 4/25, sambil mengatakan “Ini adalah (Hasan) sanadnya dan para perawinya &lt;i&gt;dapat dipercaya&lt;/i&gt;”. Berhati-hatilah!!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 44: (* Pg. 165 no. 13 ) RISHDIN IBN SA'AD :- Al-Albani said in his "Shohihah, 3/79" : "In it (the sanad) is Rishdin ibn Sa'ad, and he has been declared trustworthy." But then he contradicts himself by declaring him to be DAEEF in "Daeefah, 4/53"; where he said: "And Rishdin ibn Sa'ad is also daeef." So beware!!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 44: (Hal. 165 nr. 13) Rishdin Ibn Sa’ad : Al-Albani berkata dalam Shohihah 3/79 : “ Didalam (sanad)nya ada Rishdin ibn Sa’ad, dan dia telah menyatakan &lt;i&gt;bisa dipercaya&lt;/i&gt;”. Tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam penyataan nya yang mengatakan &lt;i&gt;Lemah&lt;/i&gt; tentang dia (Rishdin) dalam Daeefah 4/53, dimana dia berkata : “dan Rishdin ibn Sa’ad ini juga &lt;i&gt;lemah &lt;/i&gt;“. Berhati-hatilah!!&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 45: (* Pg. 161 no. 8 ) ASHAATH IBN ISHAQ IBN SA'AD :- What an amazing fellow this Shaykh!! Al-Albani!! Proves to be. He said in "Irwa al-Ghalil, 2/228": "His status is unknown, and only Ibn Hibban trusted him." But then he contradicts himself by his usual habit! Because he only transfers from books and nothing else, and he copies without knowledge; this is proven in "Shohihah, 1/450", where he said about Ashaath: "Trustworthy". So what an amazement !!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 45 (Hal. 161 nr. 8) &amp;nbsp;Ashaath Ibn Ishaq Ibn Sa’ad : Betapa mengherankan lelaki (Al-Albani) ini!! Terbukti, dia berkata dalam Irwa al-Ghalil 2/228, “Keadaannya/statusnya &lt;i&gt;tidak dikenal&lt;/i&gt;, dan hanya Ibn Hibban mempercayai dia”. Tetapi kemudian dia bertentangan sendiri, seperti kebiasaannya! Karena dia hanya mengalihkan/menyalin dari buku-buku dan tidak hal lain yang ia lakukan, dan dia mengutip/menyalin tanpa adanya ilmu pengetahuan. Ini dibukti kan dalam Shohihah 1/450, dimana dia berkata tentang Ashaath &lt;i&gt;‘Dapat Dipercaya’.&lt;/i&gt; Keajaiban yang luar biasa! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Nr.46: (* Pg. 162 no. 9 ) IBRAHIM IBN HAANI :- The honourable!! The genius!! The copier!! Has made Ibrahim ibn Haani trustworthy in one place and has then made him unknown in another. Al-Albani said in 'Shohihah, 3/426': "Ibrahim ibn Haani is trustworthy", but then he contradicts himself in "Daeefah, 2/225", by saying that he is unknown and his Ahadith are refused!!&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 46:&amp;nbsp;&amp;nbsp;(Hal.162 nr.9) Ibrahim Ibn Haani : “Paling terhormat ! Paling Pandai ! Tukang Menyalin ! Dia (Albani) telah membuat Ibn Haani ‘&lt;i&gt;dapat dipercaya&lt;/i&gt;‘ disatu tempat dan membuat dia ‘&lt;i&gt;tidak dikenal’&lt;/i&gt;(majhul) ditempat lainnya.. Al-Albani berkata dalam Shohihah 3/426; “ Ibrahim ibn Haani ialah &lt;i&gt;dapat dipercaya&lt;/i&gt;”, tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam Daeefah, 2/225 dengan katanya “bahwa dia itu &lt;i&gt;tidak dikenal&lt;/i&gt; dan haditsnya itu tertolak “!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 47: (* Pg. 163 no. 10 ) Al-Ijlaa Ibn Abdullah Al-Kufi : Al-Albani has corrected a sanad by saying it is good in "Irwa, 8/7", with the words: "And its sanad is good, the narrators are trustworthy, except for Ibn Abdullah al-Kufi who is truthful." He then contradicts himself by weakening the sanad of a Hadith where al-Ijlaa is found and has made him the reason for declaring it DAEEF (see 'Daeefah, 4/71'); where he said: "Ijlaa ibn Abdullah has a weakness." Al-Albani then quoted Ibn al-Jawzi's (Rahimahullah) words by saying: "Al-Ijlaa did not know what he was saying ."!!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 47:&amp;nbsp;(Hal. 163 nr. 10) Al-Ijlaa Ibn Abdullah Al-Kufi ; Al-Albani telah meneliti sebuah sanad kemudian menyatakan bahwa sanad tersebut baik dalam kitab “Irwa, 8/73 , dengan kalimat : ”Dan ini adalah sanad yang baik, para perawinya terpercaya, kecuali untuk Ibn Abdullah Al-Kufi yang merupakan orang yang terpercaya”.Dia kemudian kontradiksi sendiri dengan &lt;i&gt;melemahkan sanad&lt;/i&gt; dari hadits yang didalamnya terdapat Al-Ijla dan membuat alasan baginya&amp;nbsp; untuk menyatakannya &lt;i&gt;lemah&lt;/i&gt; (Daeefah 4/71), dimana dia berkata: “Ijlaa ibn Abdullah adalah &lt;i&gt;mempunyai kelemahan&lt;/i&gt;“. Al-Albani menukil kata-kata Ibn al-Jawzi’s (Rahimahullah) yang berkata; ‘Al-Ijlaa tidak mengetahui apa yang dia katakan’! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 48: (* Pg. 67-69 ) ABDULLAH IBN SALIH : KAATIB AL-LAYTH :- Al-Albani has criticised Al-Hafiz al-Haythami, Al-Hafiz al-Suyuti, Imam Munawi and the Muhaddith Abu'l-Fadl al-Ghimari (Allah's mercy be upon them) in his book "Silsilah al-Daeefah, 4/302", when checking a Hadith containing the narrator Abdullah ibn Salih. He says on page 300: "How could Ibn Salih be all right and his Hadith be good, even though he has got many mistakes and is of little awareness, which also made some fraudulent Hadiths enter his books, and he narrates them without knowing about them!" He has not mentioned that Abdullah ibn Salih is one of Imam al-Bukhari's men (i.e. used by al-Bukhari), because it does not suit his mode, and he does not state that Ibn Ma'een and some of the leading critics of Hadith have trusted him. Al-Albani has contradicted himself in other places in his books by making Hadiths containing Abdullah ibn Salih to be good, and here they are :- Al-Albani said in "Silsilah al-Shohihah, 3/229" : "And so the sanad is good, because Rashid ibn Sa'ad is trustworthy by agreement, and who is less than him in the men of Shohih, and there is also Abdullah ibn Salih who has said things that are unharmful with Allah's help!!"."&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Albani also said in "Shohihah, 2/406" about a sanad which contained Ibn Salih: "a good sanad in continuity." And again in "Shohihah, 4/647": "He's a proof with continuity”&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;NB- (Shaykh Saqqaf then continued with some important advice, this has been left untranslated for brevity but one may refer to the Arabic for further elaboration). By the grace of Allah, this is enough from the books of Shaykh Saqqaf to convince any seeker of the truth, let alone the common folk who have little knowledge of the science of Hadith. If anyone is interested for hundreds of other similar quotes from Shaykh Saqqaf, then I suggest you write to the following address to obtain his book Tanaqadat al-Albani al-Wadihat (The Clear Contradictions of al-Albani).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;No 48:&amp;nbsp;(Hal. 67-69) Abdullah Ibn Salih: Kaatib Al-Layth: Al-albani telah mengeritik Al-Hafiz al-Haitami, Al-Hafiz al-Suyuti, Imam Munawi dan ahli hadits Abu’l-Fadzl al-Ghimari (rh) dalam bukunya Silsilah al-Daeefah 4/302, ketika meneliti hadits yang didalamnya ada perawi Abdullah ibn Salih. Dia&amp;nbsp;(Albani) berkata pada halaman 300 ; “Bagaimana dapat Ibn Salih menjadi benar dan haditsnya menjadi bagus, dia sendiri sangat banyak membuat kesalahan dan ketelitiannya yang kurang, serta ia pernah memasukkan sejumlah hadis yang bermasalah dalam kitabnya, dan ia menukil hadis-hadis itu tanpa mengetahui (status --pen) darinya”. Dia (Albani) tidak menyebutkan bahwa Abdullah Ibn Salih ialah salah satu orang dari perawi Imam Bukhori (yaitu yang digunakan oleh Bukhori), karena (Albani) tidak cocok dengan seleranya, dan dia (Albani) tidak menyebutkan bahwa Ibn Ma’een dan beberapa kritikus dari hadits telah mempercayai dia (Abdullah Ibn Salih). Tetapi Al-Albani berlawanan dengan perkataannya sendiri, pada bagian lain dari kitabnya&amp;nbsp; telah mengatakan bahwa semua hadits yang diketengahkan Abdullah Ibn Salih sebagai hadis yang baik, dan inilah nukilannya :&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Albani berkata dalam de Silsilah Al-Shohihah, 3/229: “Dan sanad itu baik, karena Rashid ibn Saad telah disepakati (para ulama) dapat dipercaya dan siapakah yang lebih darinya sebagai perawi dari hadis Shohih, dan didalamnya terdapat Abdullah Ibn Salih yang pernah mengatakan sesuatu yang tidak mem&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;bahayakan dengan pertolongan Allah swt.!! Al-Albani juga berkata dalam “Sahihah, 2/4063&amp;nbsp; tentang sanad yang didalamnya terdapat Ibn Salih : “Sanad berkesinambungan yang baik”, dan ia katakan lagi dalam kitab “Shahihah 4/6473&amp;nbsp; : ”Hadisnya baik karena bersambung”.Wallahu a’lam. (Demikianlah seleksi tulisan Syeikh Saqqaf&amp;nbsp; yang kami susun dan kutip secara bebas dari terjemahan&amp;nbsp; bahasa Inggris yang berjudul Al-Albani’s Weakening of Some of Imam Bukhari and Muslim’s Ahadits).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;NB: (kemudian Syeikh Saggaf meneruskan dengan beberapa wejangan yang penting, demi keringkasan sengaja tidak diterjemahkan, tetapi bila orang ingin merujuknya bisa lihat bahasa Arabnya. Dengan karunia Allah, ini telah cukup dari buku-buku Syeikh Saggaf untuk meyakinkan siapa saja yang mencari kebenaran, biarkan orang-orang itu sendiri&amp;nbsp; bersama-sama mengetahui sedikit tentang ilmu hadits. Bila ada orang tertarik untuk mendapatkan buku yang didalamnya ada ratusan kutipan yang serupa (tentang Al-Albani) yang berjudul &lt;i&gt;Tanaqadat Al-Albani Al-Wadihat, &lt;/i&gt;silahkan menulis kealamat: IMAM AL-NAWAWI HOUSE POSTBUS 925393 AMMAN JORDAN .) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Setelah kita menyimak berbagai contoh kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh ‘Yang Terhormat Al-Muhaddits Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani’ oleh ‘Al-Alamah Syeikh Muhamad&amp;nbsp; Ibn Ali Hasan As-Saqqaf’ dimana dalam kitabnya tersebut beliau menunjukkan ± 1200 kesalahan dan penyimpangan dari kitab-kitab yang ditulis oleh Syeikh Al-Albani, yang sebagian telah kami kemukakan tadi. Maka&amp;nbsp;bisa ditarik kesimpulan bahwa&amp;nbsp;ilmu hadits&amp;nbsp;tidak dapat digeluti oleh sembarang orang,&amp;nbsp; kecuali orang yang telah memenuhi kualifikasi sebagai seorang yang layak untuk menyandang gelar ‘&lt;i&gt;Al-Muhaddits’&lt;/i&gt; (Ahli Hadits) dan&amp;nbsp;memperoleh pendidikan formal dalam bidang ilmu hadits dari universitas-universitas Islam yang terkemuka dan ‘Para Masyaikh’ yang memang ahli dalam bidang ini. Dan Para Ulama telah menetapkan kriteria yang ketat agar hanya benar-benar &lt;i&gt;‘orang yang memang memenuhi kriteria sajalah’&lt;/i&gt; yang layak menyandang gelar ini seperti yang diungkapkan oleh &lt;i&gt;Imam Sakhowi&lt;/i&gt; tentang siapa Ahli Hadits (muhaddits) itu sebenarnya:&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Menurut sebagian Imam hadits, orang yang disebut dengan Ahli Hadits (Muhaddits) adalah orang yang pernah menulis hadits, membaca, mendengar, dan menghafalkan, serta mengadakan &lt;i&gt;rihlah&lt;/i&gt; (perjalanan) ke berbagai tempat untuk, mampu merumuskan beberapa aturan pokok (hadits)&amp;nbsp; dan mengkomentari cabang dari kitab &lt;i&gt;Musnad, Illat, Tarikh&lt;/i&gt; yang kurang lebih mencapai 1000 buah karangan. Jika demikian (syarat-syarat ini terpenuhi --pent) maka tidak di ingkari bahwa dirinya adalah ahli hadits. Tetapi jika ia sudah mengenakan jubah pada kepalanya, dan berkumpul dengan para penguasa pada masanya, atau menghalalkan (dirinya memakai --pent) perhiasan lu’lu’ (permata-pent) dan &lt;i&gt;marjan&lt;/i&gt; atau memakai pakaian yang berlebihan (pakaian yang berwarna-warni -pent). Dan hanya mempelajari hadits &lt;i&gt;Al-Ifki wa Al-Butan&lt;/i&gt;. Maka ia telah merusak harga dirinya, bahkan ia tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik dari juz atau kitab asalnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ia tidak pantas menyandang gelar seorang Muhaddits bahkan ia bukan manusia. Karena dengan kebodohannya ia telah memakan sesuatu yang haram. Jika ia menghalalkannya maka ia telah keluar dari Agama Islam”. ( Lihat Fathu Al-Mughis li Al-Sakhowi, juz 1hal. 40-41). &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sehingga yang layak menyandang gelar ini adalah &lt;i&gt;‘Para Muhaddits’&lt;/i&gt; generasi awal seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa’i, Imam Ibn Majah, Imam Daruquthni, Imam Al-Hakim Naisaburi, Imam Ibn Hibban dan lain-lain. Apakah tidak terlalu berlebihan (atau bahkan termasuk Ghuluw -pent) dengan menyamakan mereka (Imam Bukhari, Imam Muslim, imam Abu Dawud dkk --pent) dengan sebagian Syeikh yang tidak pernah menulis hadits, membaca, mendengar, menghafal, meriwayatkan, melakukan perjalanan mencari hadits atau bahkan memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu hadits yang mencapai seribu karangan lebih? Sehingga bukan Sunnah Nabi yang dibela dan ditegakkan, malah sebaliknya yang muncul adalah fitnah dan kekacauan yang timbul dari pekerjaan dan karya-karyanya, sebagaimana contoh-contoh diatas. Ditambah lagi dengan munculnya sikap arogan, dimana dengan mudahnya kelompok ini &lt;i&gt;menyalahkan&lt;/i&gt; dan bahkan &lt;i&gt;membodoh-bodohkan&lt;/i&gt; para Ulama, karena berdasar penelitiannya (yang hasilnya [tentunya] perlu dikaji dan diteliti ulang seperti sebagian contoh yang telah dikemukakan).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mereka &lt;i&gt;‘berani’&lt;/i&gt; menyimpulkan bahwa para &lt;i&gt;Ulama Salaf &lt;/i&gt;yang mengikuti salah satu Imam Madzhab ini berhujah dengan hadits-hadits yang &lt;i&gt;lemah&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;dhoif&lt;/i&gt; dan pendapat merekalah yang benar (walau pun klaim seperti itu tetaplah menjadi klaim saja, karena telah terbukti berbagai kesalahan dan penyimpangannya dari Al-Haq). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Oleh karena itu para ulama Salaf ,panutan umat, sudah memperingatkan kita akan kelompok orang yang seperti ini, diantara para ulama&amp;nbsp; adalah:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syeikh Abdul Ghofar seorang ahli hadits yang bermadzhab Hanafi menukil pendapat Ibn Asy-Syihhah ditambah syarat dari Ibn Abidin dalam Hasyiyah-nya, yang dirangkum dalam bukunya ‘&lt;i&gt;Daf’ Al-Auham An-Masalah AlQira’af Khalf Al-Imam’,&lt;/i&gt; hal. 15: “Kita melihat pada masa kita, banyak orang yang mengaku berilmu padahal dirinya tertipu. Ia merasa dirinya diatas awan, padahal ia berada dilembah yang dalam. Boleh jadi ia telah mengkaji salah satu kitab dari enam kitab hadits (kutub As-Sittah), dan ia menemukan satu hadits yang bertentangan dengan madzhab Abu Hanifah, lalu berkata buanglah madzhab Abu Hanifah ke dinding dan ambil hadits Rasulallah saw.. Padahal hadits ini telah mansukh atau bertentangan dengan hadits yang sanadnya lebih kuat dan sebab lainnya sehingga hilanglah kewajiban mengamalkannya, dan dia tidak mengetahui. Bila pengamalan hadits seperti ini diserahkan secara mutlak kepadanya maka ia akan tersesat dalam banyak masalah dan tentunya akan menyesatkan banyak orang “.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Hafidh Ibn Abdil Barr meriwayatkan dalam &lt;i&gt;Jami’ Bayan Al-Ilmu&lt;/i&gt;, juz 2 hal.130, dengan sanadnya sampai kepada Al-Qodhi Al-Mujtahid Ibn Laila bahwa ia berkata: “Seorang tidak dianggap memahami hadits kalau ia tidak mengetahui mana hadits yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Qodhi Iyadh dalam &lt;i&gt;Tartib Al-Madarik&lt;/i&gt;, juz 2hal. 427; Ibn Wahab ber- kata: “Kalau saja Allah tidak menyelamatkanku melalui Malik dan Laits, maka tersesatlah aku. Ketika ditanya, mengapa begitu, ia menjawab, ‘Aku banyak menemukan hadits dan itu membingungkanku’. Lalu aku menyampaikannya pada Malik dan Laits, maka mereka berkata: ‘Ambillah dan tinggalkan itu’”. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Imam Malik berpesan kepada&amp;nbsp; kedua keponakannya (Abu Bakar dan Ismail, putra Abi Uwais); “Bukankah kalian menyukai hal ini (mengumpulkan dan mendengarkan hadits) serta mempelajarinya?, Mereka menjawab: ‘Ya’, Beliau berkata: ‘Jika kalian ingin mengambil manfaat dari hadits ini dan Allah menjadikannya bermanfaat bagi kalian, maka kurangilah kebiasaan kalian dan pelajarilah lebih dalam’”. Seperti ini pula Al-Khatib meriwayatkan dengan sanad- nya dalam &lt;i&gt;Al-Faqih wa Al-Mutafaqih&lt;/i&gt; juz II hal. 28.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Khatib meriwayatkan dalam kitabnya &lt;i&gt;Faqih wa Al-Mutafaqih&lt;/i&gt;, juz II halaman 15-19, suatu pembicaraan yang panjang dari Imam Al-Muzniy, pewaris ilmu Imam Syafi’i. Pada bagian akhir Al-Muzniy berkata: “Perhatikan hadits yang kalian kumpulkan.Tuntutlah Ilmu dari para fuqoha agar kalian menjadi ahli fiqh”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam kitab &lt;i&gt;Tartib Al-Madarik&lt;/i&gt; juz I halaman 66, dengan penjelasan yang panjang dari para Ulama Salaf tentang sikap mereka terhadap As-Sunnah, antara lain: &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;a) Umar bin Khattab berkata diatas mimbar: “Akan kuadukan kepada Allah orang yang meriwayatkan hadits yang bertentangan dengan yang diamalkan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;b).Imam Malik berkata: “Para Ahli Ilmu dari kalangan Tabi’in telah menyampaikan hadits-hadits, lalu disampaikan kepada mereka hadits dari orang lain, maka mereka &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;menjawab: ‘Bukannya kami tidak tahu tentang hal ini, tetapi pengamalannya yang benar adalah tidak seperti ini’ “ .&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;c). Ibn Hazm berkata: Abu Darda’ pernah ditanya: “Sesungguhnya telah sampai kepadaku hadits begini dan begitu (berbeda dengan pendapatnya-pent). Maka ia menjawab: ‘Saya pernah mendengarnya, tetapi aku menyaksikan pengamal- annya tidak seperti itu’ “ .&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;d). Ibn Abi zanad, “Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para Ulama dan Fuqoha untuk menanyai mereka tentang sunnah dan hukum-hukum yang diamalkan agar beliau dapat menetapkan. Sedang hadits yang tidak diamalkan akan beliau tinggalkan, walaupun diriwayatkan dari para perawi yang terpercaya”. Demikian perkataan Qodhi Iyadh.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;e). Al-Hafidz Ibn Rajab Al-Hambali dalam Kitabnya &lt;i&gt;Fadhl ‘Ilm As-Salaf ‘ala Kholaf&lt;/i&gt;’ hal.9, berkata: “ Para Imam dan Fuqoha Ahli Hadits sesungguhnya mengikuti hadits shohih jika hadits itu diamalkan dikalangan para sahabat atau generasi sesudahnya, atau sebagian dari mereka. Adapun yang disepakati untuk ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan, karena tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali atas dasar pengetahuan bahwa ia memang tidak diamalkan”.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sehingga cukuplah hadits dari baginda Nabi saw. berikut ini untuk mengakhiri kajian kita ini, agar kita tidak menafsirkan sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sebuah hadits yang artinya : “Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan &lt;i&gt;penipuan &lt;/i&gt;hingga pada masa itu para &lt;i&gt;pendusta&lt;/i&gt; dibenarkan, orang-orang &lt;i&gt;yang jujur didustakan,&lt;/i&gt; para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta bercelotehnya para &lt;i&gt;‘Ruwaibidhoh’&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada yang bertanya: ‘Apa itu ‘Ruwaibidhoh’? Beliau saw. menjawab: ‘Orang bodoh pandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak’ “. (HR. Al-Hakim jilid 4 hal. 512 No. 8439 — ia menyatakan bahwa hadits ini shohih; HR. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibn Majah jilid 2 hal. 1339 no. 4036; HR. Ahmad jilid 2 hal. 219, 338 No.7899, 8440; HR. Abi Ya’la jilid 6 hal. 378 no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18 hal. 67&amp;nbsp; No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7 hal. 284 dalam Majma’ Zawa’id).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Perhatikan peringatan Al-Hafidz Ibn Abdil Barr berikut ini: “Dikatakan oleh Al-Qodhi Mundzir, bahwa Ibn Abdil Barr mencela dua golongan, yang pertama, golongan yang tenggelam dalam ra’yu dan berpaling dari Sunnah, dan kedua, golongan yang sombong yang berlagak pintar padahal bodoh“.(me nyampaikan hadits, tetapi tidak mengetahui isinya --pent) (Dirangkum dari Jami’ Bayan Al-Ilm juz IIhal. 171).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syeikhul Islam Ibn Al-Qoyyim Al-Jawaziyah berkata dalam &lt;i&gt;I’lamu Al-Muwaqqi’in&lt;/i&gt; juz I hal. 44, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: “Jika sese orang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi saw., perbedaan sahabat dan tabi’in, maka ia tidak boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada &lt;i&gt;Ahli Ilmu&lt;/i&gt;, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar”.Demikianlah sebagian kecil (seleksi)&amp;nbsp;isi buku Syeikh Segaf tentang kesalahan-kesalahan Al-Albani dan keterangan para pakar hadits.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Nama-nama sebagian ulama pengeritik Al-Albani&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syekh Al-Albani sering&amp;nbsp;mengeritik dan mensalahkan para ulama lainnya diantaranya beliau mengeritik buku &lt;i&gt;Fiqih Sunnah&lt;/i&gt; oleh Sayyid Sabiq dan buku &lt;i&gt;At-Tajj Al Jaami’ Lil Ushuuli Fii Ahadadiitsir Rasuuli&lt;/i&gt; oleh Syeikh Manshur Ali Nashif Husaini. Al-Albani sering menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh para pakar hadits baik secara langsung maupun tidak langsung (silahkan&amp;nbsp;buka situs &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://www.abusalafy.wordpress.com/"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;www.abusalafy.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; ; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://www.salafytobat.wordpress.com/"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;www.salafytobat.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; dll.nya yang mengeritik faham salafi/wahabi)&amp;nbsp;. Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia selalu meniru kata-kata ulama pakar dalam menyelidiki suatu hadits yaitu&amp;nbsp; &lt;i&gt;Lam aqif ala sanadih &lt;/i&gt;artinya &lt;i&gt;saya tidak menemukan rantaian sanad nya&lt;/i&gt; atau kata-kata yang serupa!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Albani dalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Fatawa Al-Albani&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; halaman 432 mengatakan: “Saya katakan kepada mereka yang bertawassul dengan wali dan orang sholeh bahwa saya tidak segan sama sekali menamakan dan menghukum mereka sebagai &lt;i&gt;SESAT&lt;/i&gt; dari kebenaran.Tidak ada masaalah untuk menghukum mereka sebagai sesat dari kebenaran dan ini sejalan dengan firman Allah kepada nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran sebelum turunnya wahyu Ad-Dhuha ayat 73”. Jadi Al-Albani&amp;nbsp; menafsirkan surat Ad-Dhuha:7 bahwa Rasulallah saw. yang sesat, padahal tidak ada para mufassirin yang menafsirkan seperti sekte wahabi ini. Para Mufassirin &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tidak &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;menisbatkan kata Dhollan kepada Rasulallah saw. karena &lt;span style="color: black;"&gt;Nabi Muhammad saw. tidak pernah sesat dari kebenaran baik sebelum masa kenabian maupun sesudahnya. Para mufassirin menafsirkan ayat itu bahwa beliau saw. ketika itu belum mengetahui kandungan isi Al-Qur’an dan kitab lainnya, kemudian diberi petunjuk dan jalan keluar oleh Allah swt.. Beginipun juga menurut tafsiran Imam Qurtubi. Sedangkan dalam Al-qurán dan terjemahannya, yang dikeluarkan oleh Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-qurán Dept. Agama RI th.1979/1980 diterjemahkan oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, diartikan surat Ad-dhoha : 7 sebagai beikut:: “Dan Dia mendapati kamu (Muhamad)sebagai seorang yang &lt;/span&gt;&lt;i&gt;bingung &lt;/i&gt;(yaitu kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal, lalu Allah swt. menurunkan wahyu kepada Muhammad saw.), lalu Dia memberi&lt;span style="color: black;"&gt;kan petunjuk”.&amp;nbsp; Jadi kata dollan pada ayat Ad-Dhuha:7 itu bukan ditujukan kepada junjungan kita Muhammad saw.!!&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Para ulama yang mengeritik Syekh Al-Albani ini yang kami dapati dari internet diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana ahli hadits India yang bernama Habib al-Rahman al-A‘zami telah menulis buku yang berjudul al-Albani Shudhudhuh wa Akhta’uh (Kekhilafan dan Kesalahan Al-Albani) dalam empat jilid.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana Syria yang bernama Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buuti menulis dalam dua buku klasiknya yang berjudul al-Lamadhhabiyya Akhtaru Bid‘atin Tuhaddidu al-Shari‘a al-Islamiyya (“Not Following A School of Jurisprudence is the Most Dangerous Innovation Threatening Islamic Sacred Law”) dan al-Salafiyya Marhalatun Zamaniyyatun &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mubaraka La Madhhabun Islami (“The ‘Way of the Early Muslims’ Was A Blessed Historical Epoch, Not An Islamic School of Thought”).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana hadits dari Marokko yang bernama ‘Abd Allah ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari buku-bukunya yang berjudul e &lt;i&gt;Irgham al-Mubtadi‘ al-Ghabi bi Jawaz al-Tawassul bi al-Nabi fi al-Radd ‘ala al-Albani al-Wabi&lt;/i&gt;;&amp;nbsp; (“The Coercion of the Unintelligent Innovator with the Licitness of Using the Prophet as an Intermediary in Refutation of al-Albani the Baneful”), &lt;i&gt;al-Qawl al-Muqni‘ fi al-Radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi‘&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(“The Persuasive Discourse in Refutation of al-Albani the Innovator”), &lt;i&gt;dan Itqan al-Sun‘a fi Tahqiq Ma‘na al-Bid‘a&lt;/i&gt; (“Precise Handiwork in Ascertaining the Meaning of Innovation”).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana hadits dari Marokko yang bernama ‘Abd al-‘Aziz ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari bukunya berjudul &lt;i&gt;Bayan Nakth al-Nakith al-Mu‘tadi &lt;/i&gt;(“The Exposition of the Treachery of the Rebel”).&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana Hadits dari Syria yang bernama ‘Abd al-Fattah Abu Ghudda bukunya yang berjudul &lt;i&gt;Radd ‘ala Abatil wa Iftira’at Nasir al-Albani wa Sahibihi Sabiqan Zuhayr al-Shawish wa Mu’azirihima&lt;/i&gt; (“Refutation of the Falsehoods and Fabrications of Nasir al-Albani and his Former Friend Zuhayr al-Shawish and their Supporters”).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana hadits dari Mesir yang bernama Muhammad ‘Awwama&amp;nbsp; bukunya berjudul&amp;nbsp; &lt;i&gt;Adab al-Ikhtilaf&lt;/i&gt;&amp;nbsp; (“The Proper Manners of Expressing Difference of Opinion”).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana Mesir yang bernama Mahmud Sa‘id Mamduh buku-bukunya berjudul &lt;i&gt;Wusul al-Tahani bi Ithbat Sunniyyat al-Subha wa al-Radd ‘ala al-Albani&lt;/i&gt; (“The Alighting of Mutual Benefit and Confirmation that the Dhikr-Beads are a Sunna in Refutation of al-Albani”) dan &lt;i&gt;Tanbih al-Muslim ila Ta‘addi al-Albani ‘ala Shohih Muslim&lt;/i&gt; (“Warning to the Muslim Concerning al-Albani’s Attack on Shohih Muslim”).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana hadits dari Saudi Arabia yang bernama&amp;nbsp; Isma‘il ibn Muhammad al-Ansar buku-bukunya yang berjudul &lt;i&gt;Ta‘aqqubat ‘ala “Silsilat al-Ahadith al-Da‘ifa wa al-Mawdu‘a” li al-Albani &lt;/i&gt;(“Critique of al-Albani’s Book on Weak and Forged Hadiths”), &lt;i&gt;Tashih Sholat al-Tarawih ‘Ishrina Rak‘atan wa al-Radd ‘ala al-Albani fi Tad‘ifih&lt;/i&gt; (“Establishing as Correct the Tarawih Sholat in Twenty Rak‘as and the Refutation of Its Weakening by al-Albani”), dan &lt;i&gt;Ibahat al-Tahalli bi al-Dhahab al-Muhallaq li al-Nisa’ wa al-Radd ‘ala al-Albani fi Tahrimih&lt;/i&gt; (“The Licitness of Wearing Gold Jewelry for Women Contrary to al-Albani’s Prohibition of it”). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana Syria Badr al-Din Hasan Diab bukunya berjudul &lt;i&gt;Anwar al-Masabih ‘ala Zulumat al-Albani fi Sholat al-Tarawih&lt;/i&gt; (“Illuminating the Darkness of al-Albani over the Tarawih Prayer”). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Direktur dari Pensubsidian Keagamaan (The Director of Religious Endow- ments) di Dubai, yang bernama ‘Isa ibn ‘Abd Allah ibn Mani‘ al-Himyari buku bukunya yang berjudul &lt;i&gt;al-I‘lam bi Istihbab Shadd al-Rihal li Ziyarati Qabri Khayr al-Anam &lt;/i&gt;(“The Notification Concerning the Recommendation of Travelling to Visit the Grave of the Best of Creation) dan &lt;i&gt;al-Bid‘a Al-Hasana Aslun Min Usul al-Tashri‘&lt;/i&gt; (“The Excellent Innovation Is One of the Sources of Islamic Legislation”).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menteri Agama dan Subsidi dari Arab Emiraat (The Minister of Islamic Affairs and Religious Endowments in the United Arab Emirates) yang bernama Shaykh Muhammad ibn Ahmad al-Khazraji yang menulis artikel&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Albani: Tatarrufatuh&lt;/i&gt;&amp;nbsp; (“Al-Albani’s Extremist Positions”)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana dari Syria yang bernama Firas Muhammad Walid Ways dalam edisinya yang berjudul&amp;nbsp; &lt;i&gt;Ibn al-Mulaqqin’s Sunniyyat al-Jumu‘a al-Qabliyya&lt;/i&gt; (“The Sunna Prayers That Must Precede Sholat al-Jumu‘a”). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana Syria yang bernama Samer Islambuli bukunya yang berjudul&amp;nbsp; &lt;i&gt;al-Ahad, al-Ijma‘, al-Naskh.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana Jordania yang bernama As‘ad Salim Tayyim bukunya yang berjudul &lt;i&gt;Bayan Awham al-Albani fi Tahqiqihi li Kitab Fadl al-Sholat ‘ala al-Nabi&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sarjana Jordania Hasan ‘Ali al-Saqqaf menulis dua jilid yang berjudul &lt;i&gt;Tanaqudat al-Albani al-Wadiha fi ma Waqa‘a fi Tashih al-Ahadith wa Tad‘ifiha min Akhta’ wa Ghaltat&lt;/i&gt; (“Albani’s Patent Self-Contradictions in the Mistakes and Blunders He Committed While Declaring Hadiths to be Sound or Weak”), dan tulisan-tulisannya yang lain ialah &lt;i&gt;Ihtijaj al-Kha’ib bi ‘Ibarat man Idda‘a al-Ijma‘ fa Huwa Kadhib &lt;/i&gt;(“The Loser’s Recourse to the Phrase: ‘Whoever Claims Consensus Is a Liar!’”), &lt;i&gt;al-Qawl al-Thabtu fi Siyami Yawmal-Sabt&lt;/i&gt; (“The Firm Discourse Concerning Fasting on Saturdays”), &lt;i&gt;al-Lajif al-Dhu‘af&amp;nbsp; li al-Mutala‘ib bi Ahkam al-I‘tikaf&lt;/i&gt; (“The Lethal Strike Against Him Who Toys with the Rulings of I‘tikaf), &lt;i&gt;Shohih Sifat Sholat al-Nabi Sallallahu ‘alayhi wa Sallam&lt;/i&gt; (“The Correct Description of the Prophet’s Prayer “), I&lt;i&gt;‘lam al-Kha’id bi Tahrim al-Qur’an ‘ala al-Junub wa al-Ha’id&lt;/i&gt; (“The Appraisal of the Meddler in the Interdiction of the Qur’an to those in a State of Major Defilement and Menstruating Women”), &lt;i&gt;Talqih al-Fuhum al-‘Aliya&lt;/i&gt; (“The Inculcation of Lofty Discernment”), dan &lt;i&gt;Shohih Sharh al-‘Aqida al-Tahawiyya&lt;/i&gt; (“The Correct Explanation of al-Tahawi’s Statement of Islamic Doctrine”).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan masih banyak ulama berbeda madzhab yang mengeritik kekhilafan dan kesalahan Syekh Al-Albani dan pengikut madzhab Wahabi ini yang tidak tercantum disini. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kalau kita teliti, banyak ulama dari bermacam-macam madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali) mengeritik kekhilafan dan kesalahan ulama madzhab Wahabi, khususnya Syeikh al-Albani, maka kita akan bertanya sendiri apakah bisa beliau ini dikatagorikan sebagai Imam Muhadditsin (Imamnya para ahli hadits) pada zaman sekarang ini sebagaimana yang dijuluki oleh sebagian golongan Salafi/Wahabi? Memang ada ulama-ulama yang memuji Syekh Al-&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;Albani ini dan memuji ulama gologan Salafi/Wahabi lainnya, tapi ulama-ulama yang memuji ini semuanya &lt;i&gt;semadzhab dan sejalan&lt;/i&gt; dengan golongan Wahabi/Salafi !&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sudah tentu kita tidak jujur kalau mengatakan bahwa&amp;nbsp; &lt;i&gt;semua pendapat&lt;/i&gt;/ &lt;i&gt;faham&lt;/i&gt; golongan Salafi/Wahabi yang mengaku sebagai penerus akidah dari Ibnu Taimiyyah atau Muhammad Ibnul Wahhab ini salah dan disangkal oleh ulama pakar lainnya, tapi ada juga pendapat mereka mengenai syariat Islam &lt;i&gt;yang sepaham&lt;/i&gt; dengan madzhab lainnya. Yang sering disangkal tidak lain pendapatnya mengenai &lt;i&gt;tajsim dan tasybih&lt;/i&gt; Allah swt.(akidah tauhid) dengan makhluk-Nya, yang mana hal ini bertentangan dengan firman-firman Allah swt. dan sunnah Rasulallah saw.. Disamping itu yang sering disangkal juga oleh para ulama madzhab sunnah mengenai akidah dan pendapat mereka yang &lt;i&gt;membid’ahkan sesat&lt;/i&gt;, sampai-sampai berani mensyirikkan &lt;i&gt;tawassul, tabarruk&lt;/i&gt; pada pribadi orang baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, &lt;i&gt;ziarah kubur&lt;/i&gt;,&amp;nbsp; &lt;i&gt;peringatan keagamaan&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;kumpulan majlis dzikir&lt;/i&gt; dan lain sebagainya (baca keterangan tersendiri mengenai bab-bab ini). Padahal semuanya ini mustahab untuk diamalkan serta tidak keluar dari syariat agama malah banyak dalil shohih baik secara langsung maupun tidak secara langsung yang menganjurkan amalan-amalan tersebut. Setiap Muslim boleh memohon pertolongan dan bertawassul, bertabarruk kepada para Nabi, wali Allah didalam setiap urusan, baik yang gaib maupun yang materi, dengan menjaga dan memperhatikan syarat-syarat sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya atau akan diuraikan lebih rinci. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sekali lagi kami cantumkan sebagian judul buku dan nama-nama ulama yang mengeritik akidah atau keyakinan golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya, bukan ingin mencari kesalahan lawan atau ingin membongkar rahasia kekurangannya, tapi yang kami &lt;i&gt;sesalkan &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;sayangkan &lt;/i&gt;bahwa golongan Wahabi/Salafi ini sangat fanatik kepada golongannya sendiri, sehingga sering mensesat kan, mencela, mengkafirkan para ulama atau muslimin selain madzhabnya.&amp;nbsp; Mereka merasa yang paling pandai, murni dan.....dalam syari’at Islam !.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kita cukupkan sampai disini pembahasan mengenai seputar paham/ke yakinan golongan Wahabi/Salafi. Diskusi dengan mereka memerlukan waktu yang panjang dan membutuhkan kitab yang tersendiri. Para ulama telah membantah ajaran golongan Wahabi/Salafi didalam berpuluh-puluh kitab dan makalah yang mereka tulis. &lt;i&gt;‘Allamah Muhsin Amin&lt;/i&gt; telah membantah keyakinan-keyakinan Wahabi melalui syairnya yang panjang, yang terdiri dari 546 bait. Silahkan Anda rujuk di dalam kitabnya yang berjudul &lt;i&gt;Kasyf al-Irtiyab fi atba ‘i Muhammad bin Abdul Wahhab. &lt;/i&gt;Banyak sekali kitab ulama dari berbagai madzhab (Hanafi, Malik Syafii dan lain lain) yang menyangkal golongan Wahabi/Salafi. Sanggahan para ulama mengenai akidah para ulama golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya para pembaca bisa membuka situs bahasa Indonesia: &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://www.abusalafy.wordpress.com/"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;www.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;abusalafy.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; ; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://www.majlisrasulallah.com/"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;www.majlisrasulallah.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;., &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://www.salafytobat/"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;www.salafytobat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; dan lain sebagainya&lt;b&gt; &lt;/b&gt;dan dalam bahasa Inggris &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://www.ummah.net/Al_adaab/radd_ul_salafiyya.html"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;www.ummah.net/Al_adaab/radd_ul_salafiyya.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9035263491279041580-1881912656847893965?l=wahabi-selawat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/1881912656847893965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/1881912656847893965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahabi-selawat.blogspot.com/2010/09/siapakah-syekh-muhammad-nashirudin-al.html' title='Siapakah Syekh Muhammad Nashirudin al- Albani ?'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9035263491279041580.post-6050691265310651782</id><published>2010-09-23T07:02:00.000-07:00</published><updated>2010-09-23T07:02:59.601-07:00</updated><title type='text'>Kesimpulan singkat mengenai keterangan mengenai tajsim dan tasybih yang perlu dipahami</title><content type='html'>&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Di&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;mensi) ruang/tempat, waktu, dan kesadaran adalah makhluk Allah. Allah tidak dibatasi ruang, waktu dan kesadaran makhluk. Bukankah Allah swt. sendiri telah berfirman: &lt;i&gt;Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya’ &lt;/i&gt;(QS Asy-Syuura :11); ‘&lt;i&gt;Tiada Ia tercapai oleh penglihatan mata’&lt;/i&gt; (QS&amp;nbsp; Al-An’aam : 103);&amp;nbsp; ‘&lt;i&gt;Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan’&lt;/i&gt;.( QS Ash-Shaffaat:159) dan ayat-ayat lainnya. Ayat-ayat inilah sebagai &lt;i&gt;dalil yang kuat&lt;/i&gt; bahwa Allah swt. &lt;i&gt;tidak bisa disamakan atau disifatkan&lt;/i&gt; seperti makhluk-Nya. Nash-nash yang menyatakan &lt;i&gt;sifat&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;perbuatan Sang Pencipta&lt;/i&gt; tentunya harus dipahami dengan landasan dalil-dalil bahwa ruang, waktu, pikiran, dan kesadaran adalah &lt;i&gt;makhluk Allah,&lt;/i&gt; sehingga harus dipahami bahwa Allah swt. &lt;i&gt;bukan &lt;/i&gt;makhluk, memahami makna “&lt;i&gt;sifat atau perbuatan Allah&lt;/i&gt;” itu tentu dalam pengertian memahami sesuatu yang diluar batas ruang, waktu, dan kesadaran. Jika memahami ayat-ayat shifat itu memakai bahasa majazi/kiasan adalah sesuatu yang dibolehkan dan diajarkan oleh Nabi saw.. Hal ini paling baik karena untuk &lt;span style="color: black;"&gt;menghidari orang terjerumus dalam &lt;i&gt;mujassimah&lt;/i&gt;. Dengan meyakini ayat-ayat itu secara &lt;i&gt;dzohir&lt;/i&gt; atau lahirnya ayat tanpa menjelaskan maknanya bahwa Allah swt. bukan seperti makhluk-Nya (tidak terikat waktu, ruang dan lain sebagainya ) orang bisa&amp;nbsp; terjerumus kepada mujassimah.&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lebih mudahnya kami beri contoh, tatkala kita menyebutkan kata &lt;i&gt;‘Singa’&lt;/i&gt; –yaitu berupa kata tunggal– maka dengan serta merta terbayang di dalam benak kita seekor binatang buas yang hidup dihutan. Makna yang sama pun akan hadir di dalam benak kita manakala kata tersebut disebutkan dalam bentuk &lt;i&gt;tarkibi&lt;/i&gt; (susunan kata) yang tidak mengandung &lt;i&gt;qarinah&lt;/i&gt; (petunjuk) yang memaling kannya dari makna &lt;i&gt;ifradi &lt;/i&gt;(tunggal). Seperti kalimat yang berbunyi, &lt;i&gt;‘Saya melihat seekor singa sedang memakan mangsanya di hutan”.&lt;/i&gt; Kata Singa disini maknanya adalah sama yaitu bingatang buas. Sebaliknya, makna kata &lt;i&gt;singa&lt;/i&gt; akan berubah sama sekali apabila di dalam susunan kata (kalimat) kita mengatakan, ‘&lt;i&gt;Saya melihat singa sedang menyetir mobil ’.&lt;/i&gt; Maka yang dimaksud dari kata &lt;i&gt;singa&lt;/i&gt; yang ada didalam kalimat ini adalah arti kiasan yaitu seorang laki-laki pemberani, bukan berarti binatang buas. Inilah kebiasaan orang Arab didalam memahami perkataan. Manakala seorang penyair berkata; ‘&lt;i&gt;Dia menjadi singa atas saya, namun di medan perang dia tidak lebih hanya seekor burung onta yang lari karena suara terompet perang yang dibunyikan’.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dari syair ini kita dapat mengetahui bahwa kata &lt;i&gt;singa&lt;/i&gt; di atas tidak lain adalah seorang laki-laki yang berpura-pura berani di hadapan orang-orang yang lemah, namun kemudian lari sebagai seorang pengecut tatkala berhadapan dengan musuh dalam peperangan.&amp;nbsp;Orang yang mengerti perkataan ini, tidak mungkin akan menamakannya sebagai orang yang merubah kalimat dengan sesuatu yang keluar dari makna dzahir perkataan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga susunan kata seperti,&amp;nbsp; &lt;i&gt;‘Negeri ini berada didalam genggaman tangan Raja&lt;/i&gt;’. Orang akan memahami yang dimaksud kalimat ini ialah ‘Negeri ini berada dibawah &lt;i&gt;kekuasaan dan kehendak&lt;/i&gt; Raja’. Susunan kata ini tetap sesuai atau tetap diucapkan meskipun pada kenyataannya Raja tersebut &lt;i&gt;buntung tangannya&lt;/i&gt;. Jadi kata &lt;i&gt;‘genggaman tangan’&lt;/i&gt; dalam kalimat ini sebagai kata kiasan/majazi yang harus disesuaikan maknanya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikian juga halnya dengan ayat-ayat shifat Allah swt. (wajah-Nya, tangan-Nya, betis, turun, tertawa dan lain sebagainya) baik yang tertulis dalam Alqur’an maupun dalam Hadits, walaupun &lt;i&gt;dhahir tektsnya&lt;/i&gt; tetap tertulis di dalam Al-Qur’an dan Hadits, tetapi para sahabat dan ulama pakar menerangkan dan mensesuaikan maknanya dengan ke Maha Sucian dan keMaha Agungan-Nya atau diserahkan pe-makna-annya kepada Allah swt., untuk menghindari orang terjerumus dalam &lt;i&gt;mujassimah&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Disini kita juga harus mencermati dan memahami dengan benar perkataan para imam seperti Imam Syafi’i dan para imam lainnya yang selalu dinukil oleh &lt;i&gt;golongan Mujassimah&lt;/i&gt;. Apakah para imam itu menghendaki makna seperti golongan Mujassimah terjemahkan? Apakah jika para imam itu tidak melakukan takwil berarti mereka memaknainya seperti yang golongan Mujassimah terjemahkan?! Disinilah letak masalahnya! Para Ulama dalam menyikapi ayat-ayat/hadits-hadits shifat mempunyai beberapa tiga pendapat/aliran: &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;a).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Ada golongan ulama &lt;i&gt;mentafwidh&lt;/i&gt; artinya &lt;i&gt;tidak berkomentar&lt;/i&gt; apapun, tidak memberikan arti apapun tentangnya. Mereka menyerahkan pe-makna-annya kepada Allah swt.. Artinya para ulama golongan ini tidak mau melibat kan diri dalam menafsirkannya, tafsirnya adalah bacaannya itu! Jadi gologan ulama ini tidak memiliki aliran tapi mereka ini tidak berarti menjadi &lt;i&gt;menta’thil &lt;/i&gt;(menafikan) dari pensifatan! Itu hanya khayalan kaum &lt;i&gt;mujassimah&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;musyabbihah&lt;/i&gt; belaka!&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;b).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Ada golongan ulama yang menakwilkannya, dengan penakwilan tertentu yaitu memberikan penafsiran &lt;i&gt;yang sesuai dengan ke Mahasucian dan ke-Maha-agungan Allah swt.&lt;/i&gt;, ini dibolehkan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;c). Golongan lainnya lagi mengartikan kata-kata shifat itu dengan arti yang hakiki/sesungguhnya seperti kata: &lt;i&gt;Yanzilu&lt;/i&gt; diartikan &lt;i&gt;turun&lt;/i&gt; secara hakiki, Y&lt;i&gt;adun&lt;/i&gt; diartikan &lt;i&gt;tangan&lt;/i&gt; secara hakiki, &lt;i&gt;dhohika&lt;/i&gt; diartikan &lt;i&gt;tertawa&lt;/i&gt; secara hakiki dan begitu seterusnya, yang semuanya ini tidak lain menjurus kepada &lt;i&gt;tajsim &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;tasybih&lt;/i&gt; Allah swt. kepada Makhluk-Nya. Karena secara bahasa &lt;i&gt;dhahika&lt;/i&gt; itu tertawa, dan tertawa itu artinya jelas dalam kamus-kamus bahasa Indonesia maupun bahasa Arab. Kata &lt;i&gt;yanzilu&lt;/i&gt; secara bahasa artinya &lt;i&gt;turun,&lt;/i&gt; dan turun itu meniscayakan adanya &lt;i&gt;perpindahan &lt;/i&gt;dan perpindahan itu meniscayakan adanya &lt;i&gt;gerak&lt;/i&gt;, dan gerak itu adalah konsekuensi dari &lt;i&gt;sifat benda&lt;/i&gt;, itu jelas sekali ! Kalau kata &lt;i&gt;yanzilu&lt;/i&gt; tanpa perpindahan dan gerak ya namanya bukan &lt;i&gt;yanzilu&lt;/i&gt;! Itu berarti memaknai kata itu bukan dengan makna bahasa sesungguhnya! Wallahu a’lam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Marilah kita baca dibawah ini sebagian isi khotbah Amirul Mukminin Imam Ali Bin Abi Thalib k.w. yang sangat bagus sekali mengenai sifat Allah swt. dari kitab Nahjul Balaqhoh terjemahan O.Hashem, Syarah oleh M.Hashem, Yapi 1990, Khotbah Pertama halaman 108-109 sebagai berikut:&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tidak terlukiskan oleh pembicara. Tidak terhitung nikmat-Nya oleh para penghitung. Hak-Nya akan pengabdian tidak akan terpenuhi oleh para pengupaya. Tidak dapat dicapai Dia oleh ketinggian intelek dan tidak pula terselami oleh pemahaman yang bagaimanapun dalamnya. Ia, yang sifat-Nya tiada terbatasi lukisan, pujian yang tepat tidaklah maujud (Maha ada). Sang waktu tidaklah dapat memberi batas, dan tidak kurun yang mengikat-Nya.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pangkal agama adalah ma’rifat-Nya, dan kesempurnaan ma’rifat-Nya adalah membenarkan-Nya dan kesempurnaan iman kepada keesaan-Nya adalah ikhlas kepada-Nya, dan kesempurnaan ikhlas kepada-Nya, adalah menafikan sifat yang diberikan kepada-Nya, karena setiap sifat membuktikan bahwa ia&lt;i&gt; &lt;/i&gt;bukanlah yang disifati dan setiap yang disifati membuktikan bahwa Ia bukanlah sifat.&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan barangsiapa menyifatkan Allah yang Maha Suci, maka ia telah memberikan pasangan kepada-Nya. Dan barangsiapa memberi pasangan kepada-Nya maka ia telah menggandakan-Nya. Dan barangsiapa mengganda kan-Nya, maka ia telah membagi-bagi-Nya. Dan barangsiapa membagi-Nya, maka ia telah berlaku jahil kepada-Nya. Dan barangsiapa berlaku jahil kepada-Nya berarti ia telah menunjuk-Nya. Dan barangsiapa menunjukkan-Nya, berarti telah memberi batas kepada-Nya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan barangsiapa membatasi-Nya, berarti memberi jumlah kepada-Nya.Dan barangsiapa berkata; ‘Di dalam apa Dia berada’ maka ia telah menyisipkan-Nya, dan barangsiapa berkata; ‘Di atas apa Dia berada’ maka sungguh Ia lepas dari hal tersebut.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dia maujud, Maha ada, tetapi tidak muncul dari proses kejadian. Ia ada, tetapi tidak dari tiada. Ia bersama segala sesuatu, tapi tidak berdampingan. Dan Ia tidak bersama segala sesuatu, tanpa saling berpisahan. Ia bertindak, tetapi tidak berarti ia bergerak dan menggunakan alat. Ia Maha Melihat tapi tidak tergantung makhluk untuk dilihat. Ia Maha Esa dan tiada sesuatupun yang menemaninya, dan tidak merasa sepi karena ketiadaan”. Wallahu a’lam. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Semoga kita semua diberi ampunan dan hidayah dari Allah swt. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Amin &amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9035263491279041580-6050691265310651782?l=wahabi-selawat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/6050691265310651782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/6050691265310651782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahabi-selawat.blogspot.com/2010/09/kesimpulan-singkat-mengenai-keterangan.html' title='Kesimpulan singkat mengenai keterangan mengenai tajsim dan tasybih yang perlu dipahami'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9035263491279041580.post-969111126224493014</id><published>2010-09-23T07:00:00.000-07:00</published><updated>2010-09-23T07:00:51.928-07:00</updated><title type='text'>Tajsim/penjasmanian &amp;Tasybih/penyerupaan Allah swt. kepada makhluk-Nya</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Golongan Wahabi/Salafi melarang orang mentakwil ayat-ayat Ilahi atau hadits-hadits Rasulallah saw. yang berkaitan dengan &lt;i&gt;shifat&lt;/i&gt;. Jadi bila ada kata-kata di alqur’an dan hadits &lt;i&gt;wajah&lt;/i&gt; Allah, &lt;i&gt;tangan&lt;/i&gt; Allah dan seterusnya harus diartikan juga sebagai wajah dan tangan Allah secara sesungguhnya,&amp;nbsp;tetapi kita tidak boleh membayangkan-Nya atau bertanya tentangnya. Sebagaimana yang telah dikemukakan yaitu pengalaman seorang pelajar dikota Makkah berceritera bahwa ada seorang ulama tunanetra &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;–yang suka menyalahkan dan juga mengenyampingkan ulama-ulama lain yang tidak sepaham dengannya–mendatangi seorang ulama yang berpendapat tentang jaiznya/bolehnya melakukan &lt;i&gt;takwil&lt;/i&gt; (penggeseran arti) terhadap ayat-ayat &lt;i&gt;mutasyabihat/samar. &lt;/i&gt;Ulama tunanetra yang tidak setuju dengan kebolehan menakwil ayat-ayat mutasyabihat, langsung membantah dan mengajukan argumentasi dengan cara yang tidak sopan dan menuduh pelakuan &lt;i&gt;takwil &lt;/i&gt;sama artinya dengan melakukan &lt;i&gt;tahrif &lt;/i&gt;(perubahan) terhadap ayat Al-Qur’an. &lt;span style="color: black;"&gt;Ulama yang membolehkan takwil itu –setelah didamprat habis-habisan– dengan tenang memberi komentar: &lt;i&gt;‘Kalau saya tidak boleh takwil, maka andaakan buta di akhirat’.&lt;/i&gt; Ulama tunanetra itu bertanya: ‘Mengapa anda mengatakan demikian?’. Dijawab: Bukankah dalam surat &lt;i&gt;al–Isra’&lt;/i&gt; ayat 72 Allah swt. berfirman: ’&lt;i&gt;Barangsiapa &lt;u&gt;buta &lt;/u&gt;didunia, maka di &lt;u&gt;akhirat&lt;/u&gt; pun dia akan buta dan &lt;u&gt;lebih tersesat&lt;/u&gt; dari jalan yang benar’. &lt;/i&gt;Kalau saya tidak boleh takwil, maka &lt;i&gt;buta &lt;/i&gt;pada ayat ini pasti diartikan dengan buta mata dan tentunya nasib anda nanti akan sangat menyedihkan yakni buta diakhirat karena didunia ini anda telah buta mata (tunanetra). Karenanya bersyukurlah dan hargai pendapat orang-orang yang membolehkan takwil sehingga kalimat buta pada ayat diatas –menurut mereka– diartikan dengan: &lt;i&gt;buta hatinya&lt;/i&gt; jadi bukan arti sesungguhnya yaitu &lt;i&gt;buta matanya.&lt;/i&gt; Ulama yang tunanetra itu akhirnya diam membisu, tidak memberikan tanggapan apa-apa! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Kami mengutip berikut ini beberapa ayat Ilahi yang &lt;i&gt;mutasyabihat&lt;/i&gt; (kalimat perumpamaan atau kalimat samar)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;dalam menerangkan keadaan diri-Nya, seperti dalam firman-firman-Nya:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dalam surat all-Araf&amp;nbsp; 54:&amp;nbsp;&lt;i&gt; “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia &lt;u&gt;ber semayam di atas ‘Arsy&lt;/u&gt;. Dia menutupkan malam kepada siang yang meng- ikutinya dengan cepat, dan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.&lt;/i&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dalam surat An-Nur: 35 : “&lt;i&gt; … Allah adalah cahaya langit dan bumi&lt;/i&gt;”. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dalam surat As-Shaad 75 :&amp;nbsp; &lt;i&gt;“ ...hai iblis apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan &lt;u&gt;kedua tangan-Ku&lt;/u&gt; “.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dalam surat Al-Fushilat 12 : &amp;nbsp;&lt;i&gt;”maka Allah menjadikannya tujuh langit &lt;u&gt;dalam dua hari&lt;/u&gt;…”.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dalam surat Al-Baqarah 186 : “&lt;i&gt;Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku ini dekat …”&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dalam&amp;nbsp;&amp;nbsp; surat Qaaf 16 &lt;i&gt;: “..dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dalam surat Al-Fushilat&amp;nbsp; 5 : &lt;i&gt;“ .. ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha meliputi segala sesuatu “&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dalam surat Al-Baqarah 115 : &lt;i&gt;“.. kemana pun kamu menghadap disitulah &lt;u&gt;wajah Allah&lt;/u&gt; ..“ &lt;/i&gt;dan juga masih ada firman-friman Allah lainnya yang mutasyabihaat.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dalam surat At-Taubah:67: “…Mereka melupakan Allah maka Allah pun &lt;u&gt;lupa&lt;/u&gt; dengan mereka” &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dalam surat As-Sajdah : 14:.” …sungguh kami telah &lt;u&gt;lupa&lt;/u&gt; pada kalian..”.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Imam al Baihaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah saw yang artinya:“Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Juga telah diketahui setiap muslim bahwa Allah swt sudah qidam/berada sebelum Dia menciptakan semua makhluk-Nya.&amp;nbsp; Kalau ada golongan yang mengatakan bahwa Allah swt bersemayam di Arsy, maka kita bakal bertanya, dimanakah Allah swt. bersemayam &lt;u&gt;sebelum&lt;/u&gt; arsy, langit, tempat, ruang, arah, atas, bawah dan sebagainya, diciptakan? Begitu juga kita akan bertanya dimanakah Allah sesudah diciptakannya semua makhluk?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Sifat Allah tetap tidak berubah..sifat Allah tidak sama dengan makhluk. Maka orang yang mengatakan tuhan bertempat dan berarah menyalahi sifat wajib &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;salbiyah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; Allah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Sifat Salbiyah&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; : &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Sifat yang digunakan untuk menolak sesuatu yang tidak patut untuk dinisbahkan kepada Allah, itu ada lima yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Wahdaniyah/Esa&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; (Allah tidak banyak atau tidak terpecah-pecah yakni ada tuhan yang dilangit, ada tuhan yang di arsy, ada tuhan yang di sorga, ada tuhan yang di baitullah dsb.nya.)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Qidam/Ada&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; sebelum semua makhluq ada (Allah Ada sebelum tempat dan arah ada)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Baqo/Kekal&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; (Allah kekal sedangkan langit akan di gulung/hancurkan)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Mukhalafatu lil hawadtsi/berbeda dgn makhluk&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; (Allah beda makhluk, sedangkan yang bertempat dan berarah &amp;nbsp;adalah benda kasar/makhluk)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Qiyamuhu binafsihi /tidak memerlukan apapun &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;( Allah tidak memerlukan tempat/arsy dsb)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Golongan mujassimah mengatakan bahwa pada &lt;u&gt;sepertiga malam&lt;/u&gt; Allah berada dilangit pertama bukan diatas arsy. Padahal orang semua tahu bahwa waktu itu bergilir setiap saat. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Jika di Indonesia tengah Malam maka di Amerika adalah siang hari. Kita akan bertanya apakah Allah swt berada dilangit pertama setiap saat?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Golongan mujassimah mengatakan “Allah punya Tangan tetapi beda dengan tangan Makhluk”. Mereka ini mengatakan akan menerima secara dzahir dan yang dzahir itu berbeda dengan dzahirnya makhluk. Kita ingin bertanya, M&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;kna dzahir mana yang mereka katakan “menerima secara zahir”? Karena kalau kita baca firman Allah swt dan sunnah Rasulallah saw berikut ini: Allah swt di langit (surat al-mulk), &amp;nbsp;Allah swt diatas arsy (lihat surat ar-Ra’ad), Allah swt menempel/menyatu dengan orang beriman (lihat surat al-baqarah), Allah swt berada&amp;nbsp; di langit pertama (lihat hadits nuzul), Allah swt berada dimana-mana/disemua arah, tanpa tempat (hadits zaman azali) dan masih ada lagi riwayat lainnya. Dengan adanya&amp;nbsp;ayat dan hadits itu, kita &lt;u&gt;tidak bisa&lt;/u&gt; menggunakan &lt;u&gt;makna dzahir&lt;/u&gt; ayat dan hadits tersebut atau&amp;nbsp; tidak akan bisa menjawabnya dan mudah terjerumus dalam tajsim dan tasybih (penjasmanian dan penyerupaan Allah swt. kepada makhluk, na’udzubillah ).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Maka dari itu para sahabat dan ulama mentakwil ayat dan nash mutasyabihat sesuai keMahasuci dan ke Maha agungan-Nya, untuk menjauhkan makna dari segi dzahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini karena dzahir makna nash al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk. Atau para sahabat dan ulama&amp;nbsp; &lt;i&gt;mentafwidh&lt;/i&gt; artinya &lt;i&gt;tidak berkomentar&lt;/i&gt; apapun, tidak memberikan arti apapun tentangnya. Mereka menyerahkan pe-makna-annya kepada Allah swt.. Artinya para ulama golongan ini tidak mau melibatkan diri dalam menafsirkannya, tafsirnya adalah bacaannya itu! Jadi gologan ulama ini tidak memiliki aliran tapi mereka ini tidak berarti menjadi &lt;i&gt;menta’thil &lt;/i&gt;(menafikan) dari pensifatan! Itu hanya khayalan kaum &lt;i&gt;mujassimah&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;musyabbihah&lt;/i&gt; belaka!&amp;nbsp;(baca uraian selanjutnya mengenai nash yang ditakwil) &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Sangat jelas bagi kita, bahwa ungkapan-ungkapan mutasyabihat ayat-ayat diatas ini, &lt;i&gt;dimengerti&lt;/i&gt; bukan untuk &lt;i&gt;ditafsirkan&lt;/i&gt; secara&lt;i&gt; hakiki/arti sebenarnya&lt;/i&gt;, tetapi boleh ditafsirkan secara majazi/kiasan atau sesuai dengan ke Maha Suci dan ke Maha Agungan-Nya. Bila ayat-ayat diatas ini mempunyai arti yang sebenarnya, maka jelaslah bahwa Allah swt. –na’udzubillah–&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;mempunyai sifat seperti makhluk-Nya. Yang mana hal ini&amp;nbsp; telah dibantah sendiri oleh Allah swt. dalam firman-Nya:&lt;i&gt;‘ Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya’ &lt;/i&gt;(QS Asy-Syuura [42]:11) ; ‘&lt;i&gt;Tiada Ia tercapai oleh penglihatan mata’&lt;/i&gt; (QS&amp;nbsp; Al-An’aam [6] : 103) ;&amp;nbsp; ‘&lt;i&gt;Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan’&lt;/i&gt;. ( QS Ash-Shaffaat : 159) dan ayat-ayat lain yang serupa maknanya. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Alqur’an didalam mengungkapkan suatu masalah ada yang &lt;i&gt;konkrit,&lt;/i&gt; misalnya hukum&amp;nbsp;waris, hukum syariat mu’amalat, dijelaskan dengan kalimat yang bukan kiasan, yaitu &lt;i&gt;muhkamat &lt;/i&gt;artinya sudah jelas, tidak perlu ditafsirkan lagi, seperti shalatlah kamu, bayarlah zakat dan sebagainya. Akan tetapi kalau sudah mencakup persoalan ghaib, misal: tentang Allah, rahasia langit, peralatan akhirat, surga, neraka dan lain-lain&amp;nbsp;maka Alqur’an menggunakan kalimat perumpamaan (metafora), yang biasa disebut &lt;i&gt;mutasyabihaat. &lt;/i&gt;Kurang tepat juga bila dikatakan kalau Allah berada di mana-mana, walau pun difirmankan &lt;i&gt;“….kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah&lt;/i&gt;”. Juga tidak pula bisa dikatakan bahwa Allah &lt;i&gt;berada di langit atas sana &lt;/i&gt;sehingga kita harus menunjuk kearah atas atau ketika kita berdo’a kita menengadahkan tangan keatas sambil &lt;i&gt;dibenak/dipikiran&lt;/i&gt; kita beranggapan bahwa Allah seolah-olah ada dilangit diatas nun jauh disana. Sekali lagi kalau dikatakan Allah dilangit atas sana berarti Allah bertempat tinggal di langit dan kalau demikian jadinya berarti selain dilangit apakah tidak ada Allah –na’udzubillah–.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Hakikat langit yang sebenarnya bukanlah berupa &lt;i&gt;alam&lt;/i&gt; &lt;i&gt;fisik&lt;/i&gt;, seperti &lt;i&gt;dzan &lt;/i&gt;(persangkaan) kita selama ini. Dia Maha meliputi segala sesuatu. Begitu juga bila Allah swt. memerlukan singgasana (’Arsy),&amp;nbsp;seakan-akan Allah setelah membuat langit dan bumi berserta isinya naik kembali ke tahta-Nya? Kalau Allah memerlukan &lt;i&gt;singgasana&lt;/i&gt; (’Arsy) berarti Allah memerlukan ruangan untuk bertempat tinggal?,&amp;nbsp;na’udzubillah.&amp;nbsp;Alangkah kelirunya&amp;nbsp;bila orang mengartikan ayat-ayat ilahi yang &lt;i&gt;mutasyabihaat&lt;/i&gt; (samar) ini secara hakiki/arti sebenarnya.&amp;nbsp;Mereka mengatakan Allah dalam menciptakan iblis menggunakan kedua tangan-Nya secara hakiki, dan dikatakan Allah mempunyai &lt;i&gt;wajah&lt;/i&gt; –na’udzu billah–&amp;nbsp;dan lain sebagainya secara hakiki.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dengan adanya riwayat-riwayat demikian, Allah swt. menjadi seorang makhluk– Na’udzubillah–&amp;nbsp;yang mempunyai sifat-sifat hakiki yang dimiliki oleh makhluk-Nya. Bahwa istilah &lt;i&gt;‘langit’&lt;/i&gt; bukan hanya melukiskan alam fisik saja tetapi keseluruhannya, dari alam terendah sampai tertinggi, dari alam ghaib sampai alam &lt;i&gt;maha ghaib&lt;/i&gt;. Istilah &lt;i&gt;‘langit’&lt;/i&gt; digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang ghaib, dan bukan melulu alam fisik. Banyak ahli tafsir yang mengartikan makna-makna ayat Allah swt., umpamanya: “&lt;i&gt;&lt;u&gt;Kursi Allah&lt;/u&gt; meliputi langit dan bumi. “&lt;/i&gt;&amp;nbsp; Kata &lt;i&gt;Kursi&lt;/i&gt; dalam ayat ini berarti &lt;i&gt;Ilmu, &lt;/i&gt;jadi&lt;i&gt; &lt;/i&gt;ayat ini diartikan sebagai berikut&lt;i&gt;:&lt;/i&gt; “&lt;i&gt;&lt;u&gt;Ilmu Allah&lt;/u&gt; meliputi langit dan bumi”. &lt;/i&gt;Begitu juga firman-firman Allah swt.:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;u&gt;Wajah&lt;/u&gt; Allah &lt;/i&gt;berarti &lt;i&gt;&lt;u&gt;Dia&lt;/u&gt; Allah, &lt;u&gt;Tangan&lt;/u&gt; Allah&lt;/i&gt; berarti &lt;i&gt;&lt;u&gt;Kekuasaan&lt;/u&gt; Allah,&amp;nbsp;&lt;u&gt;Mata&lt;/u&gt; Allah &lt;/i&gt;berarti &lt;i&gt;&lt;u&gt;Pengawasan&lt;/u&gt; Allah &lt;/i&gt;dan lain sebagainya. Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi, yang mana kata-kata Allah swt. &lt;i&gt;harus&amp;nbsp;diartikan sesuai dengan ke Maha Sucian dan ke Maha Agungan-Nya&lt;/i&gt;. Jika kita tidak dapat membedakan diantara keduanya maka kita akan menjumpai beberapa kontradiksi yang timbul didalam Al-Qur’an.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Marilah kita teliti lagi&amp;nbsp;berikut ini beberapa contoh saja dari ayat Al-Qur’an&amp;nbsp;dan hadits yang&amp;nbsp;&lt;i&gt;ditakwil&lt;/i&gt; (digeser)&amp;nbsp;dari makna aslinya/dhahirnya tekst dan firman-firman Allah swt.&amp;nbsp;yang mutasyabihat&amp;nbsp;boleh diartikan sesuai dengannya, dengan demikian tidak akan berbenturan dengan firman-firman Allah swt. yang lain.&amp;nbsp;Diantara sahabat besar yang berjalan diatas kaidah takwil adalah Sayyiduna &lt;i&gt;Ibnu Abbas&lt;/i&gt; ra., anak paman Rasulallah saw. dan murid utama Imam Ali -&lt;i&gt;karramallahu wajhahu&lt;/i&gt;- yang pernah mendapat do’a Nabi saw. , &lt;i&gt;“Ya Alah ajarilah dia &lt;/i&gt;(Ibnu Abbas) &lt;i&gt;tafsir Kitab &lt;/i&gt;(Al Qur’an).” (HR. Bukhari). &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Telah banyak riwayat yang menukil takwil beliau tentang ayat-ayat sifat dengan sanad yang shahih dan kuat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;1)&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-size: 7pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibnu Abbas menta’wîl ayat: &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Pada hari &lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;betis&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;disingkapkan.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(QS.68 [al Qalam]:42)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibnu Abbas ra. berkata (ayat itu berarti): “Disingkap dari &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kekerasan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;(kegentingan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;)&lt;/i&gt;.” Disini kata &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ساقٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; (betis) dita’wîl dengan makna &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;شِدَّةٌ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kegentingan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ta’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;wil ayat di atas ini telah disebutkan juga oleh Ibnu Hajar dalam &lt;i&gt;Fathu al Bâri&lt;/i&gt;,13/428 dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya 29/38. Ia mengawali tafsirnya dengan mengatakan,&lt;i&gt; “Berkata sekelompok sahabat dan tabi’în dari para ahli ta’wîl, maknanya&lt;/i&gt; (ayat al-Qalam:42)&lt;i&gt; ialah, “Hari di mana disingkap &lt;/i&gt;(diangkat)&lt;i&gt; perkara &lt;u&gt;yang genting&lt;/u&gt;.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dari sini tampak jelas bahwa menta’wîl ayat sifat adalah metode dan diamalkan&amp;nbsp;para sahabat dan tabi’în. Mereka adalah salaf kita dalam metode ini. Ta’wîl itu juga dinukil oleh Ibnu Jarir dari Mujahid, Said ibn Jubair, Qatadah dan lain-lain.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;2) Ibnu Abbas ra. menta’wîl ayat: &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَّ إِنَّا لَمُوْسٍعُوْنَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan &lt;/i&gt;(Kami)&lt;i&gt; dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” &lt;/i&gt;(QS.51 [adz Dzâriyât] : 47)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kata &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;أَيْدٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;secara &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;lahiriyah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;adalah &lt;i&gt;telapak tangan&lt;/i&gt; atau tangan dari ujung jari jemari hingga lengan, ia bentuk jama’ dari kata &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;يَدٌ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; (Baca &lt;i&gt;Al Qamûs al Muhîth&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Tâj al ‘Ârûs&lt;/i&gt;,10/417.)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Akan tetapi Ibnu Abbas ra’ mena’wîl arti kata &lt;i&gt;tangan&lt;/i&gt; dalam ayat Adz-Dzariyat ini dengan &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;بِقُوَّةٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;artinya &lt;i&gt;&lt;u&gt;kekuatan&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;. Demikian diriwayatkan al-Hafidz Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya, 7/27. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Selain dari &lt;i&gt;Ibnu Abbas&lt;/i&gt; ra., ta’wîl serupa juga diriwayatkannya dari para tokoh tabi’în dan para pemuka Salaf Shaleh seperti &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mujahid, Qatadah, Manshur Ibnu Zaid dan Sufyan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;3). Allah swt. berfirman&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; فَاليَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوْا لِقَاءَ يَوْمِهِم هَذَا&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Maka pada hari ini, Kami &lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;melupakan&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; mereka sebagaimana mereka melupa kan pertemuan mereka dengan hari ini…” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(QS.7 [al A’râf];51)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibnu Abbas ra. menta’wil ayat ini yang menyebut (Allah)&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; melupakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; kaum kafir dengan ta’wîl&amp;nbsp; ‘&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;menelantarkan/membiarkan’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Ibnu Jarir berkata: &lt;i&gt;‘Yaitu maka pada hari ini yaitu hari kiamat&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;&lt;u&gt;K&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;ami melupakan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; mereka, Dia berfirman&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Kami membiarkan&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; mereka dalam siksa..’&lt;/i&gt;&amp;nbsp; (Tafsir Ibnu Jarir, 8/201)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di sini Ibnu Jarir mena’wîl kata &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;melupakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dengan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;membiarkan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Dan ia adalah penggeseran sebuah kata dari makna aslinya yang dhahir kepada makna majazi/kiasan. Beliau telah menukil ta’wîl tersebut dengan berbagai sanad dari Ibnu Abbas ra., Mujahid dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibnu Abbas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; ra. adalah seorang sahabat besar dan pakar dalam tafsir Al Qur’an….&lt;i&gt;Mujahid&lt;/i&gt; adalah seorang tabi’în agung…Ibnu Jarir, ath-Thabari adalah Bapak Tafsir kalangan Salaf…&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat Hadits qudsi:&amp;nbsp;-&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Hai anak Adam, Aku sakit tapi engkau tidak menjenguk-Ku. Ia &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[hamba]&lt;i&gt; ber- kata, ‘Bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Rabbul ‘Âlamîin?’ Allah menjawab, ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit, engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau mengetahui bahwa jika engkau menjenguknya engkau akan dapati Aku di sisinya…“ &lt;/i&gt;(HR. Muslim,4/1990, Hadits no.2569)&amp;nbsp;Apakah&amp;nbsp;boleh kita mengatakan; &lt;i&gt;Kita akan menetapkan bagi Allah sifat sakit, tetapi sakit Allah tidak seperti sakit kita&lt;/i&gt; ( makhluk-Nya)? &lt;i&gt;Bolehkah kita meyakini &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;menurut dhahir/lahir kalimat tanpa memasukkan unsur kiasan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; jika ada seorang hamba sakit maka Allah juga akan terserang sakit, dan Dia akan berada di sisi si hamba yang sakit itu?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Pasti tidak boleh !!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bahkan kita berhak mengatakan bahwa siapa saja yang mensifati Allah dengan &lt;i&gt;Sakit&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Dia sedang Sakit&lt;/i&gt; dia benar-benar telah kafir! Sementara pelaku pada kata kerja &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;مَرِضْتُ&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; adalah kata ganti orang pertama/aku/si pembicara yaitu Allah. Jadi berdasarkan dhahir tekts dalam hadits itu, Allah-lah yang sakit. Tetapi pastilah dhahir kalimat itu bukan yang dimaksud. Kalimat itu harus dita’wîl. Demikian pandangan setiap orang berakal. Dan ini adalah sebuah bukti bahwa Sunnah pun mengajarkan ta’wîl kepada kita.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi makna hadits di atas menurut para ulama sebagaimana diuraikan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim sebagai berikut; &lt;i&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Para ulama berkata, ‘disandarkannya sifat sakit kepada-Nya sementara yang dimaksud adalah hamba sebagai &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tasyrîf,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt; pengagungan bagi hamba dan untuk mendekatkan. Para ulama berkata tentang maksud &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;engkau akan dapati Aku di sisinya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt; (ialah) &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;engkau akan mendapatkan pahala dari-Ku dan pemuliaan-Ku… “ &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(Syarah Shahih Muslim,16/126)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga dalam pembuktian bahwa Allah swt. &lt;i&gt;berada/bersemayam&lt;/i&gt; di atas langit,&amp;nbsp; kaum &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mujassimah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; antara lain ulama madzhab Wahabi Nâshiruddîn al Albani dalam&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mukhtashar al Uluw&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan Syeikh as Sabt dalam kitab &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ar Rahmân ’Alâ al Asryi Istawâ&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; membawakan beberapa hadits, sebagiannya shahih sanadnya, sementara sebagian lainnya cacat secara kualitas sanad-&amp;nbsp; nya (walaupun oleh sebagian &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;ulama madzhab ini&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dianggap sebagai hadits shahih). Adapun hadits-hadits yang shahih sanadnya tidak jarang mereka salah dalam memaknainya, akibatnya mereka mempercayai kepada syubhat konsep &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tajsîm&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tasybîh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;istidlâlh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;/ upaya pengajuan dalil oleh mereka.&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Hadis Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;َ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;أَلاَ تَأْمَنُونِى وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِى السَّمَاءِ ، يَأْتِينِى خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;“T&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;idaklah kalian percaya padaku, padahal aku ini kepercayaan yang dilangit, dimana khabar datang kepadaku pada pagi dan sore hari” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(HR. Bukhari dan Muslim)&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Setiap ayat/hadits yang menyebut kata:&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;مَنْ فِى السَّمَاء&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;untuk Allah swt. maka yang dimaksud dalam bahasa orang-orang Arab (yang Al Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka) adalah makna &lt;i&gt;majâzi/kiasan,&lt;/i&gt; yaitu berarti &lt;i&gt;keagung an, kemuliaan dan ketinggian maknawi&lt;/i&gt;, bukan ketinggian &lt;i&gt;hissi &lt;/i&gt;(material). Seorang pujangga Arab klasik bersyair:&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="direction: rtl; line-height: 150%; margin-left: 45pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; علونا السماءَ مَجْد&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ُ&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;نا وجدودُنا*** &amp;nbsp;و إِنَّا لنبغِي فوق ذلك مظهرا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;K&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ami menaiki langit, kejayaan dan moyang kami*** dan kami menginginkan kemenangan di atas itu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jelas sekali bahwa yang dimaksud menaiki/meninggii langit bukan &lt;i&gt;langit fisik&lt;/i&gt; di atas kita itu, akan tetapi langit &lt;i&gt;kemuliaan dan keagungan&lt;/i&gt;. Demikianlah yang dimaksud dalam setiap nash yang datang dengan redaksi:&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; مَنْ فِى السَّمَاء&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;(andai ia shahih tentunya). Hal demikian dikarenakan dasar-dasar yang pasti dalam al-Qur’an dan as-Sunnah shahihah yang mengharuskan kita &lt;i&gt;mensucikan&lt;/i&gt; Allah swt. dari sifat-sifat hakiki pada makhluk-Nya umpama; ber- semayam, bersentuhan dan bertempat di atas langit atau di atas bumi /ber tempat pada makhluk-Nya. &amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits diatas dalam riwayat Bukhari dan Muslim, telah mengalami &lt;i&gt;“olah kata”&lt;/i&gt; oleh perawi. Artinya si perawi meriwayatkannya dengan makna saja, ia tidak menghadirkan redaksi sebenarnya. Akan tetapi seperti telah kami singgung, kaum Mujassimah (golongan yang menjasmanikan Allah) lebih cenderung membuka mata mereka kearah hadits di atas ketimbang membuka mata mereka terhadap riwayat lain dari hadits yang juga diriwayat-kan Imam Bukhari. Coba perhatikan, dalam Shahih &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bukhari dan Muslim terdapat banyak redaksi periwayatan hadits di atas yang tersebar di beberapa tempat, akan tetapi &lt;i&gt;tidak memuat&lt;/i&gt; kata:&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; مَنْ فِى السَّمَاء&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; yang tentunya tidak akan membantu kaum Mujassimah, karenanya hadits itu selalu dikesampingkan (tidak pernah mereka gubris). Perhatikan hadits di bawah ini:&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="direction: rtl; line-height: 150%; margin-left: 45pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; فَمن يُطيعُ اللهَ إذا عصيْتُهُ، فَيَأْمَنُنِي على أهلِ الأرضِ ولا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;تَأْمَنُونِى؟!&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Siapakah yang mena’ati Allah jika aku &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;(Nabi saw.)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; menentangnya?! Dia &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;(Allah)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; mempercayaiku untuk mengurus penduduk bumi sedangkan kalian tidak &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;mempercayaiku?!” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;C&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;oba perhatikan redaksi hadits di atas, kemudian&amp;nbsp; bandingkan dengan redaksi hadits sebelumnya yang juga diriwayatkan Bukhari! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Hâfidz Ibnu Hajar al-Asqallani mengomentari hadits tersebut dengan kata-katanya, “Nanti akan dibicarakan makna sabda (kata-kata):&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; مَنْ فِى السَّمَاء&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; pada Kitab at-Tauhid. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kemudian seperti beliau janjikan, beliau menguraikan makna kata tersebut:&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Al-Kirmâni berkata, ‘Sabda:&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; مَنْ فِى السَّمَاء&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;makna &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;dzâhir-&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;nya jelas bukan yang dimaksudkan, sebab Allah Maha Suci dari &lt;i&gt;bertempat di sebuah tempat&lt;/i&gt;, akan tetapi, karena sisi atas adalah sisi termulia di banding sisi-sisi lainnya, maka ia disandarkan kepada-Nya sebagai isyarat akan &lt;i&gt;ketinggian Dzat dan sifat-Nya&lt;/i&gt;.’ Dan seperti inilah para ulama selainnya menjawab/ menerangkan setiap kata yang datang dalam nash yang menyebut kata atas dan semisalnya.” (&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Fathu al Bâri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;,28/193)&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Andai seorang mau merenungkan dan meresapi keterangan di atas pasti ia akan selamat dari syubhat kaum Mujassimah dan pemuja riwayat yang mutasyabihat yakni golongan&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; al-hasyawiyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Jadi para ulama telah mengarti kan/memaknai hadits-hadits yang memuat redaksi yang mengesankan keberadaan Allah swt. di sebuah tempat dengan &lt;i&gt;pemaknaan yang sesuai dengan Kemaha Sucian dan Kemaha Agungan Allah swt.&lt;/i&gt;. Akan tetapi golongan Mujassimah dan mereka yang tertipu oleh syubhat kaum Mujasimah ini lebih tertarik mengemukakan hadits-hadits dengan redaksi yang mendukung konsep dan pandangan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tajsîm&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; yang mereka yakini, walaupun mereka enggan disebut sebagai Pewaris Madzhab Mujassimah. Disamping yang telah dikemukakan tadi, masih banyak lagi hadits-hadits Shifat yang tidak tercantum disini yang ditakwil maknanya oleh para ulama pakar (antara lain Imam Bukhori, Muslim dan lainnya) sesuai dengan sifat &lt;i&gt;Kemaha-Sucian dan Kemaha-Agungan Allah swt. &lt;/i&gt;Umpama lagi kata,&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;و جاء رَبُّكَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;arti secara bahasa;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Dan datanglah Tuhamu’ ,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;tapi ditakwil oleh para ulama pakar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; ialah:&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;جاء ثوابُهُ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;artinya: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Datang pahala-Nya’. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Dan kata &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;الضحك&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;atau&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;يَضْحَكُ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="commentnum"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;artinya secara bahasa &lt;i&gt;tertawa &lt;/i&gt;tapi ditakwil oleh para ulama pakar berarti &lt;i&gt;Rahmat &lt;/i&gt;dan ada lagi yang mengartikan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;kerelaan dan kebaikan balasan&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Tertawa &lt;/i&gt;yang dialami manusia misalnya adalah dengan membuka mulut, dan tentunya makna ini mustahil disamakan maknanya atas Allah swt..&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Nah kalau kita baca, bukankah banyak para&amp;nbsp;pakar Islam memalingkan kata-kata yang dzahirnya menunjukkan &lt;i&gt;tajsim&lt;/i&gt; dengan memaknai yang sesuai dengan ke-Maha Sucian dan ke-Maha Agungan Allah swt.? Dengan menafsirkan ayat-ayat atau hadits-hadits sifat sesuai dengan ke-&lt;i&gt;Maha Sucian dan ke-Maha Agungan Allah swt&lt;/i&gt;, maka tidak akan berlawanan dengan firman-firman Ilahi yang telah dikemukakan, (QS. Asy-Syuura [42]:11; QS&amp;nbsp; Al-An’aam [6] : 103; QS Ash-Shaffaat [37] : 159) atau ayat-ayat lainnya yang serupa. Untuk lebih lengkapnya bacalah&amp;nbsp; kitab &lt;i&gt;Daf’u Syubahi At Tasybih bi Akuffi At-Tanzih&lt;/i&gt; karya Ibnu al-Jauzi, seorang ulama bermadzhab Imam Ahmad bin Hanbal, disana semua syubhat yang selama ini menghinggap dalam pikiran sebagian golongan muslimin, insya Allah tersingkap…. atau paling tidak mereka mengetahui dalil-dalil para ulama yang menentang aliran Mujassimah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Kalangan salaf tidak berbeda pendapat sedikit pun di dalam masalah sifat”, beliau juga mengatakan, “Saya tidak menemukan hingga saat sekarang ini seorang sahabat yang mentakwil sedikit saja ayat-ayat sifat”, disertai dengan pengakuannya bahwa beliau telah merujuk seratus kitab tafsir. Tetapi nyatanya ada kalangan salaf yang berbeda pendapat! Disamping contoh yang telah dikemukakan diatas, kita ambil contoh riwayat &lt;i&gt;Ath-Thabari&lt;/i&gt; berikut ini yang mana Ibnu Taimiyyah mengenai kitab tafsir Ath-Thabari mengatakan sebagai berikut, &lt;i&gt;“&lt;/i&gt;Didalamnya tidak terdapat bid’ah, dan tidak meriwayatkan dari orang-orang yang menjadi tertuduh.” (&lt;span style="color: black;"&gt;Al-Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir, hal 51). Ketika kita merujuk kepada &lt;/span&gt;&lt;i&gt;ayat kursi &lt;/i&gt;yang oleh Ibnu Taimiyyah dianggap termasuk salah satu ayat sifat yang terbesar, sebagaimana yang beliau katakan didalam kitab &lt;i&gt;al-Fatawa al-Kabirah&lt;/i&gt;, jilid 6, hal 322.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;–&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Ath-Thabari mengemukakan dua riwayat yang bersanad kepada &lt;i&gt;Ibnu Abbas&lt;/i&gt;, berkenaan dengan penafsiran firman Allah swt. yang berbunyi, “&lt;i&gt;Kursi Allah meliputi langit dan bumi”. &lt;/i&gt;Ath-Thabari berkata, “ Para ahli takwil &lt;i&gt;berselisih pendapat&lt;/i&gt; tentang arti kursi. Sebagian mereka berpendapat bahwa&amp;nbsp; yang dimaksud adalah &lt;i&gt;ilmu Allah.&lt;/i&gt; Orang yang berpendapat demikian bersandar kepada Ibnu Abbas yang mengatakan&lt;i&gt;, ‘Kursi-Nya adalah ilmu-Nya&lt;/i&gt;.’ Adapun riwayat lainnya yang juga bersandar kepada &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibnu Abbas mengatakan, &lt;i&gt;‘Kursi-Nya adalah ilmu-Nya&lt;/i&gt;’ Bukankah kita melihat didalam firman-Nya, &lt;i&gt;‘Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya&lt;/i&gt;’”(Tafsir ath-Thabari, jld 3, hal 7).&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Berikut ini contoh yang kedua, yang masih berasal dari kitab tafsir Ath-Thabari. Pada saat menafsirkan firman Allah swt. yang berbunyi, “&lt;i&gt;Dan Allah Mahatinggi dan Mahabesar”&lt;/i&gt;, Ath-Thabari berkata, “ Para pengkaji &lt;i&gt;berbeda pendapat&lt;/i&gt; tentang makna firman Allah swt. yang berbunyi, &lt;i&gt;‘Dan Allah Mahatinggi dan Mahabesar&lt;/i&gt;.’ &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagian mereka berpendapat, ‘Artinya ialah, &lt;i&gt;‘Dan Dia Mahatinggi dari padanan dan bandingan&lt;/i&gt;.’ Mereka menolak makna &lt;i&gt;‘Dia Mahatinggi dari segi tempat.&lt;/i&gt;’ Mereka mengatakan, &lt;i&gt;‘Dia tidak ada di suatu tempat’&lt;/i&gt;. Maknanya bukanlah &lt;i&gt;Dia tinggi dari segi tempat.&lt;/i&gt; Karena yang demikian berarti menyifati Allah swt. ada disebuah tempat dan tidak ada di tempat yang lain’”. (Tafsir ath-Thabari, jld 3, hal 9).&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;Demikianlah pendapat kalangan salaf, yang tidak mempercayai keyakinan tempat bagi Allah swt., sementara Ibnu Taimiyyah mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi untuk membuktikan keyakinan tempat bagi Allah swt., didalam risalah yang ditujukannya bagi penduduk kota &lt;i&gt;Hamah&lt;/i&gt;. Bahkan, tatkala beliau sampai kepada firman Allah swt. yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah swt. bersemayam di atas ‘Arsy’ “, beliau mengatakan, “Sesungguhnya Dia berada diatas langit”. (Al-’Aqidah al-Hamawiyyah al-Kubra, yang merupakan kumpulan surat-surat Ibnu Taimiyyah, hal 329 - 332). Yang beliau maksud adalah ‘&lt;i&gt;Tempat’.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;Adapun didalam kitab tafsir &lt;i&gt;Ibnu ‘Athiyyah,&lt;/i&gt; yang oleh Ibnu Taimiyyah dianggap juga sebagai kitab tafsir yang paling dapat dipercaya, disebutkan beberapa riwayat &lt;i&gt;Ibnu Abbas&lt;/i&gt; yang telah disebutkan oleh Ath-Thabari di dalam kitab tafsirnya. Kemudian, Ibnu ‘Athiyyah memberikan komentar tentang beberapa riwayat yang disebutkan oleh &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;Ath-Thabari, yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Taimiyyah, “&lt;i&gt;Ini adalah perkataan-perkataan bodoh dari kalangan orang-orang yang &lt;u&gt;mempercayai tajsim&lt;/u&gt;, wajib hukumnya untuk tidak menceritakannya.&lt;/i&gt;” (Faidh al-Qadir, asy-Syaukani.) Berikut ini adalah bukti lainnya berkenaan dengan penafsiran firman Allah swt. yang berbunyi, ‘&lt;i&gt;Segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya&lt;/i&gt;’ (QS. al-Qashash: 88), dan juga firman Allah swt. yang berbunyi, ‘&lt;i&gt;Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu, yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan’ &lt;/i&gt;(QS. ar-Rahman: 27), dimana dengan perantaraan kedua ayat ini Ibnu Taimiyyah menetapkan &lt;i&gt;wajah Allah&lt;/i&gt; swt. dalam arti yang sesungguhnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;Ath-Thabari berkata, “Mereka &lt;i&gt;berselisih&lt;/i&gt; tentang makna firman-Nya, &lt;i&gt;‘kecuali wajah-Nya&lt;/i&gt;’. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud ialah, segala sesuatu pasti binasa &lt;i&gt;kecuali Dia&lt;/i&gt;. Sementara sebagian lain berkata bahwa maknanya ialah, &lt;i&gt;kecuali yang dikehendaki wajah-Nya&lt;/i&gt;, dan mereka mengutip sebuah syair untuk mendukung takwil mereka; ‘Saya memohon ampun kepada Allah dari dosa yang saya tidak mampu menghitungnya Tuhan, yang kepada-Nya lah wajah dan amal dihadapkan.’”&lt;span style="color: #336699;"&gt; &lt;/span&gt;(Tafsir ath-Thabari, jld 2, hal. 82)&lt;span style="color: #336699;"&gt;. &lt;/span&gt;Al-Baghawai berkata, “Yang dimaksud dengan &lt;i&gt;‘kecuali wajah-Nya’&lt;/i&gt; ialah &lt;i&gt;‘kecuali Dia’&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada juga yang mengatakan, &lt;i&gt;‘kecuali kekuasaan-Nya’”. &lt;/i&gt;Abul ‘lyalah berkata, “Yang dimaksud ialah &lt;i&gt;‘kecuali yang dikehendaki wajah-Nya&lt;/i&gt;’.” (Tafsir al-Baghawi). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Didalam kitab ad-Durr al-Mantsur, dari Ibnu Abbas yang berkata, “Artinya ialah &lt;i&gt;‘kecuali yang dikehendaki wajah-Nya’ &lt;/i&gt;“. Dari Mujahid yang berkata, “Yang dimaksud ialah &lt;i&gt;‘kecuali yang dikehendaki wajah-Nya.&lt;/i&gt;’” &amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;Dari Sufyan yang berkata, &lt;i&gt;“Yang dimaksud ialah ‘kecuali yang dikehendaki wajah-Nya, dari amal perbuatan yang saleh’ &lt;/i&gt;“. &amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Info&lt;/u&gt;:&lt;/b&gt; {{ Al-Albani (syeikh sekte wahabisme) mengeritik keras, sehingga sampai sampai berani mengeluarkan Imam Bukhori dari seorang muslim yang beriman, karena Imam Bukhori ra. telah menafsirkan ayat Ilahi (al-Qashash: 88) yang artinya; &lt;i&gt;‘Segala sesuatu akan binasa kecuali &lt;u&gt;Wajah-Ny&lt;/u&gt;a’ &lt;/i&gt;&amp;nbsp;dengan &lt;i&gt;Segala sesuatu akan binasa kecualia &lt;u&gt;Kekuasaa-Nya’&lt;/u&gt;. &lt;/i&gt;Kata &lt;i&gt;Wajah-Nya &lt;/i&gt;pada&amp;nbsp; ayat itu ditakwil oleh beliau dengan makna &lt;i&gt;Kekuasaan-Nya&lt;/i&gt;. Al-Albani berkata: “Ini (takwilan Imam bukhori diatas itu) sepatutnya &lt;i&gt;tidak dituturkan oleh seorang Muslim yang beriman”&lt;/i&gt;.(Fatawa Al-Albani hal.523)}}.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;Oleh karena itu –para ulama sezaman dengan Ibnu Taimiyyah– tidak tinggal diam atas perkataan-perkataannya (yang menyifati Allah swt. secara hakiki). Mereka memberi fatwa tentangnya dan memerintahkan manusia untuk menjauhinya. Dikarenakan keyakinan-keyakinan &lt;i&gt;tajsim &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;tasybih &lt;/i&gt;itu, akhirnya Ibnu Taimiyyah dipenjara, dilarang menulis didalam penjara, dan kemudian beliau meninggal dunia didalam penjara dikota Damaskus. &amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Banyak dari kalangan para ulama dan huffadz yang telah menulis kitab untuk membantah keyakinan-keyakinan beliau ini. Umpamanya, &lt;i&gt;Adz-Dzahabi&lt;/i&gt; telah menulis surat kepadanya, yang berisi &lt;i&gt;kecaman&lt;/i&gt; terhadapnya atas keyakinan-keyakin an yang dibawanya. Surat adz-Dzahabi tersebut cukup panjang, yang mana ‘Allamah al-Amini telah menukil &lt;i&gt;surat adz-Dzahabi&lt;/i&gt; ini secara lengkap di dalam kitab &lt;i&gt;al-Ghadir&lt;/i&gt;, jilid 7, hal 528, yang dia nukil dari &lt;i&gt;kitab Takmilah as-Saif ash-Shaqil&lt;/i&gt;, karya al-Kautsari, hal.190.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;Berdasarkan kaidah yang ditegakkan diatas pondasi Al Qur’an dan Sunnah yang telah dikemukakan, para sahabat, tabi’in dan para imam mujtahidin diatas&amp;nbsp;methode inilah mereka berjalan dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Shifat.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Masih banyak lagi pendapat para ulama baik yang mentakwil maupun yang &lt;i&gt;tidak mentakwil&lt;/i&gt; ayat-ayat atau hadits-hadits shifat itu yang tidak tercantum disini. Ulama yang tidak mentakwil hanya menyebutkan apa adanya tekts saja –yaitu menurut bacaannya saja– mereka menyerahkan kepada Allah swt. pe-makna-annya.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Catatan: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Para tokoh ulama Wahabiyah –seperti &lt;i&gt;Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âlu&lt;/i&gt;– tidak meragukan sedikitpun keagungan Ibnu Abbas dan murid-murid beliau dan bahwa mereka adalah &lt;i&gt;tokoh-tokoh ahli tafsir&lt;/i&gt; generasi tabi’în (Fathu al Majîd Syarah KItab at Tauhîd:405).. Ketika menyebut &lt;i&gt;Mujahid &lt;/i&gt;misalnya, Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âlu Syeikh berkata: &lt;i&gt;Mujahid &lt;/i&gt;adalah Syeikh, &lt;i&gt;tokoh&lt;/i&gt; ahli tafsir, seorang Imam Rabbani, nama lengkapnya Mujahid ibn Jabr al Makki maula Bani Makhzûm. Fadhl ibn Maimûn berkata, ‘Aku mendengar Mujahid berkata, ‘Aku sodorkan mush-haf kepada Ibnu Abbas beberapa kali, aku berhenti pada setiap ayat, aku tanyakan kepadanya; tentang apa Dia (Allah) turun? Bagaimana Dia turun? Apa maknanya?. Ia (Mujahid) wafat tahun 102H pada usia 83 tahun, semoga Allah merahmatinya. Ibnu Abdil Wahhab sendiri telah berhujjah dan mengandalkannya dalam banyak masalah dalam kitab &lt;i&gt;at-Tauhid&lt;/i&gt;-nya.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;Dengan demikian ke&lt;i&gt;-salaf-&lt;/i&gt;an mereka tidak diragukan bahkan diakui oleh golongan Wahabiyah sendiri! Jadi sekali lagi jelaslah bahwa metode &lt;i&gt;takwîl &lt;/i&gt;telah dilakukan oleh &lt;i&gt;para salaf&lt;/i&gt;. Dan diatas&amp;nbsp;methode inilah para ulama, seperti &lt;i&gt;Imam al-Asy’ari&lt;/i&gt; dan para pengikutnya berjalan. Jadi jika ada yang menuduh sikap mentakwil adalah sikap menyimpang dan berjalan diatas kesesatan faham Jahmiyah, dan ber-&lt;i&gt;ilhad (&lt;/i&gt;secara bahasa berarti membelokkan/ memiringkan)&lt;span style="color: blue;"&gt; &lt;/span&gt;dalam ayat-ayat dan &lt;i&gt;asmâ&lt;/i&gt; Allah sebagaimana yang dituduhkan kaum Wahabi –seperti Ibnu Utsaimin (Syarah Aqidah al Washit- hiyah: 58-63)&lt;span style="color: blue;"&gt; &lt;/span&gt;dan kawan-kawannya– maka ia benar-benar dalam kekeliruan yang nyata!! &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;Demikianlah sebagian contoh tentang takwil ayat Ilahi dan masih banyak lagi arti ayat Ilahi yang ditakwil oleh para sahabat dan tabi’in yang tidak dikemukakan disini.&amp;nbsp;Sebagaimana yang telah dikemukakan tadi bahwa madzhab Wahabi/Salafi untuk menetapkan kesucian Allah swt., mereka mengatakan; Allah swt. mempunyai jasmani &lt;i&gt;namun tanpa bentuk&lt;/i&gt;, Allah&amp;nbsp; mempunyai darah namun &lt;i&gt;tanpa bentuk&lt;/i&gt;, Allah mempunyai daging namun &lt;i&gt;tanpa bentuk&lt;/i&gt;, dan Allah mempunyai rambut namun &lt;i&gt;tanpa bentuk&lt;/i&gt; dan sebagainya! Ini semua adalah keyakinan yang tidak benar!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;Mari sekarang kita teliti lagi riwayat-riwayat berikut ini –jelas mengarah dan menunjukkan tajsim dan tasybih– yang mana golongan Wahabi/Salafi&amp;nbsp; dan pengikutnya menyakini serta mempercayai adanya hadits mengenai &lt;i&gt;Tajsim/ Penjasmanian&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Tasybih/ Penyerupaan&lt;/i&gt; Allah swt. sebagai makhluk-Nya secara &lt;i&gt;hakiki&lt;/i&gt;/yang sebenarnya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;tapi &lt;i&gt;tanpa bentuk&lt;/i&gt; (Bi la Kaif). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Yang mana hal ini&amp;nbsp; telah dibantah sendiri oleh Allah swt. Dalam (QS Asy-Syuura:11, QS&amp;nbsp; Al-An’aam : 103, QS Ash-Shaffaat : 159) dan ayat-ayat lain yang serupa maknanya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;– Berkata Wahab bin Munabbih waktu ditanya oleh Jaad bin Dirham tentang &lt;i&gt;asma wa sifat&lt;/i&gt;: Celaka engkau wahai Jaâd karena permasalahan ini. Sungguh aku menduga engkau akan binasa. Wahai Jaâd, kalau saja Allah tidak mengkabar- kan dalam kitab-Nya bahwa dia memiliki &lt;i&gt;tangan, mata atau wajah,&lt;/i&gt; tentu kamipun tidak akan mengatakannya. Bertakwalah engkau kepada Allah!&amp;nbsp;(Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 190)&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;–&amp;nbsp; Abdullah ibn Ahmad rh. meriwayatkan, disertai dengan menyebut sanad-sanadnya. Beliau berkata, “Rasulallah saw. telah bersabda; ’Tuhan kita telah menertawakan keputus-asaan hamba-hamba-Nya dan kedekatan yang lainnya. Perawi berkata; ‘Saya bertanya, ‘Ya Rasulallah, apakah Tuhan tertawa?’ Rasulallah saw. menjawab, &lt;i&gt;‘Ya.’ &lt;/i&gt;Saya berkata&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;‘Kita tidak ke hilangan Tuhan yang tertawa dalam kebaikan’ “.&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;[Kitab as-Sunnah, hal. 54].&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;–&amp;nbsp; Abdullah ibn Ahmad berkata, “Saya membacakan kepada ayahku. Lalu, dia menyebutkan sanadnya hingga kepada Sa’id bin Jubair yang berkata, Sesungguhnya mereka berkata, ‘Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu yaqut-Nya. Saya tidak tahu, apakah dia mengatakan merah atau tidak?’ Saya berkata kepada Sa’id bin Jubair, lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu zamrud dan naskah tulisan emas, yang Tuhan menuliskannya dengan&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;tangan-Nya&lt;/i&gt;, sehingga para penduduk langit dapat mendengar &lt;i&gt;suara gerak pena-Nya&lt;/i&gt;.”&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;[Kitab as-Sunnah, hal. 76].&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;–&amp;nbsp; Abdullah ibn Ahmad berkata, “Ayahku berkata kepadaku dengan sanad dari Abi ‘Ithaq yang berkata, ‘Allah menuliskan Taurat bagi Musa dengan &lt;i&gt;tangan-Nya, &lt;/i&gt;dalam keadaan&lt;i&gt; menyandarkan punggungnya&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;kebatu, pada lembaran-lembaran yang terbuat dari mutiara. Musa dapat mendengar &lt;i&gt;bunyi pena&lt;/i&gt; Tuhannya, sementara tidak ada penghalang antara dirinya dengan Tuhannya kecuali &lt;i&gt;sebuah tirai&lt;/i&gt;.’”&amp;nbsp;[Kitab as-Sunnah, hal. 76].&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;Mari kita baca lagi riwayat lainnya dibawah ini yang menetapkan bahwa Allah mempunyai &lt;i&gt;jari&lt;/i&gt;, dan mereka juga menetapkan bahwa di antara &lt;i&gt;jari-jari-Nya&lt;/i&gt; itu terdapat jari &lt;i&gt;kelingking&lt;/i&gt;, serta jari kelingking-Nya mempunyai &lt;i&gt;sendi.&lt;/i&gt; Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah didalam kitab at-Tauhid dengan bersanad dari Anas bin Malik ra yang berkata;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;– Rasulallah saw. telah bersabda; ‘Manakala Tuhannya menaiki gunung, Dia mengangkat&lt;i&gt; jari kelingking-Nya, &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; mengerutkan sendi jari kelingking nya&lt;/i&gt; itu, sehingga dengan begitu lenyaplah gunung&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;Humaid bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu akan menyampaikan hadits ini?’ Dia menjawab, ‘Anas menyampaikan hadits ini kepada kami dari Rasulallah, lalu kamu menyuruh kami untuk tidak menyampaikan Hadits ini?’ “&amp;nbsp; [Kitab at-Tauhid, hal 113; Kitab as-Sunnah, hal. 65]&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa Allah swt. mempunyai tangan, tangan-Nya mempunyai jari, dan diantara jari-Nya itu ialah jari kelingking. Kemudian mereka juga mengatakan jari kelingking itu mempunyai sendi...!!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– Abdullah rh juga berkata, dengan bersanad dari Abu Hurairah, dari Rasulallah saw. yang bersabda;”Sesungguhnya kekasaran kulit orang Kafir panjangnya tujuh puluh dua hasta, dengan&lt;i&gt; ukuran panjang tangan &lt;/i&gt;Yang Maha Perkasa&lt;i&gt;.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;[Kitab at-Tauhid, hal. 190]. Dari Hadits ini dapat dipahami, Tuhan mempunyai&amp;nbsp; dua tangan, juga kedua tangan Tuhan mempunyai ukuran panjang tertentu. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Karena jika tidak, maka tidak mungkin kedua tangan tersebut menjadi ukuran bagi satuan panjang.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;–&amp;nbsp; Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rh, dengan bersanad kepada Anas bin Malik yang berkata, “Rasulallah saw. telah bersabda, ‘Orang-orang kafir dilemparkan kedalam neraka. Lalu neraka berkata, ‘Apakah masih ada tambahan lagi ?, maka&lt;i&gt; Allah pun meletakkan kaki-Nya &lt;/i&gt;kedalam neraka, sehingga neraka berkata, ‘Cukup, cukup’&lt;i&gt;&amp;nbsp; “.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;[Kitab at-Tauhid, hal. 184].&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulallah saw. yang bersabda; “Neraka tidak menjadi penuh sehingga&lt;i&gt; Allah meletakkan kaki-Nya &lt;/i&gt;kedalamnya. Lalu, nerakapun berkata, ‘Cukup cukup.’ Ketika itulah neraka menjadi penuh.”&amp;nbsp;[Kitab at-Tauhid, hal. 184]. Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa Allah swt. mempunyai &lt;i&gt;kaki.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada riwayat lebih jauh lagi dengan menetapkan bahwa Allah swt. mempunyai &lt;i&gt;nafas.&lt;/i&gt; Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, dengan bersanad kepada Ubay bin Ka’ab yang berkata, “Janganlah kamu melaknat angin, karena sesungguhnya angin berasal &lt;i&gt;dari nafas Tuhan.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;[Kitab as-Sunnah, hal. 190].&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– Mereka juga menetapkan dan bahkan menyerupakan &amp;nbsp;suara Allah dengan &lt;i&gt;suara besi&lt;/i&gt;. Abdullah bin Ahmad, dengan sanadnya telah berkata, “Jika Allah berkata-kata menyampaikan wahyu, para &lt;i&gt;penduduk langit mendengar suara bising&lt;/i&gt; tidak ubahnya&lt;i&gt; suara bising besi &lt;/i&gt;di suasana yang hening&lt;i&gt;.”&lt;/i&gt; [Kitab as-Sunnah, hal. 71].&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Selanjutnya, riwayat berikut ini yang menetapkan bahwa Allah swt. &lt;i&gt;duduk &lt;/i&gt;dan mempunyai &lt;i&gt;bobot&lt;/i&gt;. Oleh karena itu, terdengar suara derit kursi ketika Allah sedang duduk diatasnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jika Allah tidak mempunyai bobot, lantas apa arti dari suara derit?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;–&amp;nbsp; Abdullah bin Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, dengan bersanad dari Umar ra yang berkata, “Jika Allah &lt;i&gt;duduk&lt;/i&gt; di atas kursi, akan terdengar suara derit tidak ubahnya seperti &lt;i&gt;suara deritnya koper besi&lt;/i&gt;.” [Kitab as-Sunnah, hal.79]. Atau, tidak ubahnya seperti &lt;i&gt;suara kantong pelana unta&lt;/i&gt; yang dinaiki oleh penunggang yang berat.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Beliau juga mengatakan, dengan bersanad kepada Abdullah ibn Khalifah, “Seorang wanita telah datang kepada Nabi saw. lalu berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah supaya Dia memasukkan saya kedalam surga.’ Nabi saw. berkata,&lt;i&gt; Maha Agung Allah&lt;/i&gt;.’ Rasulallah saw. kembali berkata, ‘Sungguh luas kursi-Nya yang mencakup langit dan bumi. Dia &lt;i&gt;mendudukinya&lt;b&gt;,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; sehingga tidak ada ruang yang tersisa darinya kecuali hanya &lt;i&gt;seukuran empat jari&lt;/i&gt;&lt;b&gt;.&lt;/b&gt; Dan sesungguhnya Dia mempunyai suara tidak ubahnya seperti suara &lt;i&gt;derit pelana&lt;/i&gt; tatkala dinaiki’ “.&amp;nbsp;[Kitab as-Sunnah, hal. 81].&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada riwayat yang mengatakan lebih dari itu umpama didalam sebuah hadits disebutkan, Allah swt. menciptakan Adam berdasarkan&lt;i&gt; wajah-Nya, setinggi tujuh puluh hasta&lt;/i&gt;. Dengan demikian manusia akan membayangkan bahwa Allah swt. akan mempunyai wajah yang berukuran tingginya seperti wajah Adam as. Hadits-hadits diatas dan berikut ini juga tidak bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya karena bertentangan dengan&amp;nbsp; firman Allah swt..&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada juga hadits yang menetapkan bahwa Allah swt. &lt;i&gt;dapat dilihat&lt;/i&gt;, mempunyai &lt;i&gt;tangan yang dingin&lt;/i&gt; dan sebagainya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, dengan bersanad kepada Ibnu Abbas yang berkata: Rasulallah saw. telah bersabda, “Aku&lt;i&gt; melihat Tuhanku &lt;/i&gt;dalam bentuk-Nya yang paling bagus. Lalu Tuhanku berkata, ‘Ya Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku datang memenuhi seruan-Mu.’ Tuhanku berkata lagi, ‘Dalam persoalan apa malaikat tertinggi bertengkar’? Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu, wahai Tuhanku.’ Rasulallah saw. melanjutkan sabdanya, ‘Kemudian&lt;i&gt; Allah meletakkan tangan-Nya diantara dua pundak-ku, &lt;/i&gt;sehingga aku dapat&lt;i&gt; merasakan dinginnya tangan-Nya &lt;/i&gt;diantara&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;kedua tetek-ku&lt;b&gt;,&lt;/b&gt; &lt;/i&gt;maka akupun mengetahui apa yang ada di antara timur dan barat’ “. (Kitab at-Tauhid, hal. 217).&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– Riwayat yang lebih aneh lagi Abdullah bin Ahmad juga berkata, sesungguhnya Abdullah bin Umar bin Khattab ra mengirim surat kepada Abdullah bin Abbas ra., Abdullah bin Umar bertanya, ‘Apakah Muhammad telah melihat Tuhan-nya?’ Maka Abdullah bin Abbas pun mengirim surat jawaban kepadanya. Abdullah bin Abbas menjawab, ‘Benar.’ Abdullah bin Umar kembali mengirim surat untuk menanyakan bagaimana Rasulallah saw. melihat Tuhan-nya. Abdullah bin Abbas mengirim surat jawaban, ‘Rasulallah saw. &lt;i&gt;melihat&lt;/i&gt; Tuhannya di sebuah taman yang hijau, dengan permadani dari emas. Dia tengah &lt;i&gt;duduk di atas kursi&lt;/i&gt; yang terbuat dari emas, &lt;i&gt;yang diusung&lt;/i&gt; &lt;i&gt;empat orang malaikat&lt;/i&gt;. Seorang malaikat dalam &lt;i&gt;rupa seorang laki-laki&lt;/i&gt;&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;seorang lagi&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;dalam rupa seekor sapi jantan&lt;/i&gt;, seorang lagi&lt;b&gt; &lt;/b&gt;dalam &lt;i&gt;rupa seekor burung elang&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;dan&lt;b&gt; &lt;/b&gt;seorang lagi&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;dalam rupa seekor singa&lt;/i&gt;&lt;b&gt;.’&lt;/b&gt;”&amp;nbsp;[Kitab at-Tauhid, hal. 194].&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dengan adanya riwayat-riwayat ini semua, jelas Allah swt. menjadi seorang makhluk &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;–na’udzubillahi– yang mempunyai sifat-sifat hakiki/sebenarnya yang dimiliki oleh makhluk-Nya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Semua riwayat hadits tersebut jelas menunjukkan tajsim atau tasybih Allah kepada makhluk-Nya dan hal itu bertentangan dengan&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;firman Allah swt. yang telah dikemukakan tadi. Umpama saja riwayat-riwayat shohih maka makna yang berkaitan dengan shifat Allah swt. harus disesuaikan dengan ke Maha Sucian dan ke Maha Agungan-Nya!! Jika tidak demikian, maka jelas sekali riwayat-riwayat itu mengarah kepada sifat-sifat yang ada kepada Makhluk-Nya secara hakiki. Orang yang mempercayai hadits-hadits itu akan membayangkan Tuhannya &lt;/span&gt;–walaupun mereka ini berkata tidak mem- bayangkan-Nya– tentang bentuk jari kelingking Allah swt., kaki-Nya,&amp;nbsp; wajah-Nya, berat-Nya dan lain sebagainya.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Marilah kita baca dibawah ini diskusi mengenai seputar sifat-sifat Allah antara seorang madzhab sunnah&amp;nbsp; (lebih mudahnya kita juluki si A ) dengan salah seorang tokoh Wahabi/Salafi (kita juluki si B).Si A mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tersebut dalam hadits-hadits diatas ini, dan dengan berbagai jalan berusaha membuktikan kesalahan keyakinan-keyakinan tersebut. Namun, semuanya itu tidak mendatangkan manfaat.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Si A (madzhab sunnah) bertanya pada si B: Jika memang Allah swt. mempunyai sifat-sifat ini, yaitu Dia mempunyai wajah, mempunyai dua tangan, dua kaki, dua mata, dan sifat-sifat lainnya yang mereka alamatkan kepada Tuhan mereka, apakah tidak mungkin kemudian seorang manusia membayangkan dan mengkhayalkan-Nya? Dan dia pasti akan membayangkan-Nya. Karena jiwa manusia tercipta sedemikian rupa, sehingga dia akan membayangkan sesuatu yang telah diberi sifat-sifat yang seperti ini.”&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Si B (madzhab Wahabi) menjawab: “Ya, seseorang dapat membayangkan-Nya (bentuk Allah), namun &lt;i&gt;dia tidak diperkenankan&lt;/i&gt; memberitahukannya!!”&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Si A bertanya lagi: “Apa bedanya antara anda meletakkan sebuah berhala dihadapan anda dan kemudian anda menyembahnya dengan anda hanya membayangkan sebuah berhala dan kemudian menyembahnya?”.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Si B menjawab: “Ini adalah perkataan kelompok sesat semoga Allah mem- burukkan mereka. Mereka beriman kepada Allah namun mereka tidak mensifati-Nya dengan sifat-sifat seperti ini (mempunyai dua tangan, kaki dan lain-lain). Sehingga dengan demikian, mereka itu menyembah Tuhan yang tidak ada.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Si A ini berkata lagi: “Sesungguhnya Allah yang Maha benar, Dia tidak dapat diliputi oleh akal, tidak dapat dicapai oleh penglihatan, tidak dapat ditanya dimana dan bagaimana, serta tidak dapat dikatakan kepada-Nya kenapa dan bagaimana. Karena Dialah yang telah menciptakan dimana dan bagaimana. Segala sesuatu yang tidak dapat anda bayangkan itulah Allah, dan segala sesuatu yang dapat anda bayangkan adalah &lt;i&gt;makhluk&lt;/i&gt;. Kami telah belajar dari para ulama dari keturunan Nabi saw. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mereka berkata, &lt;i&gt;‘Segala sesuatu yang kamu bayangkan, meskipun dalam bentuk yang paling rumit, dia itu makhluk seperti kamu.’&lt;/i&gt; Keseluruhan pengenalan Allah ialah ketidak mampuan mengenal-Nya.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Si B berkata dengan penuh emosi, “Kami menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya, dan itu cukup ! “ Demikianlah diskusi singkat ini.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Golongan Wahabi/Salafi berusaha memberikan pembenaran terhadap hadits-hadits mengenai penjasmanian/Tajsim dan penyerupaan/ Tasybih tersebut dengan alasan: &lt;i&gt;“Tanpa bentuk &lt;/i&gt;(bi la kaif)”?! Sungguh benar apa yang dikatakan seorang penyair, “Mereka telah menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya namun mereka takut akan &lt;i&gt;kecaman&lt;/i&gt; manusia maka oleh karena itu mereka pun menyembunyikannya dengan mengatakan &lt;i&gt;tanpa bentuk &lt;/i&gt;(bila kaif)”. Pembenaran golongan Wahabi/Salafi mengenai riwayat penjasmanian Allah swt. yang telah diuraikan adalah bertentangan dengan ayat-ayat ilahi yang telah kita kemukakan tadi. Mereka hanya ingin bermain lidah saja yang mengatakan bahwa &lt;i&gt;hadits-hadits ini benar tapi tanpa bentuk&lt;/i&gt;, karena riwayat-riwayat itu sudah jelas bagi orang yang berakal sebagai penetapan kepada makna yang hakiki/sebenarnya. Kata-kata &lt;i&gt;meletakkan &lt;/i&gt;kaki, tangan, jari kelingking, duduk dan sebagainya yang disebutkan itu berarti mempunyai arti yang sudah dikenal yaitu &lt;i&gt;penetapan &lt;/i&gt;tangan, kaki, jari kelingking dan duduk itu sendiri. Sehingga bila orang berkata si A duduk kita akan tahu bagaimana bentuknya duduk tersebut lain dengan berdiri. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tangan si A memegang pundak saya ini berarti penetapan bentuknya tangan itu sendiri. Jadi tidak bisa diartikan selain daripada Tajsim atau penjasmanian dan Tasybih/Penyerupaan Tuhan kepada makhluk-Nya. Na’udzubillah&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Seorang madzhab sunnah pernah berdiskusi dengan salah seorang dosennya di kampus tentang &lt;i&gt;seputar masalah duduknya Allah di atas ‘Arsy.&lt;/i&gt; Ketika si dosen terdesak dia mengemukakan alasan: “Kami hanya akan mengatakan apa yang telah dikatakan oleh kalangan salaf, ‘Arti duduk (al-istiwa) diketahui, tapi &lt;i&gt;bentuk&lt;/i&gt; (al-kaif) duduknya tidak diketahui, dan &lt;i&gt;pertanyaan tentangnya adalah bid’ah.”&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Seorang madzhab sunnah&amp;nbsp; berkata kepadanya; “anda tidak menambahkan apa-apa kecuali kesamaran, dan anda hanya menafsirkan air dengan air setelah semua usaha ini.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dosen ini berkata, “Bagaimana mungkin, padahal diskusi demikian serius.” Madzhab sunnah ini mengatakan; “Jika arti duduk diketahui, maka tentu bentuknya pun diketahui juga. Sebaliknya, jika bentuk tidak diketahui, maka duduk pun tidak diketahui, karena tidak terpisah darinya. Pengetahuan tentang &lt;i&gt;duduk&lt;/i&gt; adalah pengetahuan tentang &lt;i&gt;bentuk&lt;/i&gt; itu sendiri, dan akal tidak akan memisahkan antara sifat sesuatu dengan bentuknya, karena keduanya adalah satu. Jika anda mengatakan si A duduk, maka ilmu anda tentang duduknya adalah tentang bentuk (kaiffiyah) duduknya. Ketika anda mengatakan, &lt;i&gt;duduk &lt;/i&gt;di ketahui, maka ilmu anda tentang duduk itu adalah tentang bentuk duduk itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Karena jika tidak, maka tentu terdapat pertentangan di dalam perkata an anda, yang mana pertentangan itu bersifat zat. Ini tidak ada bedanya dengan pernyataan bahwa anda mengetahui &lt;i&gt;duduk,&lt;/i&gt; namun pada saat yang sama anda mengatakan bahwa anda &lt;i&gt;tidak mengetahui bentuknya&lt;/i&gt;.” &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kemudian si &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dosen pun terdiam beberapa saat, lalu dengan tergesa-gesa dia meminta izin untuk pergi.!!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9035263491279041580-969111126224493014?l=wahabi-selawat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/969111126224493014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/969111126224493014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahabi-selawat.blogspot.com/2010/09/tajsimpenjasmanian-allah-swt-kepada.html' title='Tajsim/penjasmanian &amp;Tasybih/penyerupaan Allah swt. kepada makhluk-Nya'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9035263491279041580.post-601399310975182213</id><published>2010-09-23T06:57:00.000-07:00</published><updated>2010-09-23T06:57:02.595-07:00</updated><title type='text'>Tolok Ukur Tauhid Dan Syirik</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mengkhususkan tema ini pada pembahasan tersendiri. Karena di dalamnya terdapat masalah penting yang menjadi pemisah antara tauhid dan syirik, yang luput dari perhatian kalangan Wahabi. Mau tidak mau kita harus mengetahuinya, supaya kita dapat mengetahui bagaimana menyikapi cara-cara alami dan sebab-sebab gaib. Orang-orang Wahabi berpendapat bahwa bertawassul kepada sebab-sebab yang &lt;i&gt;alami &lt;/i&gt;tidaklah menjadi masalah. Seperti menggunakan sebab-sebab didalam keadaan alami. Akan tetapi menurut pandangan golongan Wahabi/Salafi bertawassul kepada sebab-sebab &lt;i&gt;gaib&lt;/i&gt;, seperti misalnya; Anda meminta sesuatu kepada seseorang yang anda tidak akan memperoleh sesuatu itu melainkan melalui cara-cara &lt;i&gt;gaib,&lt;/i&gt; adalah syirik. Ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal, dimana golongan ini menjadikan cara-cara &lt;i&gt;materi&lt;/i&gt; dan cara-cara &lt;i&gt;gaib&lt;/i&gt; sebagai &lt;i&gt;tolok ukur tauhid dan syirik.&lt;/i&gt; Sehingga&amp;nbsp;dapat disimpulkan&amp;nbsp; bahwa berpegang kepada cara-cara materi berarti &lt;i&gt;tauhid &lt;/i&gt;yang sesungguhnya, sementara berpegang kepada cara-cara gaib berarti &lt;i&gt;syirik&lt;/i&gt; yang sebenarnya!&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jika kita meneliti lebih mendalam kepada cara ini, niscaya kita akan menemukan bahwa tolak ukur tauhid dan syirik berada &lt;i&gt;diluar&lt;/i&gt; kerangka cara-cara ini. Tolok ukur tersebut semata-mata kembali kepada diri manusia dan kepada &lt;i&gt;bentuk keyakinannya&lt;/i&gt; terhadap cara-cara ini. Jika seorang manusia meyakini bahwa sebab-sebab ini mempunyai &lt;i&gt;kemerdekaan yang terlepas dari kekuasaan Allah swt&lt;/i&gt;., maka keyakinannya ini syirik. Sebagaimana contoh yang telah dikemukakan sebelumnya yaitu bila seseorang yakin bahwa suatu obat tertentu dapat menyembuhkan sebuah penyakit secara merdeka dan terlepas dari kekuasaan Allah swt. maka perbuatan orang ini syirik. Walau bagaimanapun bentuk sebab-sebab tersebut, apakah melalui &lt;i&gt;cara-cara alami&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;gaib&lt;/i&gt;. Yang menjadi dasar dalam masalah ini ialah ada atau tidak adanya &lt;i&gt;keyakinan akan kemerdekaan&lt;/i&gt; dari Allah swt. Jika seseorang meyakini bahwa semua sebab itu tidak merdeka dan tidak terlepas dari kekuasaan Allah swt. –baik didalam wujudnya maupun didalam pemberian pengaruhnya– dan bahkan dia itu tidak lebih hanya merupakan makhluk Allah swt., yang menjalankan perintah dan kehendak-Nya, maka keyakinan orang ini adalah &lt;i&gt;tauhid &lt;/i&gt;yang sesungguhnya.Tidak mungkin seorang Muslim dimuka bumi ini yang mempunyai keyakinan bahwa sebab tertentu dapat memberikan pengaruh secara merdeka dan terlepas dari kekuasaan Allah swt. Oleh karena itu, kita tidak berhak menisbatkan kemusyrikan dan kekufuran kepada mereka.&amp;nbsp; &lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga halnya dengan&amp;nbsp;&lt;i&gt;tawassul &lt;/i&gt;(baca bab Tawassul)&amp;nbsp;kepada para Rasulallah dan para wali, atau &lt;i&gt;tabarruk&lt;/i&gt; (baca bab Tabarruk)&amp;nbsp;kepada bekas-bekas peninggalan mereka untuk meminta syafa’at atau yang lainnya, &lt;i&gt;tidak termasuk syirik&lt;/i&gt;. Allah swt.telah berfirman tentang sebab-sebab, di mana Dia menisbatkan sebagian sesuatu&amp;nbsp; kepada-Nya, dan ada kalanya menisbatkannya kepada yang menjadi sebab-sebabnya secara langsung. Berikut ini kami kemukakan beberapa contoh:&amp;nbsp;Allah swt. berfirman, &lt;i&gt;“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat&amp;nbsp; kokoh.”&lt;/i&gt; Ayat ini menekankan bahwa rezeki berada ditangan Allah swt. Jika kita melihat kepada firman Allah swt. lainnya yang berbunyi, “&lt;i&gt;Berilah mereka rezeki &lt;/i&gt;(belanja)&lt;i&gt; dan pakaian&lt;/i&gt; (dari hasil harta itu)&lt;i&gt; dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik&lt;/i&gt;”. Disini kita melihat rezeki dinisbatkan kepada &lt;i&gt;manusia.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada ayat yang lain, Allah swt. menyatakan Diri-Nya sebagai penanam yang hakiki/sesungguhnya. Allah swt.berfirman;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;اَفَرَءَيْتُمْ مَا تَحْرُثُوْنِ , ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهُ اَمْ نَحْنُ الزَّارِعُوْنَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Artinya: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam? Kamukah yang menanamnya ataukah Kami yang menanamnya ?"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; (QS. al-Waqi'ah: 63 – 64). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sedangkan pada ayat yang lain Allah menisbahkan sifat penanaman tersebut kepada manusia sebagaimana firman-Nya : &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;...يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الكُفَّارَ...&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Artinya: &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(Al-Fath:29). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada sebuah ayat Allah swt. menjadikan pencabutan nyawa berada ditangan-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Az -Zumar:42 : &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati diwaktu tidurnya".&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sementara pada ayat yang lain swt. menjadikan pencabutan nyawa sebagai perbuatan malaikat. Allah swt. berfirman: &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang diantara kamu, dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malikat Kami&amp;nbsp;itu tidak melalaikan kewajibannya": (QS:al-An'am:61). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Pada sebuah ayat&amp;nbsp; Allah swt. menyatakan bahwa syafaát hanya khusus milik Allah swt,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; sebagaimana firman-Nya : "Katakanlah, hanya kepunyaan Allah syafaát itu semuanya" &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(QS. az-Zumar: 44). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sementara pada ayat yang lain Allah swt memberitahukan tentang adanya para pemberi syafa’at selain Allah. Allah swt berfirman; &lt;i&gt;“ Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka&amp;nbsp; sedikitpun tidak berguna &lt;u&gt;kecuali&lt;/u&gt; sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhoi-Nya.”&lt;/i&gt; (QS. an-Najm: 26). Dalam ayat ini disebutkan bahwa hamba Allah swt bisa memberi syafa’at setelah di izinkan oleh-Nya. Jadi disamping Allah ada hamba-hambaNya –atas izinNya– bisa memberi syafa’at. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga telah diketahui oleh kaum muslimin bahwa Rasulallah saw telah diberi wewenang oleh Allah swt untuk memberi syafa’at kepada ummatnya. Pada sebuah ayat Allah menyatakan bahwa pengetahuan terhadap hal-hal yang &lt;i&gt;gaib&lt;/i&gt; adalah sesuatu yang khusus bagi Allah,. firman-Nya;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: center;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;قُلْ لاَيَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالاَرْضِ الغَيْبَ الاَّ اللهُ&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Katakanlah, 'Tidak ada seorangpun dilangit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah.'"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; (QS. an-Naml: 65). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sementara pada ayat yang lain Allah swt. memilih para Rasul diantara hamba-hamba-Nya, untuk diperlihatkan kepada mereka hal-hal yang gaib. Allah swt. berfirman:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;وَمَا كَانَ اللهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَي الغَيْبِ وَلَكِنَّ اللهَ يَجْتَبِي مِنْ رَسُوْلِهِ مَنْ يَشَاءُ&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah &lt;b&gt;memilih&lt;/b&gt; siapa yang dikehendaki-Nya diantara Rasul-Rasul-Nya."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;(QS. Ali Imran: 179). Sudah tentu Rasulallah saw. berada pada urutan utama dari para Rasul lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan masih ada ayat-ayat lainnya yang serupa. Seorang yang melihat ayat-ayat ini secara sekilas, mungkin dia mengira disana terdapat sebuah pertentangan. Pada kenyataannya, sesungguhnya ayat-ayat di atas menetapkan apa yang telah kita katakan. Yaitu bahwa &lt;i&gt;hanya Allah swt. sajalah yang merdeka di dalam melakukan segala sesuatu. Adapun sebab-sebab yang lain, didalam melakukan perbuatannya mereka semua bersandar dan berada di bawah naungan kekuasaan Allah swt. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Allah swt. telah meringkas pengertian ini didalam firman-Nya yang berbunyi : &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللهَ رَمَى&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan bukan kamu yang melempar ketika"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(QS. al-Anfal: 17)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Allah menyatakan bahwa Rasulallah saw. yang telah melempar, dengan kata-kata &lt;i&gt;ketika kamu melempar.&lt;/i&gt; Namun pada saat yang sama Allah swt. menyatakan diri-Nya sebagai &lt;i&gt;pelempar yang sesungguhnya&lt;/i&gt;, karena sesungguhnya Rasulallah saw. tidak melempar melainkan dengan kekuatan yang telah Allah berikan kepadanya. Sehingga dengan begitu, Rasulallah saw. adalah &lt;i&gt;pelempar ikutan &lt;/i&gt;(bittaba')&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dengan demikian kita dapat membagi perbuatan Allah kepada dua bagian:&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pertama;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. Perbuatan dengan tanpa perantara (kunfayakun) &lt;b&gt;Kedua;&lt;/b&gt;&amp;nbsp; Perbuatan dengan perantara. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Seperti Allah menurunkan hujan dengan perantaraan awan, menyembuhkan orang sakit dengan perantaraan obat-obatan, dan lain sebagainya. Jika seorang manusia bergantung dan bertawassul kepada perantara-perantara ini, dengan keyakinan bahwa perantara-perantara tersebut &lt;i&gt;tidak merdeka&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;tidak terlepas&lt;/i&gt; dari kekuasaan Allah swt. maka dia itu seorang muwahhid (orang yang mengesakan Allah), namun jika sebaliknya, maka dia orang musyrik.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah Kemampuan Atau Ketidak-mampuan Merupakan Tolok Ukur Tauhid Dan Syirik?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Golongan Wahabi/Salafi mempunyai paham yang lain didalam masalah tauhid dan syirik, dan ini persis sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Mereka menetapkan bahwa salah satu dari tolak ukur tauhid dan syirik ialah adanya &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kemampuan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ketidak-mampuan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; orang yang di minta pertolongan untuk merealisasikan kebutuhan yang diminta. Jika dia mampu maka tidak masalah, namun jika tidak mampu maka itu syirik. Sungguh ini merupakan kesalahan yang nyata. Masalah ini sama sekali tidak mempunyai pengaruh didalam masalah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tauhid dan syirik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, melainkan hanya merupakan pembahasan tentang &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;bermanfaat atau tidak bermanfaatnya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;permintaan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Diantara orang-orang Wahabi/Salafi ialah, mereka menghardik para peziarah Rasulallah saw. dengan mengatakan, &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Hai musyrik, Rasulallah saw. tidak memberikan manfaat sedikitpun kepadamu”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Pikiran seperti ini sangat naif sekali. Sesungguhnya masalah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;bermanfaat &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tidak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, itu tidak memberikan pengaruh didalam masalah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tauhid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;syirik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Paham&amp;nbsp;golongan Wahabi seperti ini mengikuti akidah Ibnul Qayyim –murid Ibnu Taimiyyah– yang mengatakan: “Salah satu di antara &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;bentuk syirik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; ialah meminta kebutuhan dari orang yang telah wafat, serta memohon pertolongan dan menghadap kepada mereka. Inilah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;asal mula syirik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; yang ada di alam ini. Karena sesungguhnya orang yang telah wafat, &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;telah terputus amal perbuatannya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, dan dia tidak memiliki sedikitpun kekuasaan untuk mendatangkan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;bahaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;manfaat &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;bagi dirinya.” (Fath al-Majid, Mufid bin Abdul Wahhab, hal.67, cetakan ke enam).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bagaimana mungkin permintaan sesuatu dari orang yang masih hidup dikatakan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tauhid,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; sementara permintaan sesuatu yang sama dari orang yang telah wafat dikatakan &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;syirik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;?! Jelas, perbuatan yang semacam ini keluar dari kerangka pembahasan tauhid dan syirik,&amp;nbsp;tetapi kita dapat meletakkannya kedalam kerangka pembahasan, &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;apakah permintaan ini berguna atau tidak berguna&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;?&amp;nbsp; Dan permintaan yang tidak berguna pun tidak termasuk syirik. Sebagaimana yang telah diutarakan, sesungguhnya yang menjadi tolak ukur dasar didalam masalah tauhid dan syirik ialah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;keyakinan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Keyakinan disini bersifat mutlak. Tidak dikhususkan bagi orang yang hidup atau orang yang telah wafat. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Perkataan Ibnul Qayyim yang berbunyi; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Sesungguhnya orang yang wafat telah terputus amal perbuatannya’. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Seandainya benar, itu tidak lebih memiliki arti hanya menetapkan bahwa meminta dari orang yang mati itu &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tidak berguna&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, namun &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tidak bisa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; menetapkan bahwa perbuatan itu &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;syirik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Adapun perkataan beliau yang berbunyi, ‘&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Orang yang telah wafat tidak memiliki sedikit pun kekuasaan untuk mendatangkan bahaya atau manfaat bagi dirinya’,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; ini adalah merupakan perkataan yang umum yang mencakup untuk semua manusia baik yang telah wafat maupun yang masih hidup. Karena seluruh makhluk,&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;baik yang hidup maupun yang mati, tidak memiliki sedikitpun kekuasaan atas dirinya dan hanya memiliki kekuasaan atas dirinya semata-mata dengan izin dan kehendak Allah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah Al-Qur’an hanya bisa diartikan secara tekstual atau literal ?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Begitu juga golongan Salafi/Wahabi ini percaya bahwa Al-Qur’an dan Sunnah hanya bisa diartikan secara &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tekstual &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(apa adanya tekst) atau &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;literal &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan tidak ada arti &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;majazi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; atau kiasan didalamnya. Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi, yang mana kata-kata Allah swt. harus diartikan sesuai dengannya. Jika kita tidak dapat membedakan diantara keduanya maka kita akan menjumpai beberapa &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kontradiksi &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;yang timbul didalam Al-Qur’an. Maka dari itu sangatlah penting untuk memahami masalah tersebut. Dengan adanya keyakinan seluruh kandungan Al-Qur’an dan Sunnah secara tekstual atau literal dan jauh dari makna Majazi atau kiasan ini, maka akibatnya mereka memberi &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;sifat secara fisik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; kepada Allah swt.. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(umpama Dia swt. mempunyai tangan, kaki, mata dan lain-lain seperti makhluk-Nya). Mereka juga mengatakan terdapat &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kursi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; yang sangat besar (‘Arsy) dimana &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Allah swt.. duduk&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (sehingga Dia membutuhkan ruangan atau tempat untuk duduk) diatasnya. Terdapat banyak masalah lainnya yang diartikan secara tekstual. Hal ini telah membuat banyak fitnah diantara ummat Islam dan inilah yang paling pokok dari mereka yang membuat berbeda dari Madzhab yang lain. Salafisme ini hanya berjalan atas tiga komposisi yaitu; &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syirik, Bid’ah dan Haram.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mengartikan ayat-ayat Ilahi dan Sunnah secara tekstual, akan secara otomatis menolak atau menyembunyikan bagian dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang berlawanan dengan keyakinan mereka. Mereka juga kadangkala kerepotan dan kebingungan untuk menafsirkan ayat-ayat&amp;nbsp; dan hadits Rasulallah saw. yang (kelihatannya) berlawanan dan mencari jalan sedapat mungkin agar yang berlawanan ini sampai sesuai dengan keyakinannya. Umpamanya, mereka mengatakan kita &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;harus langsung&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; minta pertolongan dan pengampunan pada Allah swt. &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tidak boleh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; melalui hamba-Nya, dan jika seseorang meminta pertolongan dari Rasulallah saw. atau hamba Allah yang beriman maka orang itu telah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Musyrik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, dengan berdalil pada Al-Qur’an dan hadits yang tekts atau kalimatnya seperti yang mereka katakan. Kemudian bila mereka membaca ayat Al-Qur’an dan hadits lainnya yang mengatakan Malaikat, para Rasul dan orang-orang yang beriman &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;bisa sebagai penolong dan peminta ampun&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; pada Allah swt., mereka kebingungan lagi untuk menafsirkannya karena ayat ini tidak sefaham dengan akidah mereka yang melarang orang mohon selain kepada Allah swt.. Masih banyak lagi hal-hal serupa yang mereka larang berdasarkan pemahaman ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw. &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;secara tekstual&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, sehingga mereka sering berlawanan dengan pendapatnya sendiri. Jadi disatu sisi mereka mengatakan orang harus langsung minta pada Allah swt. serta tidak boleh melalui hamba-Nya tapi disisi lain mereka mengatakan boleh memohon melalui hamba Allah swt. selama mereka masih hidup serta mampu untuk menolongnya dan sebagainya seperti yang telah dikemukakan tadi. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi tidak lain adalah &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;taktik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; golongan ini sendiri karena ini adalah cara paling aman bagi mereka untuk menghindari pertentangan yang ada pada&amp;nbsp;paham atau keyakinan mereka. Diantara contoh-contoh&amp;nbsp;dari ayat&amp;nbsp;al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw. sebagai berikut:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;– Allah swt. berfirman bahwa Dia yang mengambil ruh pada saat kematian, seperti yang tercantum didalam surat Az -Zumaar :42; &amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Allah swt. memegang jiwa &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(orang)&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; ketika matinya dan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(memegang)&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; jiwa &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(orang)&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; yang belum mati diwaktu tidurnya…sampai akhir ayat’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Tapi dalam surat An-Nisaa (4):97; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;sampai akhir ayat’&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah kalau ada yang mengatakan bahwa malaikatlah yang mencabut nyawa itu syirik? Ataukah kita harus percaya bahwa ada kontradiksi dalam al-Qur’an? Tentu saja tidak, bukan Syirik ataupun kontradiksi, tapi maksudnya bahwa manusia tidak boleh lengah atau lupa bahwa sebab utama yang menentukan nyawa manusia adalah Allah swt.. Sedangkan ayat yang mengatakan bahwa Allah swt. yang mencabut nyawa adalah secara majazi atau kiasan dan malaikat termasuk didalamnya yang mencabut nyawa dengan seizin-Nya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;–&amp;nbsp; Golongan Salafi/Wahabi mengatakan kita harus minta tolong &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;langsung&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; pada Allah swt. &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tidak boleh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; melalui hamba-Nya yang beriman dengan&amp;nbsp; berdalil firman Allah swt. diantaranya adalah;&amp;nbsp; Dalam surat Al-Fatihah:5: ‘&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hanya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kepada-Mu kami menyembah dan hanya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kepada-Mu kami mohon pertolongan’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;Dengan berdalil dengan ayat ini mereka mengatakan; Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan tidak pula mendatangkan madharat atau bahaya? &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dengan lain kata mereka &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;melarang &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;kita minta tolong kecuali pada Allah swt. Padahal yang dimaksud ayat itu bahwa manusia harus mengetahui dan tidak boleh lengah sebab utama yang mendatangkan pertolongan adalah dari Allah swt. jadi &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;bukan berarti &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;kita tidak boleh minta tolong pada hamba-Nya. Karena kenyataannya terdapat banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulallah saw. yang secara jelas menunjukan bahwa pertolongan atau manfaat bisa dicari dari Rasulallah, dari orang mukminin juga dari mereka yang dikenal sebagai tanda-tanda Allah. Mari kita rujuk ayat-ayat yang berkaitan dengan keterangan diatas ‘&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;hanya Allah-lah’ &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;sebagai pelindung.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Didalam surat An-Nisaa (4) :123:&amp;nbsp; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Dialah satu-satunya sebagai pelindung. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah’.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Didalam surat An-Nisaa (4) : 45:&amp;nbsp; ‘&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan Allah lebih mengetahui &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(daripada kamu)&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(bagimu).&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Dan cukuplah Allah menjadi penolong &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;( bagimu)’&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Didalam surat Al-Ahzab (33) : 17; “&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat melindungi kamu dari &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(takdir)&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?’ Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Juga dalam hadits&amp;nbsp;yang diriwayatkan oleh Tirmudzi dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulallah saw. berkata:&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="margin-right: 99.25pt; text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;إذَا سَألْتَ فَاسْألِ اللهَ, وَإذَا اسْتَعَـنْتَ فَاسْتَتعِنْ بَاللهِ وَاعْلَمْ أنَّ الاُمَّـةَ لَوِ اجْتَمَـعَتْ عَلَى اَنْ يَنْفََـعُوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَنْفَـَعُوكَ إلاَّ بِشَـيْئٍ قَدْ كَتَبهُ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="margin-right: 99.25pt; text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;اللهُ لَكَ, وَلَوِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Artinya: ‘Jika engkau minta sesuatu mintalah pada Allah dan jika engkau hendak minta pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah seumpama manusia sedunia berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak akan dapat memberi pertolongan, selain apa yang telah disuratkan Allah bagimu. Dan seumpama mereka berkumpul untuk mencelakakan dirimu mereka tidak akan dapat mencelakakanmu selain dengan apa yang telah disuratkan Allah menjadi nasibmu”.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya mengartikan ayat-ayat dan hadits diatas ini &lt;i&gt;secara tekstual&lt;/i&gt;&amp;nbsp;sehingga sampai-sampai berani mensyirikkan orang yang minta tolong atau pelindung pada Rasulallah saw. atau hamba-hamba Allah yang sholeh. Padahal maksud dari ayat dan hadits itu adalah manusia tidak boleh lupa bahwa &lt;i&gt;sebab utama&lt;/i&gt; yang melindungi dan menolong manusia adalah Allah swt. Jadi bukan berarti manusia &lt;i&gt;haram&lt;/i&gt; untuk minta pertolongan atau pelindungan dari hamba-Nya yang beriman dan meminta syafa’at pada hamba Allah yang diberi izin oleh-Nya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bila kita mempunyai&amp;nbsp;paham seperti golongan ini dan mengartikan makna ayat ilahi dan hadits secara tekstual, maka akan kerepotan dan kebingungan mengartikan ayat-ayat ilahi berikut ini dan hadits lainnya yang (kelihatannya) berlawanan dengan ayat dan hadits diatas ini. Marilah kita telaah ayat-ayat ilahi –yang kelihatan berlawanan dengan ayat-ayat diatas tadi–mengatakan &lt;i&gt;‘bukan hanya Allah swt.’&lt;/i&gt; saja yang bisa menolong hamba-Nya:&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat Al-Maidah (5):55 : “&lt;i&gt;Sesungguhnya penolong kamu &lt;/i&gt;(Waliu-kum)&lt;i&gt; adalah Allah, dan &lt;u&gt;Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman&lt;/u&gt;, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk/rukuk &lt;/i&gt;(kepada Allah&lt;i&gt;)”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat At-Tahrim (66) : 4: &lt;i&gt;“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong &lt;/i&gt;(untuk menerima kebaikan),&lt;i&gt; dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan &lt;/i&gt;(begitupula)&lt;i&gt; &lt;u&gt;Jibril dan orang orang mukmin yang baik&lt;/u&gt;, dan selain dari itu &lt;u&gt;malaikat-malaikat&lt;/u&gt; adalah penolongnya pula”.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat Al-Maidah (5): 56: &lt;i&gt;“Dan barangsiapa mengambil Allah, &lt;u&gt;Rasul-Nya&lt;/u&gt; dan &lt;u&gt;orang-orang yang beriman&lt;/u&gt; menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut &lt;/i&gt;(agama)&lt;i&gt; Allah, itulah yang pasti menang”.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Surat An-Nisaa (4) : 75 : &lt;i&gt;&amp;nbsp;”Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan &lt;/i&gt;(membela)&lt;i&gt; orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini &lt;/i&gt;(Makkah&lt;i&gt;) yang lalim penduduknya dan berilah kami &lt;u&gt;pelindung&lt;/u&gt; &lt;/i&gt;(waliyan)&lt;i&gt; &lt;u&gt;dari sisi&lt;/u&gt; Engkau, dan berilah kami &lt;u&gt;penolong&lt;/u&gt; &lt;/i&gt;(nasira)&lt;i&gt; &lt;u&gt;dari&lt;/u&gt; &lt;u&gt;sisi&lt;/u&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Engkau”&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi jelas selain Allah swt. sebagai Pelindung dan Penolong ada hamba-&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;hamba-Nya dengan seizin-Nya juga sebagai Penolong dan Pelindung. Kalau kita baca ayat An- Nisaa: 75 ini manakala Allah sudah cukup sebagai Pelindung (waliyan) dan Penolong (Nasira), kemudian mengapa orang minta kepada Allah supaya orang lain (yang disisi-Nya) menjadi pelindungnya dan penolongnya? Apakah kita benar-benar menyekutukan sesuatu kepada Allah ketika kita percaya bahwa Jibril as, orang beriman dan para malaikat yang juga bisa sebagai Waliyyan (Pelindung) kita dan Naseer (Penolong) bersama-sama dengan Allah? Apakah empat ayat terakhir itu berarti Allah bukan satu-satunya wali (penolong) karena disamping Dia ada wali-wali yang lainnya? Dan apakah ini juga berarti bahwa tidak cukup hanya Dia (Allah swt) sebagai penolong?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jika kita tetap memakai pengertian Syirik,&amp;nbsp;maka kita secara otomatis dengan membaca ayat-ayatNya telah membuat Allah sendiri Musyrik -Na‘udzubillah- dan begitu pula dengan orang-orang yang percaya terhadap seluruh ayat Al-Qur’an.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hadits&amp;nbsp;yang diriwayatkan oleh Muslim , Abu Dawud dan lainnya bahwa Rasulallah saw. bersabda:&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;وَاللهُ فِى عَوْنِ العَبْدِ مَاكَانَ العَبْدُ فِى عَوْنِِ أخِيْهِ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Artinya: '…Allah menolong hamba-Nya selagi hamba itu mau menolong saudaranya’.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Jadi maksud ayat ilahi yang mengatakan hanya Allah swt. sebagai Penolong atau Pelindung dan hadits &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Jika engkau minta sesuatu mintalah...&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;dan hadits &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Allah menolong..’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; diatas ini ialah: Bila kita minta pertolongan dan perlindungan pada Malaikat, Rasulallah saw. dan hamba-Nya kita tidak boleh lupa dan lengah bahwa &lt;i&gt;sebab utama&lt;/i&gt; yang mendatangkan pertolongan dan pelindungan adalah Allah swt..Jadi akidahnya adalah:&amp;nbsp;Pada saat Allah berkata bahwa hanya Dialah satu-satunya dan cukuplah hanya Dia sebagai Wali (Penolong/Penjaga) itu maka Malaikat, Rasulallah saw. dan orang orang beriman atas izin-Nya termasuk didalamnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Kita bisa lihat taktik golongan Salafi, hanya akan menukil ayat-ayat yang mana Allah menyatakan bahwa &lt;i&gt;hanya Dialah sebagai Wali&lt;/i&gt; (Penolong). Dengan hanya merujuk ayat-ayat ini –dan mengenyampingkan ayat-ayat lainnya [yang kelihatannya berlawanan] dengan&amp;nbsp;ayat itu– orang Salafi mencoba menciptakan kesan bahwa mempercayai Rasulallah saw. sebagai Wali (Penolong) adalah &lt;i&gt;syirik.&lt;/i&gt; Kata-kata Wali dalam al-Qur’an sebanyak tiga puluh empat kali, dalam pengertian bahwa hanya Dia satu-satunya Pelindung, atau jangan ambil Pelindung selain Dia, atau cukuplah Dia sebagai Pelindung. Empat ayat didalam al-Qur’an, Allah saw. telah berkata bahwa Rasulallah, orang-orang beriman dan malaikat juga sebagai wali (penolong) kita.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Kalangan orang&amp;nbsp;Salafi berusaha meyakinkan dirinya bahwa &lt;i&gt;hanya Allah-lah&lt;/i&gt; yang bisa dimohoni secara langsung. Dan telah Syirik jika berkeyakinan bahwa Allah mempunyai beberapa perantara antara Dia dan mahluk-Nya. Mereka berkata; &lt;i&gt;Apakah Allah tuli &lt;/i&gt;–Na’udzubillah–&lt;i&gt; sehingga Dia tidak bisa mendengar kita secara langsung? Apakah Dia buta sehingga Dia tidak bisa melihat kita? Allah juga mengatakan bahwa tidak ada perantara disamping Dia&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Diantara dalil-dalil yang mereka sebutkan adalah:&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;‘Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;’&amp;nbsp; (QS [50] : 16)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;(jawablah)&lt;i&gt;, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi &lt;/i&gt;(segala perintah)&lt;i&gt;Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’. &lt;/i&gt;(QS Al-Baqarah :186)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp; ...&lt;i&gt;maka janganlah kamu berdo’a &lt;/i&gt;(menyembah)&lt;i&gt; kepada Allah (&lt;/i&gt;dengan)&lt;i&gt; menyertakan seseorang’.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;(QS[72]: 18)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;‘&lt;i&gt;Hanya bagi Allah-lah &lt;/i&gt;(yang berhak mengabulkan)&lt;i&gt; do’a yang benar. Apa-apa juga yang mereka seru selain Allah tidak akan dapat mengabulkan apapun juga bagi mereka’.&lt;/i&gt; (QS Ar Ra’ad :14)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;“&lt;i&gt;Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at&amp;nbsp; selain Allah. Katakanlah; ‘Dan apakah &lt;/i&gt;(kamu mengambilnya juga)&lt;i&gt; meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?”. Katakanlah: ‘&lt;u&gt;Hanya&lt;/u&gt; kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya lah kamu di kembalikan’ “.&lt;/i&gt;(QS Az-Zumar [39]: 43-44).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Marilah sekarang kita teliti ayat-ayat ilahi lainnya yang mengatakan bahwa hamba-Nya yang beriman bisa menjadi &lt;i&gt;perantara &lt;/i&gt;dan memberi &lt;i&gt;syafa’at&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;dengan izin-Nya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;i&gt;‘&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Mereka tidak dapat memberi syafa’at, &lt;u&gt;kecuali&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;orang yang telah mengadakan perjanjian disisi Tuhan yang Maha Pemurah’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;. (QS.[19] : 87).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;‘Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at, akan tetapi &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;(orang yang dapat memberi syafa’at ialah) &lt;i&gt;&lt;u&gt;orang yang mengakui yang hak&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;(baik/benar)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;dan mereka mengetahuinya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;(Muhammad saw.) .’ (QS Az Zukhruf [43] : 86)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;“&lt;i&gt;Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu &lt;/i&gt;(Muhammad)&lt;i&gt;, lalu memohon ampun kepada Allah, dan &lt;u&gt;Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;(QS [4] : 64)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Ayat An-Nisaa [4] : 64 ini, semua ahli tafsir (Mufassirin) termasuk golongan Salafi/Wahabi setuju bahwa ayat ini diturunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan yang kemudian mereka sadar atas kesalahannya dan ingin bertaubat. Mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, tapi lihat bagaimana kita memahami firman Allah dalam hal ini:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;– &lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;Alllah menolak untuk menerima permohonan ampun &lt;i&gt;secara langsung&lt;/i&gt; tapi Allah memerintahkan mereka untuk &lt;i&gt;terlebih dahulu mendatangi&lt;/i&gt; Rasulallah saw. dan kemudian &lt;i&gt;beliau saw. memintakan ampun&lt;/i&gt; kepada Allah swt.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;–&amp;nbsp; Allah memerintahkan &lt;i&gt;sahabat &lt;/i&gt;untuk bersikap seperti yang di perintahkan, &lt;i&gt;menyertakan&lt;/i&gt; Rasulallah saw. dalam &lt;i&gt;permohonan ampun mereka&lt;/i&gt;, hanya &lt;i&gt;setelah melakukan&lt;/i&gt; ini mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayang. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dengan demikian apakah kita menyekutukan Allah ketika berkata bahwa Rasulallah juga dapat memohonkan ampun atau memberi syafa’at atas izin-Nya? Apakah ada kontradiksi dalam al-Qur’an?&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Sudah tentu tidak. Jadi yang dimaksud adalah sebab utama pemberian ampun dan syafa’at adalah Allah, sedangkan Rasulallah saw. dan orang yang beriman atas izin-Nya termasuk didalamnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Marikita rujuk lagi ayat-ayat Ilahi mengenai pengampunan &lt;i&gt;melalui hamba-Nya&lt;/i&gt; diantaranya:&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Surat Ali Imran (3) :159:... “&lt;i&gt;Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan- lah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;ampun bagi mereka.”&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Surat An Nuur (24) : 62: ....&lt;i&gt;maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan &lt;u&gt;mohonkanlah ampunan untuk mereka&lt;/u&gt; kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Surat Muhammad (47) : 19: &lt;i&gt;‘Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan &lt;/i&gt;(Yang Hak)&lt;i&gt; melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi &lt;u&gt;dosamu&lt;/u&gt; dan &lt;u&gt;bagi&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;(dosa)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;orang-orang mukmin&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu’.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Surat Al-Mumtahanah (60) :12 : “ ..&lt;i&gt;., maka terimalah janji setia mereka dan &lt;u&gt;mohonkanlah ampunan&lt;/u&gt; kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Surat Al-Munafiquun (63) : 5-6 ; &lt;i&gt;‘Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar &lt;u&gt;Rasul&lt;/u&gt; memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang&amp;nbsp; fasik.’&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Sebenarnya terdapat sepuluh ayat dalam al-Qur’an yang mana Allah swt. menyatakan bahwa hanya Dialah sebagai satu-satunya perantara. Dan terdapat tujuh ayat&amp;nbsp; dalam al Qur’an yang menyatakan bahwa Rasulallah, orang-orang sholeh dan malaikat dapat menjadi &lt;i&gt;perantara&lt;/i&gt; kita atas izin Allah. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Masih terdapat banyak ayat al-Qur’an dan Hadits di mana mengatakan bahwa pertolongan, manfaat dan sebagainya bisa didapat (secara kiasan) dari selain Allah swt. Dan orang &lt;i&gt;tidak diperkenankan&lt;/i&gt; untuk mengartikannya secara &lt;i&gt;tekstual,&lt;/i&gt; yang jika dilakukan akan menimbulkan kontradiksi.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Disamping ayat-ayat Ilahi diatas ini juga ada ayat ilahi yang menerangkan disamping Allah swt. pemberi &lt;i&gt;karunia&lt;/i&gt; bahwa &lt;i&gt;Rasulallah saw.&lt;/i&gt; juga diberi izin untuk memberi &lt;i&gt;Karunia&lt;/i&gt;: Firman Allah swt. dalam ayat Al-Hadid (57):29 : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;‘(Kami terangkan yang demikian itu)&lt;i&gt; supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan &lt;u&gt;karunia&lt;/u&gt; Allah &lt;/i&gt;(jika mereka tidak beriman kepada Muhammad)&lt;i&gt;, dan bahwasanya karunia itu&lt;/i&gt; &lt;i&gt;adalah ditangan Allah. Dia&lt;/i&gt; &lt;i&gt;&lt;u&gt;berikan karunia&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;itu kepada &lt;u&gt;siapa yang dikehendaki&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;-&lt;i&gt;Nya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;. &lt;i&gt;Dan Allah mempunyai karunia yang besar’&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Pada ayat Al-Hadid 29 ini golongan Salafi berusaha membuktikan dengan cara yang sama bahwa orang Kafir dan Ahli Kitab telah Syirik karena percaya hal-hal seperti ini. Oleh karenanya –&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;menurut mereka– orang Ahlus-Sunnah telah jatuh kedalam kemusyrikan karenanya. Sayangnya mereka menolak sama sekali dengan ayat-ayat al-Qur’an yang lain diantaranya:&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Surat At Taubah (9) : 59: “&lt;i&gt;Jika mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan &lt;u&gt;demikian&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;(pula)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Rasul-Nya&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)”. Apakah kita telah syirik dengan mengatakan bahwa Rasulallah saw.. dapat memberikan karunia bersama dengan Allah swt.?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Surat At-Taubah (9):74 : “&lt;i&gt;Mereka &lt;/i&gt;(orang-orang munafik itu)&lt;i&gt; bersumpah dengan &lt;/i&gt;(nama)&lt;i&gt; Allah, bahwa mereka tidak mengatakan &lt;/i&gt;(sesuatu yang menyakitimu).&lt;i&gt; Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela &lt;/i&gt;(Allah dan Rasul-Nya)&lt;i&gt;, kecuali karena &lt;u&gt;Allah dan Rasul-Nya&lt;/u&gt; telah melimpahkan &lt;u&gt;karunia-Nya&lt;/u&gt; kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih didunia dan diakhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak &lt;/i&gt;(pula)&lt;i&gt; penolong di muka bumi”. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;yat-ayat seperti ini&amp;nbsp;bertentangan langsung dengan paham golongan Wahabi/Salafi tentang Syirik, maka mereka berusaha &lt;i&gt;menolak dan mengenyampingkannya&lt;/i&gt;. Mereka &lt;i&gt;menolak &lt;/i&gt;menyebutkan ayat-ayat yang serupa itu karena takut orang-orang akan&amp;nbsp; menjadi &lt;i&gt;syirik&lt;/i&gt;!&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Beberapa contoh lagi ayat-ayat didalam Al-Qur’an:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;–&amp;nbsp;&amp;nbsp; Allah menggunakan kata &lt;i&gt;Karim&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;untuk mensifati diri-Nya. Dalam surat&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&amp;nbsp;An-Naml :40;&amp;nbsp; &lt;i&gt;“Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk &lt;/i&gt;(kebaikan)&lt;i&gt; dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi &lt;u&gt;Maha Mulia&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;”.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;–&amp;nbsp; Allah swt. berfirman tentang Rasul-Nya dalam surat Al-Haaqqah (69):40; &lt;i&gt;‘Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu &lt;/i&gt;(Allah yang diturunkan kepada)&lt;i&gt; &lt;u&gt;Rasul yang mulia&lt;/u&gt;’. &lt;/i&gt;Sesungguhnya kata &lt;i&gt;Karim&lt;/i&gt; (Yang Mulia), ketika disifatkan kepada Allah itu maka itu merupakan arti &lt;i&gt;literal atau arti sebenarnya&lt;/i&gt;. Dan ketika disifatkan kepada Rasulallah arti disana mengandung &lt;i&gt;arti kiasan&lt;/i&gt;. Apakah kita beranggapan Allah telah syirik –na’udzubillah–&amp;nbsp; karena Allah telah memberikan sifat yang sama kepada selain-Nya.?&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;–&amp;nbsp; Allah swt. menerangkan bahwa Rasulallah saw. juga bersifat &lt;i&gt;Rahiim/ Penyayang&lt;/i&gt; terhadap sesama mukminin, sebagaimana firman-Nya dalam surat At-Taubah:128: &lt;i&gt;“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan &lt;/i&gt;(keimanan dan keselamatan)&lt;i&gt; bagimu, amat belas kasihan lagi &lt;u&gt;penyayang&lt;/u&gt; terhadap orang-orang mu’min”.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Kata-kata &lt;i&gt;Rahiim&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;adalah sifat Allah swt. yang literal atau sebenarnya, dan ketika disifatkan pada Rasul-Nya mengandung arti majazi/kiasan.&amp;nbsp;Apakah kita telah syirik dengan mengatakan bahwa Rasulallah saw.. Rahiim/ Penyayang? Sudah tentu tidak! Buktinya masih banyak dalam ayat Al-Qur’an, yang tidak tercantum semua disini, bahwa Allah swt. memberikan anugerah pada para Rasul-Nya dengan &lt;i&gt;mensifati mereka dengan sifat-Nya&lt;/i&gt; diantaranya:&amp;nbsp;&lt;i&gt;‘Qawi/kuat&lt;/i&gt; adalah sifat Allah, dan Al-Qur’an juga mengatakan bahwa Rasulallah saw. mempunyai sifat Qawi. ’&lt;i&gt;Alim&lt;/i&gt; adalah sifat Allah swt., yang mana Nabi Ismail as juga dikenal dengan sifat Alimnya. &lt;i&gt;Haliim &lt;/i&gt;adalah sifat Allah swt., Nabi Ibrahim dan Ismail a.s. juga dikenal dengan sifat &lt;i&gt;Halimnya&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Syakur &lt;/i&gt;adalah sifat Allah swt., Nabi Nuh as dikenal dengan sifat &lt;i&gt;Syakurnya’.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Jika orang Salafi/Wahabi tidak siap untuk menerima penggunaan ungkapan secara kiasan, maka bagaimana mereka akan menjawab mengapa Nabi Yusuf a.s menggunakan kata Tuanku (Robbi) –padahal kata Robbi sebutan untuk Allah swt.–kepada penguasa Mesir yang tercantum dalam surat Yusuf (12) : 23; &lt;i&gt;’Dan wanita &lt;/i&gt;(Zulaikha)&lt;i&gt; yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya &lt;/i&gt;(kepadanya)&lt;i&gt; dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah kesini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku &lt;/i&gt;(Robbi)&lt;i&gt; telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang lalim tiada akan beruntung’.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;(QS.Yusuf&amp;nbsp; : 23).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Kata-kata Tuanku (Robbi) –dalam surat Yusuf ini– sebagai ungkapan secara &lt;i&gt;majazi &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;kiasan &lt;/i&gt;dalam al-Qur’an, karena&amp;nbsp; jelas kata Robbi yang diucapkan oleh Nabi Yusuf as. ditujukan kepada &lt;i&gt;penguasa Mesir.&lt;/i&gt; Untuk lebih jelas kita bisa baca ayat sebelumnya (QS Yusuf : 21) yang berkaitan dengan ayat 23 diatas, dan semua Mufasirin (ahli tafsir) mempunyai penafsiran yang sama tentang ayat ini. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Ayat ini secara tidak langsung bertentangan dengan keyakinan golongan wahabi mengenai Tauhid dan literalisme. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Maulana Maududi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt; seorang ulama dari Pakistan dalam buku tafsirnya yang terkenal &lt;i&gt;Tafhimul Quran&lt;/i&gt; berusaha untuk &lt;i&gt;merubah arti ayat&lt;/i&gt; tersebut supaya sesuai dengan keyakinannya dan keyakinan teman-temannya golongan Salafi. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Sebagaimana yang dia tulis dalam bahasa Inggris:&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;“ Normally the “Mufassireen” (have committed a mistake and) taken from it that Yusuf (as) used the word of “rabi” (lord) for his Egyptian Master that how could he fornicate with his wife, as this would contravene his loyalty. But it is not suitable for the Prophets to commit a sin for the sake of others, instead of for the sake of Allah. And in the Qur’an too, there is no example that any of Rasool ever used the word of “lord” for anyone except Allah”. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Yang terjemahan bebasnya: “Pada umumnya para ahli tafsir (telah membuat kesalahan dan) yang karenanya (beranggapan) bahwa Yusuf (as) menggunakan kata ‘robbi’ sebagai sebutan pada penguasa Mesir saat itu, bagaimana mungkin beliau as. berhubungan intim (selingkuh) dengan isteri sang penguasa yang tentunya hal ini bertentangan dengan loyalitasnya. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Tetapi tidaklah mungkin bagi para Rasul melakukan dosa demi orang lain daripada demi Allah. Dan juga tidak ada contoh didalam al-Qur’an seorang Rasul yang menyebut selain Allah dengan sebutan ‘robbi’ “.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Pernyataan beliau ini tidak konsekwen karena Al-Qur’an telah jelas dalam masalah ini dan hampir tidak satupun ahli tafsir mulai abad pertama hijriah hingga abad ini yang memahami ayat diatas seperti Maulana Maududi menyarankannya. Begitu juga dalam masalah &lt;i&gt;tawassul&lt;/i&gt; Maulana Maududi ini &lt;i&gt;lebih extreem&lt;/i&gt; daripada golongan Salafi , Saudi Arabia . Beliau merubah arti firman Allah swt. –Surat Thaahaa berikut ini– karena bertentangan dengan keyakinannya. &lt;i&gt;‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari &lt;u&gt;jejak Rasul&lt;/u&gt; lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku’.&lt;/i&gt; (QS Thaahaa (20) : 96)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Pemerintah Saudi Arabia menerbitkan Al-Qur’an dalam &lt;i&gt;bahasa Urdu&lt;/i&gt; yang menerima/mengakui tentang &lt;i&gt;barakah&lt;/i&gt; ini walaupun hal itu berlawanan dengan keyakinan mereka. Tapi Maulana Maududi berusaha dengan keras merubah arti ayat dan menolak untuk menerima tentang &lt;i&gt;barakah&lt;/i&gt; dalam ayat ini. Hampir semua hadits Rasulallah saw. menginformasikan bahwa yang dimaksud dengan &lt;i&gt;Rasul&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;dalam ayat diatas adalah malaikat &lt;i&gt;Jibril as&lt;/i&gt;. Semua ahli tafsir dari abad pertama tahun Hijriah hingga sekarang menerima yang&amp;nbsp; adanya &lt;i&gt;barokah &lt;/i&gt;dalam jejak Jibril as, tetapi Maulana Maududi menolak akan adanya barokah dalam jejak Jibril as. itu karena bertentangan dengan keyakinannya! &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Setelah membaca keterangan-keterangan ini, insya Allah jelas bagi para pembaca&amp;nbsp; bahwa Al-Qur’an dan Sunnah mempunyai arti &lt;i&gt;harfiah&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;literal &lt;/i&gt;(apa adanya tekst atau arti sebenarnya) dan arti &lt;i&gt;majazi atau kiasan&lt;/i&gt;. Sifat-sifat yang ada pada Allah swt. juga telah digunakan oleh Allah buat para nabi-Nya. Tapi ini tidak berarti bahwa para Nabi as telah menjadi pemilik sifat-sifat yang ada pada Allah swt.. Mereka bukanlah pemilik, tapi hanya sekedar diberi sebagian sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat pada Allah swt. ini&amp;nbsp; adalah merupakan arti literal atau sebenarnya sedangkan yang disifatkan pada para Rasul-Nya mengandung arti kiasan. Begitupun juga halnya dengan syair-syair yang ditulis atau diucapkan oleh para sahabat dan ulama-ulama pakar lainnya yang ditujukan kepada Rasul&amp;nbsp; saw. atau pada waliyullah, orang-orang sholihin dengan menyebut kata-kata sebagai sifat Allah swt. (Penolong, Pelindung, Pengampun dosa dan sebagainya).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Golongan Wahabi/Salafi ini juga melontarkan kata-kata &lt;i&gt;Syirik&lt;/i&gt; kepada para ulama&amp;nbsp;–para penyair atau pengarang kitab-kitab: Diba’, Barzanji,&amp;nbsp; Burdah dan lain-lain– yang didalam bait-bait syairnya antara lain terkandung sifat-sifat Allah swt. yang ditujukan pada Rasulallah saw.. Padahal diantara sifat-sifat Allah swt (Pengampun, Penolong, Pengabul hajat dan....) yang di tujukan&amp;nbsp; pada Rasulallah saw. tersebut adalah sebagai &lt;i&gt;kiasan,&lt;/i&gt; sebagaimana firman Allah swt. yang menyebutkan juga sifat yang dimiliki-Nya pada para Malaikat, Nabi-Nya. Semuanya itu mengandung arti kiasan, sedangkan penyair dan pembaca serta pendengar syair itu tahu dan tidak lengah &lt;i&gt;sebab utama&lt;/i&gt; yang memberi pelindungan dan penolongan dan sebagainya adalah Allah swt., sedangkan Malaikat, Rasulallah saw. dan hamba-Nya yang sholeh termasuk didalamnya atas izin-Nya.&amp;nbsp;Mereka selalu berusaha menafsirkan ayat Al-Qur’an dan Sunnah menurut keyakinannya walaupun tafsirannya itu bertentangan dengan para ahli tafsir pakar diberbagai&amp;nbsp;madzhab.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dengan adanya penjelasan tersebut mengenai keyakinan atau akidah golongan Salafi, maka kita bisa ambil kesimpulan bahwa Rasulallah saw. dan para sahabat &lt;i&gt;bukan &lt;/i&gt;dari golongan orang Salafi/Wahabi, ini disebabkan karena:&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;–&amp;nbsp; Para sahabat sering menjadikan Rasulallah saw. dan hamba yang sholeh sebagai perantara antara Allah dan mereka, seperti halnya yang telah diterangkan diatas.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;– &amp;nbsp; Para sahabat sering memerlukan Nabi saw. untuk memohonkan perlindungan dan pengampunan dari Allah swt., walaupun Allah sendiri sanggup mendengar setiap ucapan dan panggilan para sahabat tersebut dan Dia juga lebih dekat di banding urat lehernya (para hamba-Nya).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;– &amp;nbsp;Rasulallah saw. tidak menolak permohonan para sahabat dan tidak bersabda kepada sahabat:&amp;nbsp;‘Pergilah dan mintalah pada Allah swt. secara langsung’!&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Dengan adanya ayat-ayat ilahi yang telah diuraikan tadi menunjukkan ke biasaan para sahabat meminta agar Rasulallah saw. berdo’a untuk mereka dan memintakan ampun pada Allah swt..&lt;i&gt;Bagaimana golongan Salafi &lt;/i&gt;(baca: Wahabi)&lt;i&gt; ini sering mengatakan akan mengajarkan ajaran Islam yang paling murni dan pengikut para Salaf Sholeh, bila akidah mereka ini ber tentangan dengan Rasulallah saw. dan para sahabatnya &lt;/i&gt;(tokoh dari para Salaf Saleh)?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;Setelah membaca keterangan singkat ini kita sekarang bisa sedikit mengetahui perbedaan antara paham madzhab Salafi/Wahabi serta pengikutnya dengan paham madzhab sunnah wal jama’ah &lt;i&gt;tentang cara memohon&lt;/i&gt; kepada Allah melalui Rasul-Nya atau melalui orang yang sholeh. Kita juga percaya perantaraan (tawassul) kepada Rasulallah saw. dan orang-orang yang beriman ini termasuk permohonan kepada Allah bukan permohonan pada hamba-Nya, dan ini merupakan cara yang baik untuk sampai kepada Allah swt. kesempatan untuk dikabulkannya do’a kita malah lebih besar . Dan faktanya telah dibuktikan oleh Al-Qur’an dan Hadits.(keterangan lebih mendetail baca bab Tawassul/Tabarruk dibuku ini). Contoh ini sama seperti kita berdo’a dirumah. Tapi jika do’a dilakukan di tempat-tempat sekitar Ka’bah, di masjid Nabi saw. sekitar makam Rasulallah saw. maka &lt;i&gt;barokah&lt;/i&gt; dari tempat-tempat mulia tersebut juga menyertainya dan kemungkinan untuk dikabulkannya do’a kita lebih besar. Golongan Salafi/Wahabi ini ingin menghapus kebiasaan-kebiasaan Islam (seperti tawassul/tabarruk dll.) yang mereka katagorikan&amp;nbsp;sebagai Syirik, maka tentu saja hal ini tidak bisa diterima oleh pakar Islam selain kalangan orang Wahabi dan pengikutnya!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9035263491279041580-601399310975182213?l=wahabi-selawat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/601399310975182213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/601399310975182213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahabi-selawat.blogspot.com/2010/09/tolok-ukur-tauhid-dan-syirik.html' title='Tolok Ukur Tauhid Dan Syirik'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9035263491279041580.post-2600563462083406263</id><published>2010-09-23T06:53:00.000-07:00</published><updated>2010-09-23T06:53:26.728-07:00</updated><title type='text'>Defenisi Ibadah Berdasarkan Pemahaman Al-Qur’an</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibadah ialah ketundukan kata-kata dan perbuatan, yang bersumber dari keyakinan adanya &lt;i&gt;sifat uluhiyyah&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;sifat rububiyyah&lt;/i&gt; pada diri sesuatu yang di-ibadahi, atau keyakinan bahwa sesuatu itu &lt;i&gt;merdeka&lt;/i&gt; didalam perbuat- annya, atau memiliki kekuasaan atas salah satu segi dari kehidupannya secara merdeka dan terlepas dari kekuasaan Allah. Maka seluruh perbuatan yang disertai dengan keyakinan seperti itu terhitung sebagai perbuatan syirik kepada Allah. Oleh karena itu, kita menemukan orang-orang musyrik jahiliyyah meyakini bahwa sesembahan-sesembahan mereka memiliki sifat-sifat ketuhanan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="DA" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Qur’an al-Karim dengan gamblang telah menjelaskan hal ini. Allah swt. berfirman, “&lt;i&gt;Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka”. &lt;/i&gt;(QS. Maryam:81). Allah swt. telah menjelaskan hal ini didalam firman-Nya yang berarti: “&lt;i&gt;Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari &lt;/i&gt;(kejahatan)&lt;i&gt; orang-orang yang memperolok-olok kamu, &lt;/i&gt;(yaitu)&lt;i&gt; orang-orang yang menganggap adanya Tuhan yang lain di samping Allah; maka kelak mereka akan mengetahui akibat- nya”.&lt;/i&gt; (QS. al-Hijr: 94-96).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="DA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="DA" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="DA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="DA"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="DA" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ayat-ayat diatas ini&amp;nbsp;menjelaskan bahwa terperosoknya para penyembah berhala kedalam kemusyrikan ialah disebabkan mereka meyakini sesembahannya &lt;i&gt;memiliki sifat-sifat ketuhanan. &lt;/i&gt;Ayat-ayat tersebut menetapkan perbandingan didalam masalah syirik. Yaitu &lt;i&gt;keyakinan&lt;/i&gt; akan adanya sifat-sifat ketuhanan pada diri &lt;i&gt;ma’bud&lt;/i&gt; (sesuatu yang disembah). Oleh karena itu, mereka menolak dan mengingkari akidah tauhid yang dibawa oleh Rasulallah saw.. Allah swt. berfirman, &lt;i&gt;“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, ‘Tiada Tuhan selain Allah’, mereka menyombongkan diri.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. ash-Shaffat: 35). Semua dakwah para nabi kepada manusia ditujukan untuk memerangi keyakinan mereka yang mengatakan adanya Tuhan selain Allah. Orang musyrikin meyakini pada diri sesuatu yang disembah (ma’bud) mempunyai &lt;i&gt;sifat ketuhanan&lt;/i&gt;. Karena, tidaklah masuk akal ada ibadah yang tidak disertai dengan keyakinan adanya sifat ketuhanan pada diri &lt;i&gt;ma’bud&lt;/i&gt; (sesuatu yang disembah). Dengan kata lain, &lt;i&gt;meyakini&lt;/i&gt; terlebih dahulu, baru kemudian &lt;i&gt;menyembah. &lt;/i&gt;Allah swt. berfirman, “&lt;i&gt;Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;(QS. al-A’raf: 59). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dengan demikian, Al-Qur’an telah menjelaskan penyimpangan mereka dari Tuhan yang sesungguhnya. Jadi jelas perbandingan dalam masalah syirik ialah &lt;i&gt;ketundukan&lt;/i&gt; yang disertai dengan &lt;i&gt;keyakinan&lt;/i&gt; akan adanya &lt;i&gt;sifat-sifat ketuhanan&lt;/i&gt;. Terkadang kemusyrikan itu sebagai hasil dari keyakinan adanya sifat rububiyyah pada diri ma’bud. Artinya,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;seseorang meyakini bahwa sesembahan nya memiliki kekuasaan atas urusannya, seperti urusan penciptaan, pemberian rezeki, hidup dan mati. Dengan demikian, orang yang tunduk kepada sesuatu dengan keyakinan sesuatu itu mempunyai &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;sifat-sifat rububiyyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; maka berarti dia telah beribadah kepadanya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Qur’an menyeru orang-orang kafir dan orang-orang musyrik untuk menyembah Tuhan yang Mahabenar. Allah swt. berfirman; &lt;i&gt;“Padahal al-Masih berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabb-mu &lt;/i&gt;(Tuhanmu)&lt;i&gt; dan Rabb-ku &lt;/i&gt;(Tuhanku)’.&amp;nbsp;(QS. al-Maidah:&amp;nbsp;72). Firman-Nya: &lt;i&gt;“Sesungguhnya &lt;/i&gt;(agama tauhid)&lt;i&gt; ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabb-mu &lt;/i&gt;(Tuhanmu),&lt;i&gt; maka sembahlah Aku.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;( QS. al-Anbiya: 92)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Disana juga terdapat tolok ukur yang ketiga. Yaitu keyakinan bahwa &lt;i&gt;sesuatu itu merdeka&lt;/i&gt; didalam zat dan perbuatannya, dengan tanpa bersandar kepada Allah swt. Sikap &lt;i&gt;khudhu’ &lt;/i&gt;yang disertai denga&lt;i&gt;n keyakinan &lt;/i&gt;seperti yang telah &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;dikemukakan tadi&lt;i&gt; termasuk syirik. &lt;/i&gt;Jika anda tunduk dihadapan seorang manusia, dengan &lt;i&gt;keyakinan&lt;/i&gt; bahwa dia &lt;i&gt;merdeka &lt;/i&gt;didalam perbuatannya, baik perbuatannya itu&amp;nbsp;perbuatan yang biasa, seperti berbicara dan bergerak,&amp;nbsp;maupun seperti mukjizat yang dilakukan oleh para nabi, maka ketundukan anda ini masuk kedalam kategori ibadah. Bahkan, jika seandainya seorang manusia meyakini bahwa &lt;i&gt;tablet obat&lt;/i&gt; menyembuhkan penyakit kepala secara merdeka dan &lt;i&gt;terlepas&lt;/i&gt; dari kekuasaan Allah swt., maka keyakinannya ini terhitung syirik. Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa tolak ukur ibadah bukanlah semata-mata penampakkan ketundukan dan perendahan diri, melainkan ketundukan dan perendahan diri dengan ucapan maupun perbuatan kepada sesuatu yang &lt;i&gt;diyakini&lt;/i&gt; bahwa dia itulah, &lt;i&gt;Rabb,&lt;/i&gt; atau pemilik salah satu dari urusannya secara merdeka dan terlepas dari kekuasaan Allah swt.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9035263491279041580-2600563462083406263?l=wahabi-selawat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/2600563462083406263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/2600563462083406263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahabi-selawat.blogspot.com/2010/09/defenisi-ibadah-berdasarkan-pemahaman.html' title='Defenisi Ibadah Berdasarkan Pemahaman Al-Qur’an'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9035263491279041580.post-2337937839379279673</id><published>2010-09-23T06:51:00.000-07:00</published><updated>2010-09-23T06:51:24.625-07:00</updated><title type='text'>Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tauhid Rububiyyah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mari kita mulai dengan pembahasan singkat tauhid rububiyyah, yang menjelaskan kata &lt;i&gt;ar-Rabb&lt;/i&gt; dengan arti &lt;i&gt;Pencipta&lt;/i&gt;, hal ini sangat jauh dari apa yang dimaksud oleh Al-Qur’an. Sebenarnya arti kata ar-Rabb didalam bahasa dan didalam Al-Qur’an al-Karim tidak keluar dari arti &lt;i&gt;“ Yang memiliki urusan pengelolaan dan pengaturan”.&lt;/i&gt; Makna umum ini sejalan dengan berbagai macam ekstensi (mishdaq)-nya, seperti pendidikan, perbaikan, kekuasaan, dan kepemilikan. Akan tetapi, kita tidak bisa menerapkan kata ar-Rabb kepada arti Penciptaan, sebagaimana yang dikatakan oleh golongan Wahabi/Salafi. Untuk membuktikan secara jelas kesalahan ini, marilah kita merenungkan ayat-ayat berikut ini, supaya kita dapat menyingkap arti kata ar-Rabb yang terdapat didalam Aal-Qur’an:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Surat Al Baqarah (2) : 21: &lt;i&gt;“Wahai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu.” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat Al Anbiyaa (21) : 56: “&lt;i&gt;Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya “. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jika kata &lt;i&gt;ar-Rabb&lt;/i&gt; berarti Pencipta maka ayat-ayat diatas tidak diperlukan penyebutan kata &lt;i&gt;yang telah menciptakanmu&lt;/i&gt; atau kata &lt;i&gt;yang telah menciptakannya&lt;/i&gt;. Karena jika tidak, maka berarti terjadi pengulangan kata yang tidak perlu. Jika kita meletakkan kata &lt;i&gt;al-Khaliq&lt;/i&gt; (Pencipta) sebagai ganti kata ar-Rabb pada kedua ayat di atas, maka tidak lagi diperlukan penyebutan kata &lt;i&gt;yang telah menciptakanmu&lt;/i&gt; dan kata &lt;i&gt;yang telah menciptakannya&lt;/i&gt;. Sebaliknya, jika kita mengatakan bahwa arti kata ar-Rabb adalah Pengatur atau Pengelola, maka disana tetap diperlukan penyebutan kata &lt;i&gt;yang telah menciptakanmu &lt;/i&gt;dan kata &lt;i&gt;yang telah menciptakannya. &lt;/i&gt;Sehingga dengan demikian, makna atau arti ayat yang pertama diatas ialah &lt;i&gt;“sesungguhnya Zat yang telah menciptakanmu adalah pengatur urusanmu&lt;/i&gt;”, sementara arti pada ayat yang kedua ialah “&lt;i&gt;Sesungguhnya pencipta langit dan bumi adalah penguasa dan pengatur keduanya &lt;/i&gt;“. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Adapun bukti-bukti yang menunjukkan kepada makna ini banyak sekali, namun tidak perlu&amp;nbsp;diungkapkan dibuku ini karena akan membutuhkan cukup waktu untuk menjelaskannya secara rinci.Oleh karena itu, perkataan Muhammad Ibnu Abdul-Wahhab yang berbunyi “&lt;i&gt;Adapun tentang tauhid rububiyyah, baik Muslim maupun&amp;nbsp;Kafir mengakuinya”&lt;/i&gt; adalah perkataan yang tanpa dasar, dan jelas-jelas ditentang oleh nash-nash Al-Qur’an, yang firman-Nya:”&lt;i&gt;Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu.”&lt;/i&gt; (QS. al-An’am: 164). Firman Allah swt kepada Rasul-Nya ini tidak lain berarti agar beliau menyampaikan kepada kaumnya sebagai berikut: &lt;i&gt;‘Apakah engkau memerintahkan aku untuk mengambil Rabb (Tuhan) yang aku akui pengelolaan dan pengaturannya selain Allah, yang tidak ada pengatur selain-Nya&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;sebagaimana engkau mengambil berhala-berhalamu dan mengakui pengelolaan dan pengaturannya’. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jika semua orang-orang kafir mengakui bahwa pengelolaan dan pengaturan hanya semata-mata milik Allah –sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab– maka ayat Al-An’am itu tidak mempunyai arti sama sekali, sehingga hanya menjadi sesuatu yang sia-sia, na’udzu billah. Karena setiap manusia –berdasarkan sangkaan Muhammad bin Abdul Wahhab ini– baik muslim maupun kafir, semuanya &lt;i&gt;mentauhidkan &lt;/i&gt;Allah didalam rububiyyahnya, maka tentu mereka tidak memerintahkan untuk mengambil Rabb selain Allah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Terdapat juga ayat yang berkenaan dengan seorang yang beriman dari kalangan keluarga Fir’aun. Allah swt. berfirman didalam&amp;nbsp; surat al-Mukmin [40]:28: “&lt;i&gt;Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia mengatakan, ‘Rabbku ialah Allah’, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu”. &lt;/i&gt;Demikian juga, berpuluh-puluh ayat lainnya menguatkan bahwa kata &lt;i&gt;ar-Rabb&lt;/i&gt; bukanlah berarti Pencipta, melainkan berarti Pengatur, yang di tangan-Nya terletak pengaturan segala sesuatu. Kata ar-Rabb dengan arti ini (yaitu Pencipta), sebagaimana ditekankan oleh ayat-ayat Al-Qur’an, tidak menjadi kesepakatan diantara anggota manusia. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Muhammad bin Abdul Wahhab telah menukil pemikiran ini dari Ibnu Taimiyyah &lt;i&gt;tanpa&lt;/i&gt; melalui proses pengkajian, sehingga bahaya yang ditimbulkannya atas kaum Muslimin sangat besar. Ibnu Taimiyyah tidak mengeluarkan pemikiran ini dari kerangka ilmiah. Berbeda dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, yang di tunjang oleh keadaan sehingga bisa melaksanakan pemikiran ini pada tataran praktis dan menerapkannya pada kaum Muslimin. Maka hasil dari semua ini ialah, mereka &lt;i&gt;mudah mengkafirkan&lt;/i&gt; madzhab lain selain madzhab Wahabi.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Memang ada ayat yang artinya, ‘&lt;i&gt;dan jika engkau bertanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: Allah,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;maka bagaimana mereka dapat dipalingkan&lt;/i&gt; (dari menyembah Allah swt)’? (al-Zukhruf: 87). Namun ayat berikutnya, menjelaskan bahwa mereka bukan kaum yang beriman.Firman Allah swt: ‘&lt;i&gt;Dan &lt;/i&gt;(Allah mengetahui) &lt;i&gt;ucapan nya &lt;/i&gt;(Muhamad)&lt;i&gt;: Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang &lt;u&gt;tidak beriman&lt;/u&gt;. Maka berpalinglah &lt;/i&gt;(hai Muhamad)&lt;i&gt; dari mereka...&lt;/i&gt;sampai akhir ayat‘(al-Zukhruf: 88-89). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Baik al-qur’an maupun sunnah tidak ada menyebut bahwa orang-orang Musyrik beriman dengan tauhid rububiah saja! Sebaliknya al-quran mengatakan dengan jelas, bahwa mereka bukan orang yang beriman. Bagaimana kita boleh mengubahnya mengatakan mereka beriman dengan tauhid rububiah? Telah diketahui oleh kaum muslimin dari zaman dahulu&amp;nbsp;banyak orang kafir tidak mengakui wujudnyaTuhan, apalagi mentauhidkan-Nya!&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tauhid Uluhiyyah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Supaya lebih jelas, kita akan mengkaji pandangan Muhammad Abdul Wahhab mengenai seputar tauhid uluhiyyah. Yang dimaksud dengan tauhid uluhiyyah oleh kalangan Wahabi ialah bahwa ibadah semata-mata hanya untuk Allah swt., dan seseorang tidak boleh menyekutukan-Nya dengan yang lainnya di dalam beribadah kepada-Nya. Inilah tauhid yang menjadi tujuan diutusnya para Nabi dan para Rasul. Kita semua &lt;i&gt;tidak ada keraguan&lt;/i&gt; sedikitpun tentang pemahaman ini. Namun, disana terdapat kekaburan mengenai istilah. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Karena, didalam Al-Qur’an, Allah swt. bukanlah berarti &lt;i&gt;al-ma’bud&lt;/i&gt;. Kita dapat menamakan tauhid ini dengan tauhid ibadah. Namun demikian tidak ada masalah dengan istilah jika kita telah sepakat mengenai pemahamannya.Kaum Muslimin sepakat akan wajibnya menjauhkan diri dari ber-ibadah kepada selain Allah swt. dan hanya semata-mata kepada-Nya kita beribadah. Namun yang menjadi perselisihan ialah &lt;i&gt;mengenai batasan pengertian ibadah&lt;/i&gt;. Dan ini merupakan sesuatu yang paling penting didalam bab ini. Karena, inilah yang menjadi tempat tergelincirnya kaki golongan&amp;nbsp;muslimin yang melarang tawassul/tabarruk, ta'dhim/penghormatan kepada para Rasul dan para sholihin baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup. Jika kita mengatakan bahwa &lt;i&gt;tauhid yang murni&lt;/i&gt; ialah kita mempersembahkan ibadah semata-mata kepada Allah swt., maka yang demikian tidak akan ada artinya jika kita tidak mendefenisikan terlebih dahulu pengertian ibadah, sehingga kita mengetahui batas-batasannya, yang tentunya akan menjadi tolak ukur yang tetap bagi kita untuk membedakan seorang &lt;i&gt;muwahhid&lt;/i&gt; (yang bertauhid) dan seorang musyrik. Sebagai contoh, orang yang &lt;i&gt;bertawassul &lt;/i&gt;kepada para wali menziarahi kuburan mereka, mengagungkan mereka, apakah termasuk &lt;i&gt;seorang musyrik&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;seorang muwahhid&lt;/i&gt; (bertauhid)? Sebelum kita menjawab, kita harus terlebih dahulu mempunyai ukuran yang dengannya kita dapat menyingkap ekstensi-ekstensi ibadah pada kenyataan diluar.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Golongan Wahab/Salafii menganggap, bahwa seluruh ketundukan, perendahan diri dan penghormatan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;adalah ibadah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;, &lt;i&gt;ini pengertian yang salah! &lt;/i&gt;Golongan Wahabi/Salafi ini menganggap bahwa &lt;i&gt;setiap &lt;/i&gt;bentuk ketundukan atau perendahan diri seorang pada &lt;span style="color: black;"&gt;sesuatu (Nabi Allah, Wali Allah dan sebagainya), orang tersebut dianggap &lt;i&gt;sebagai hamba&lt;/i&gt; sesuatu tersebut, dilain kata dia telah &lt;i&gt;menyembahnya&lt;/i&gt;. Dengan demikian berarti dia telah menyekutukan Allah. Menurut golongan ini bila seorang yang menempuh perjalanan yang jauh dengan tujuan untuk menziarahi Rasulallah saw., sehingga dapat mencium dan menyentuh makamnya yang suci, dengan tujuan &lt;i&gt;bertabarruk&lt;/i&gt; (baca bab Tabarruk), maka dia terhitung sebagai orang &lt;i&gt;kafir dan orang musyrik&lt;/i&gt;. Demikian juga halnya dengan orang yang mendirikan bangunan di atas kuburan, untuk menghormati dan mengagungkan orang yang dikubur didalamnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Muhammad Ibnu Abdul Wahhab berkata pada salah satu risalahnya:&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;“.....Barangsiapa yang menginginkan sesuatu dari kuburan, pohon, bintang, para malaikat atau para Rasul, dengan tujuan untuk memperoleh manfaat atau menghilangkan bahaya, maka dia telah menjadikannya sebagai Tuhan selain Allah. Berarti dia telah berdusta dengan ucapannya yang berbunyi‘ Tidak ada Tuhan selain Allah’. Dia harus diminta bertaubat. Jika dia bertaubat, dia dibebaskan; namun jika tidak, maka dia harus dibunuh. Jika orang musyrik ini berkata, ‘Saya tidak bermaksud darinya kecuali hanya untuk bertabarruk, dan saya tahu bahwa Allah-lah yang memberikan manfaat dan mendatangkan&lt;i&gt; &lt;/i&gt;madharat.’ Katakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya Bani-Israilpun tidak&lt;i&gt; &lt;/i&gt;menghendaki kecuali apa yang kamu kehendaki’. Sebagaimana yang telah Allah swt. beritakan tentang mereka. Yaitu manakala mereka telah berhasil menyeberangi laut, mereka&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="color: maroon; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;mereka mendatangi sebuah kaum yang tengah menyembah berhala mereka. Kemudian Bani Israil berkata&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; berkata, ‘&lt;i&gt;Hai Musa, buatkanlah untuk kami seorang Tuhan sebagaimana Tuhan-Tuhan yang mereka miliki’&lt;/i&gt;, kemudian Musa berkata, ‘Sesungguhnya kamu adalah kaum yang bodoh.’” (‘Aqa’id al-Islam, kumpulan surat-surat Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.26). &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Muhammad bin Abdul Wahhab juga berkata didalam risalahnya yang lain: “Barangsiapa yang bertabarruk&lt;b&gt; &lt;/b&gt;kepada batu atau kayu, atau menyentuh kuburan atau kubah dengan tujuan untuk bertabarruk (mengambil barokah) kepada mereka, maka berarti dia telah menjadikan mereka sebagai Tuhan-Tuhan yang lain”.&amp;nbsp;(‘Aqa’id al-Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.26)&amp;nbsp;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Selain dari Muhammad Abdul Wahhab ini, mari kita rujuk juga kata-kata seorang dari golongan Wahabi –&lt;i&gt;Muhammad Sulthan al-Ma’shumi&lt;/i&gt;–&lt;i&gt; &lt;/i&gt;terhadap kaum Muslimin yang meng-Esakan Allah&amp;nbsp;dan sedang menziarahi kuburan Rasulallah saw. untuk &lt;i&gt;bertabarruk&lt;/i&gt; kepada Nabi saw. sebagai berikut:&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Pada kunjungan saya yang ke empat kekota Madinah, saya menyaksikan di Mesjid Nabawi disisi kuburan Rasulallah saw. yang mulia, banyak sekali terdapat hal-hal yang bertentangan dengan iman, hal-hal yang menghancurkan Islam dan hal-hal yang membatalkan ibadah, yaitu berupa kemusyrikan-kemusyrikan yang muncul disebabkan sikap berlebihan, kebodohan, taklid buta dan ta’assub yang batil. Sebagian besar yang melakukan kemunkaran-kemunkaran ini adalah orang-orang asing (bukan orang Saudi sendiri ?) yang berasal dari berbagai penjuru dunia, yang mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat agama. Mereka telah menjadikan kuburan Rasulallah saw. sebagai berhala&lt;b&gt;,&lt;/b&gt; disebabkan cinta yang berlebihan, sementara mereka tidak merasa.”(Al–Musyahadat al-Ma’shumiyyah ‘Inda Qabr Khair al-Bariyyah, hal.15) .&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sudah jelas bagi orang yang berpendidikan agama akan menolak tegas pikiran&amp;nbsp;si Syekh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan Muhammad Sulthan al-Ma’shumi ini, dengan adanya omongannya itu menunjukkan mereka tidak bisa membedakan antara &lt;i&gt;‘ibadah dan ta’dzim/&lt;/i&gt;penghormatan. Baik menurut &lt;i&gt;syariat maupun akal&lt;/i&gt;, kita tidak dapat meletakkan secara keseluruhan kata &lt;i&gt;khudhu’&lt;/i&gt; (ketundukkan) dan &lt;i&gt;tadzallul &lt;/i&gt;(perendahan diri) sebagai &lt;i&gt;ibadah. &lt;/i&gt;Kita melihat banyak sekali perbuatan yang dilakukan oleh manusia didalam kehidupan sehari-harinya yang disertai dengan ketundukkan dan perendahan diri. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Contohnya; ketundukkan seorang murid kepada gurunya dan begitu juga &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ketundukkan seorang prajurit yang berdiri hormat dan sebagainya dihadapan komandannya. Tidak mungkin ada seorang manusia yang berani mengatakan perbuatan yang mereka lakukan itu &lt;i&gt;ibadah&lt;/i&gt;. Allah swt. telah memerintahkan kita untuk menampakkan diri kepada kedua orang tua ketundukkan dan perendahan. Sebagaimana firman-Nya: “&lt;i&gt;Dan turunkanlah sayapmu &lt;/i&gt;(rendahkan lah dirimu)&lt;i&gt; dihadapan mereka berdua dengan penuh kasih sayang”. &lt;/i&gt;Kata “&lt;i&gt;penurunan sayap&lt;/i&gt;” disini adalah merupakan kiasan dari ketundukan yang tinggi. Kita tidak mungkin menyebut perbuatan ini sebagai ibadah. Bahkan, pedoman seorang muslim adalah “tunduk dan merendahkan diri di hadapan seorang Mukmin, serta congkak dan meninggikan diri dihadapan orang kafir”. Sebagaimana Allah swt. berfirman, “&lt;i&gt;Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir”. &lt;/i&gt;Jika semua perendahan diri dikatakan sebagai ibadah, berarti Allah telah memerintahkan orang-orang mukmin untuk beribadah kepada satu sama lainnya. Jelas, ini sesuatu yang mustahil! &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Banyak ayat ilahi dengan jelas berbicara tentang hal ini, dan menafikan sama sekali klaim yang dikatakan oleh golongan Wahabi/Salafi. Diantaranya ialah, ayat yang menceritakan sujudnya para malaikat kepada Adam. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sujud adalah merupakan peringkat tertinggi dari &lt;i&gt;khudhu’&lt;/i&gt; (ketundukkan) dan &lt;i&gt;tadzallul&lt;/i&gt; (perendahan diri). Allah swt. berfirman: &lt;i&gt;“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam’”.&lt;/i&gt;(QS. al-Baqarah: 34). Jika sujud kepada selain Allah swt. dan penampakkan puncak ketundukkan dan perendahan diri itu disebut ‘&lt;i&gt;ibadah&lt;/i&gt;’ –sebagaimana yang dikatakan oleh kalangan Salafi/Wahabi– maka tentu para malaikat ,&lt;i&gt;na’udzu billah,&lt;/i&gt; telah musyrik dan kafir. Dari ayat ini kita dapat mengetahui bahwa puncak dari ketundukkan bukanlah ibadah. Disamping itu, tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa kata &lt;i&gt;‘sujud’&lt;/i&gt; didalam ayat ini berarti makna hakiki/yang sesungguhnya. Banyak ahli tafsir menulis bahwa sujud diayat tersebut berarti sujud penghormatan atau &lt;i&gt;ta’dzim&lt;/i&gt; terhadap Adam a.s jadi bukan sujud ibadah atau sujud kepada Adam untuk dijadikan sebagai kiblatnya, sebagaimana menjadikan &lt;i&gt;Ka’bah &lt;/i&gt;sebagai kiblat mereka.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi pikiran dan kata-kata &lt;i&gt;Muhammad Ibnu Abdul Wahhab&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Muhammad Sulthan al-Ma’shumi&lt;/i&gt;, seperti tersebut diatas ini adalah pikiran yang tidak benar dan tanpa dasar. Karena, seandainya arti sujud kepada Adam adalah berarti menjadikan Adam sebagai kiblat atau sebagai penyembahan, maka tidak ada alasan bagi Iblis untuk mengajukan protes. Iblis protes karena sujud ditujukan kepada Adam ini bukan dalam arti hakiki/sesungguhnya hanya sebagai penghormatan tinggi saja. Begitu juga Al-Qur’an al-Karim telah mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan kemungkinan diatas. Yaitu melalui perkataan Iblis yang berbunyi, &lt;i&gt;“Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. al-Isra: 61). Yang Iblis pahami dari perintah Allah swt. ialah sujud kepada diri Adam itu sendiri (sebagai penghormatan). Oleh karena itu, dia protes dengan mengatakan, &lt;i&gt;Saya lebih baik&lt;/i&gt; d&lt;i&gt;arinya.&lt;/i&gt; Dengan kata lain dia mengatakan, &lt;i&gt;Saya lebih utama darinya&lt;/i&gt;. Bagaimana mungkin seorang yang merasa lebih utama harus sujud kepada orang yang tidak lebih utama ?&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Disamping itu jika yang dimaksud dengan sujud disini ialah menjadikan Adam sebagai kiblat, maka tidaklah harus berarti bahwa &lt;i&gt;kiblat&lt;/i&gt; itu lebih utama dari orang yang sujud. Dengan demikian berarti Adam tidak mempunyai keutamaan atas mereka. Ini jelas bertentangan dengan zhahir/lahir ayat itu. Sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al-Isra’ (17); 61-62: &lt;i&gt;‘Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?’&lt;/i&gt; Juga katanya (Iblis), &lt;i&gt;‘Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku?&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh padaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturun- annya, kecuali sebagian kecil‘.&lt;/i&gt; Jadi jelas keengganan Iblis untuk sujud kepada Adam tidak lain adalah dikarenakan pada sujud tersebut terdapat kedudukan dan keutamaan yang besar bagi Adam as. dengan lain kata untuk &lt;i&gt;ta’dzim &lt;/i&gt;(penghormatan tinggi) pada Adam&amp;nbsp; as.. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mari kita ikuti dialog mengenai sujudnya Malaikat untuk Nabi Adam as. berkut ini:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;”Pada suatu hari seorang Wahabi, yaitu pemimpin &lt;i&gt;jama’ah Ansharus-Sunnah&lt;/i&gt; dikota Barbar kawasan utara Sudan, pernah memprotes seorang madzhab sunnah berkenaan dengan pembahasan ini. Dia (pemimpin jama’ah) mengatakan;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Sesungguhnya sujudnya malaikat kepada Adam adalah dikarenakan perintah Allah swt.’. Seorang bertanya padanya; ‘Jika demikian, berarti anda tetap bersikeras bahwa perbuatan ini, yaitu sujud, termasuk kategori syirik namun Allah swt. memerintahkannya’.&amp;nbsp;Syekh Wahabi ini menjawab: ‘Ya’. Seorang tersebut bertanya lagi kepadanya, &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;‘Apakah perintah Ilahi ini telah mengeluarkan sujudnya malaikat kepada Adam dari katagori syirik?’. Si Syekh Wahabi menjawab, ‘Ya’.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kemudian orang tersebut berkata, “Ini perkataan yang tidak berdasar, yang tidak akan diterima oleh orang yang bodoh sekalipun, apalagi oleh orang yang berilmu. Karena, perintah Ilahi tidak dapat mengubah &lt;i&gt;esensi&lt;/i&gt; sesuatu. Sebagai contoh, esensi dari celaan dan caci maki ialah &lt;i&gt;penghinaan&lt;/i&gt;. Jika Allah swt. memerintahkan kita untuk mencaci Fir’aun, apakah perintah Ilahi ini dapat mengubah esensi celaan, sehingga &lt;i&gt;celaan&lt;/i&gt; akan berubah menjadi &lt;i&gt;pujian&lt;/i&gt; dan penghormatan bagi Fir’aun? Demikian juga sujud yang dikarenakan perintah Allah akan berubah (dari kemusyrikan) menjadi tauhid yang murni. Tidak !, yang demikian ini mustahil. Dengan perkataan ini berarti anda telah menuduh para malaikat telah berbuat syirik”.&amp;nbsp; Dengan jawaban seorang tersebut si Syekh golongan Wahabi ini tampak keheranan diwajahnya dan diam tidak bicara.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Orang tersebut meneruskan sambil berkata; “Dihadapan anda ada dua kemungkinan, yang pertama apakah sujud ini keluar dari katagori ibadah?,&amp;nbsp; dan ini &lt;i&gt;adalah apa yang kami katakan dan yakini.&lt;/i&gt; Yang kedua, apakah sujud ini merupakan salah satu bentuk ibadah, sehingga dengan demikian berarti malaikat yang sujud telah berbuat syirik, namun perbuatan syirik yang &lt;i&gt;telah diizinkan dan di perintahkan&lt;/i&gt; oleh Allah swt.?&amp;nbsp;Perkataan yang kedua ini adalah perkataan yang tidak mungkin dikatakan oleh seorang Muslim yang berakal sehat, dan jelas-jelas tertolak berdasarkan firman Allah swt. yang berbunyi, “&lt;i&gt;Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah &lt;u&gt;tidak menyuruh&lt;/u&gt; mengerjakan perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?’”&lt;/i&gt; (QS. al-A’raf (7): 28). Sekiranya sujud itu ibadah dan perbuatan syirik, tentu Allah swt. tidak akan menyuruhnya !&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Qur’an al-Karim juga telah memberitahukan kita akan sujudnya saudara-saudara Yusuf dan juga ayahnya kepada dirinya. Sujud yang mereka lakukan ini bukan dikarenakan perintah Allah, namun demikian Allah swt. tidak menyebutnya sebagai perbuatan syirik, dan tidak menuduh saudara-saudara Yusuf dan juga ayahnya telah melakukan perbuatan syirik. Allah swt. berfirman; ”&lt;i&gt;Dan dia menaikkan kedua ibu bapaknya keatas singgasana. Dan mereka &lt;/i&gt;(semuanya)&lt;i&gt; merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan Yusuf berkata, ‘Wahai ayahku, inilah tabir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan’”.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. Yusuf [12] : 100). Mimpi yang dikatakan Yusuf itu terdapat didalam surat Yusuf [12]; 4; &lt;i&gt;“Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya,’ Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; aku lihat semuanya sujud kepadaku”.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Allah swt. telah menyebut peristiwa sujudnya mereka kepada Yusuf pada dua tempat yaitu sujudnya saudara-saudara Yusuf&amp;nbsp; dan sujudnya sebelas bintang, matahari dan bulan dalam mimpinya kepadanya. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan arti sujud diayat ini yaitu perbuatan yang menampakkan ketundukkan, perendahan diri dan pengagungan,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;jadi&lt;i&gt; bukanlah ibadah&lt;b&gt;. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Atas dasar ini, kita &lt;i&gt;tidak&lt;/i&gt; &lt;i&gt;bisa&lt;/i&gt; menuduh atau menjuluki seorang Muslim &lt;i&gt;muwahhid &lt;/i&gt;(bertauhid) yang tunduk dan merendahkan diri dihadapan makam Rasulallah, makam para imam dan makam para wali,&amp;nbsp; sebagai orang musyrik yang menyembah kuburan. Karena, ketundukkan &lt;i&gt;bukanlah&lt;/i&gt; berarti ibadah atau penyembahan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jika perbuatan yang semacam ini dikatagorikan sebagai perbuatan ibadah kepada kuburan, maka kita juga harus konsekwen mengatakan bahwa amal perbuatan kaum muslimin pada manasik haji –thawaf mengelilingi Ka’bah, melakukan sa’i antara shafa-marwa, mencium batu hajar aswad dan lain sebagainya– termasuk ibadah dan perbuatan syirk. (Na’udzu billahi). Karena dilihat dari bentuk dhahir/lahir perbuatan-perbuatan ini &lt;i&gt;tidak berbeda&lt;/i&gt; dengan perbuatan mengelilingi kuburan Rasulallah saw., menciumi atau menyentuhnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Allah swt. berfirman mengenai tawaf dan Sa’i; &lt;i&gt;“Dan hendaklah mereka melakukan tawaf mengelilingi rumah yang tua itu &lt;/i&gt;(Baitullah).&lt;i&gt;”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. al-Hajj : 29). Allah swt. juga berfirman, “&lt;i&gt;Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i diantara keduanya”.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;(QS. al-Baqarah: 158). &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah anda memandang bahwa berthawaf mengelilingi batu dan tanah (Ka’bah) merupakan ibadah kepadanya? Seandainya secara umum ketundukkan atau perendahan diri dikatakan sebagai ibadah, tentu perbuatan-perbuatan inipun dikatagorikan sebagai ibadah, dan tidak bisa dirubah esensinya melalui perintah Allah. Karena sebagaimana telah kita jelaskan bahwa perintah Allah tidak dapat mengubah esensi suatu perbuatan“! &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikianlah dialog yang cukup menarik antara Syeikh Wahabi dan golongan madzhab Sunnah.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Namun yang menjadi masalah bagi golongan Salafi (baca: Wahabi) ialah mereka kurang memahami &lt;i&gt;definisi ibadah, &lt;/i&gt;dan tidak memahami jiwa dan hakikatnya, sehingga mereka hanya berurusan dengan &lt;i&gt;bentuk lahiriyahnya&lt;/i&gt; saja. Ketika mereka melihat seorang peziarah kuburan Rasulallah saw. menciumi makam Rasulallah saw. atau&lt;i&gt; &lt;/i&gt;makam para waliyullah, maka dengan serta merta &lt;i&gt;terbayang didalam benak&lt;/i&gt; &lt;i&gt;mereka seorang musyrik yang menciumi berhalanya&lt;/i&gt;, lalu dengan segera mereka menyamakan perbuatan seorang Muslim muwahhid yang menciumi kuburan tersebut dengan perbuatan seorang musyrik yang menciumi berhalanya. Jelas pikiran seperti ini adalah salah! Seandainya semata-mata bentuk &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;luar/lahiriyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; cukup untuk dijadikan dasar penetapan hukum, maka tentunya merekapun harus mengkafirkan &lt;i&gt;seluruh &lt;/i&gt;orang Muslim yang &lt;i&gt;mencium hajar aswad&lt;/i&gt;. Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian! Seorang &amp;nbsp;&lt;i&gt;Muslim yang mencium&lt;/i&gt; hajar aswad, perbuatannya itu dihitung sebagai &lt;i&gt;tauhid yang murni &lt;/i&gt;–karena mereka tidak meyakini hajar aswad sebagai sesembahannya– sementara &lt;i&gt;seorang kafir&lt;/i&gt; &lt;i&gt;yang mencium &lt;/i&gt;berhala, perbuatannya itu dihitung sebagai &lt;i&gt;perbuatan syirik&lt;/i&gt; yang nyata, karena mereka meyakini berhala ini sebagai sesembahannya yang memiliki sifat ketuhanan”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ingatlah hadits riwayat Muslim (Shahih Muslim Bab 41 no 158 dan hadits yang sama no 159) bahwa Usamah bin Zaid ra membunuh seorang pimpinan Laskar Kafir yang telah terjatuh pedangnya, lalu dengan wajah tidak serius ia (laskar kafir) mengucap syahadat, Usamah membunuhnya. Betapa murkanya Rasulallah saw saat mendengar kabar itu.., seraya bersabda: Apakah engkau membunuhnya padahal dia mengatakan Laa ilaaha illallah!? Usamah ra berkata: Kafir itu hanya bermaksud ingin menyelamatkan diri Wahai Rasulullah., maka beliau saw bangkit dari duduknya dengan wajah merah padam dan membentak: &lt;i&gt;Apakah engkau telah belah&lt;/i&gt; &lt;i&gt;sanubarinya?, hingga engkau tahu isi hatinya &lt;/i&gt;(perkataan ini diulangi tiga kali) … ..sampai akhir hadits ! &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9035263491279041580-2337937839379279673?l=wahabi-selawat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/2337937839379279673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/2337937839379279673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahabi-selawat.blogspot.com/2010/09/tauhid-rububiyyah-dan-tauhid-uluhiyyah.html' title='Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9035263491279041580.post-2742997454749624400</id><published>2010-09-23T06:46:00.000-07:00</published><updated>2010-09-23T06:46:54.633-07:00</updated><title type='text'>Penentangan Terhadap Muhammad Ibnu Abdul Wahhab</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Para ulama al-Hanbali memberontak terhadap Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan mengeluarkan hukum bahwa akidahnya adalah sesat, menyeleweng&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan batil. Tokoh pertama yang mengumumkan penentangan terhadapnya adalah &lt;i&gt;ayah&lt;/i&gt; Muhammad Abdul Wahhab sendiri, &lt;i&gt;al-Syaikh ‘Abd al-Wahhab&lt;/i&gt;, diikuti oleh saudaranya, &lt;i&gt;al-Syaikh Sulayman&lt;/i&gt;. Kedua-duanya adalah dari &lt;i&gt;madzhab al-Hanabilah&lt;/i&gt;. Al-Syaikh Sulayman menulis kitab yang berjudul &lt;i&gt;al-Sawa‘iq al-Ilahiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahabiyyah&lt;/i&gt; untuk menentang dan memeranginya. Di samping itu tantangan juga datang dari sepupunya – ‘Abdullah bin Husain, Mufti Makkah– Zaini Dahlan mengatakan: “Abdal-Wahhab –ayah Muhammad bin abdul wahab–&amp;nbsp;adalah seorang yang sholih dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu, begitulah juga dengan saudaranya al-Syaikh Sulayman. Al-Syaikh `Abd al-Wahhab dan al-Syaikh Sulayman, kedua-duanya dari awal&amp;nbsp; –ketika Muhammad Abdul Wahhab mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah– telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Kedua-duanya telah mengeritik dan mencela pendapatnya dan mereka berdua turut memperingatkan orang ramai mengenai bahayanya pemikiran Muhammad..” ( Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, hal.357).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saudara Muhammad Ibnu Abdul Wahhab yang bernama &lt;i&gt;Sulaiman bin Abdul Wahhab &lt;/i&gt;membantahnya didalam kitabnya yang berjudul &lt;i&gt;ash-Shawa’iq al-Ilahiyyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahabiyyah.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syeikh Sulaiman menulis sebagai berikut: &lt;i&gt;“&lt;/i&gt;Sejak zaman sebelum Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu pada zaman para imam Islam, belum pernah ada yang meriwayatkan bahwa seorang imam kaum Muslimin mengkafirkan mereka, mengatakan mereka murtad dan memerintahkan untuk memerangi mereka. Belum pernah ada seorang pun dari para imam kaum Muslimin yang menamakan negeri kaum Muslimin sebagai negeri syirik dan negeri perang, sebagaimana yang anda –Muhammad Abdul Wahhab– katakan sekarang. Bahkan lebih jauh lagi, anda mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan perbuatan-perbuatan ini, meskipun dia tidak melakukannya. Kurang lebih telah berjalan delapan ratus tahun atas para imam kaum Muslimin, namun demikian tidak ada seorang pun dari para ulama kaum Muslimin yang meriwayatkan bahwa mereka (para imam kaum Muslimin) mengkafirkan&lt;b&gt; &lt;/b&gt;orang Muslim. Demi Allah, keharusan dari perkataan anda –Muhammad Abdul Wahhab– ini ialah anda mengatakan bahwa seluruh umat setelah zaman Ahmad (Ahmad bin Hanbal) –semoga rahmat Allah tercurah atasnya– baik para ulamanya, para penguasanya dan masyarakatnya semua mereka itu kafir dan murtad, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.&amp;nbsp;(Risalah Arba’ah Qawa’id, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.4). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sulaiman bin Abdul Wahhab juga berkata (untuk saudaranya Muhammad Abdul Wahhab) didalam halaman 4 ini sebagai berikut:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;i&gt;”&lt;/i&gt;Hari ini umat mendapat musibah dengan orang yang menisbahkan dirinya kepada Al-Qur’an dan sunnah, menggali ilmu keduanya, namun tidak mempeduli kan orang yang menentangnya. Jika dia diminta untuk memperlihatkan perkataannya kepada ahli ilmu, dia tidak akan melakukannya. Bahkan, dia mengharuskan manusia untuk menerima perkataan dan pemahamannya. Barangsiapa yang menentangnya, maka dalam pandangannya orang itu seorang yang kafir. Demi Allah, pada dirinya tidak ada satupun sifat seorang ahli ijtihad. Namun demikian, begitu mudahnya perkataannya menipu orang-orang yang bodoh. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ya Allah, berilah petunjuk orang yang sesat ini, dan kembalikanlah dia kepada kebenaran”.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ulama golongan Wahabi/Salafi menyatakan bahwa Syeikh Sulaiman ini sudah tobat, benarkah demikian ?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada salah seorang Wahabi menyatakan bahwa diakhir hayat Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab –saudara tua dan sekandung Muhammad bin Abdul Wahhab– telah bertaubat dan menyesali segala yang telah dilakukannya yaitu penentangan keras terhadap ajaran adiknya, Wahabisme. Penentangan itu dilakukannya dengan berupa nasehat (?) kepada Sang adik, baik melalui lisan maupun dengan menulis surat (risalah) yang selama ini dilakukannya atas keyakinan ajaran Sang adik. Bukti-bukti konkrit, kuat dan ilmiah telah beliau sampaikan ke Sang adik, namun apa daya, ikhtiyar menerima kebenaran bukan terletak pada tangan Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab.&amp;nbsp;Begitu juga Khairuddin az-Zarkali yang bermadzhab Wahabi asal Syria, dalam kitab &lt;i&gt;al-A’lam&lt;/i&gt; jilid 3 halaman 130 dia menyatakan dalam karyanya tersebut; “Ada yang menyatakan(?) bahwa Syeikh Sulaiman bin Abdul-Wahhab telah bertaubat dalam menentang pemikiran adiknya, Muhammad bin Abdul-Wahhab”. Namun sayangnya dalam buku ini dia (az-Zarkali) tidak berani memberi isyarat tentang kebenaran pernyataan tobatnya Syeikh Sulaiman, apalagi meyakininya dengan menyebut bukti-bukti konkrit. Hal itu karena memang ketiadaan bukti yang konkrit serta otentik akan ke-taubat-an Syeikh Sulaiman dalam penentangannya atas ajaran adiknya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada seorang penulis Wahabi lain asal Syria yang juga menjelaskan tentang pribadi Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab. Dia adalah &lt;i&gt;Umar Ridho Kahhalah&lt;/i&gt; pengarang kitab “&lt;i&gt;Mu’jam al-Mu’allifin”&lt;/i&gt; (lihat jilid 4 halaman 269, tentang Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab). Cuman terjadi perbedaan di antara kedua penulis diatas itu yaitu sewaktu menyebut tahun wafat Syeikh Sulaiman. Al-Kahhalah menyebutkan bahwa Syeikh Sulaiman wafat tahun 1206 Hijriyah. Sedangkan az-Zarkali menyebutkannya pada tahun 1210 Hijriyah. Bagaimana mereka berdua bisa membuktikan secara konkrit&amp;nbsp; tentang tobatnya Syeikh Sulaiman, untuk mengetahui kapan wafatnya Syeikh ini mereka masih berbeda pendapat !&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mengenai karya-karya Syeikh Sulaiman yang menangkal ajaran adiknya (Wahabisme), Al-Kahhalah dalam kitab &lt;i&gt;“Mu’jam al-Mu’allifin” &lt;/i&gt;(jilid 4 halaman 269) menyebutkan judul kitab “&lt;i&gt;As-Showa’iq al-Ilahiyah fi Madzhabal-Wahabiyah&lt;/i&gt;” (Petir-Petir Ilahi pada Madzhab Wahabisme). Begitu juga yang dinyatakan dalam kitab &lt;i&gt;“Idhoh al-Maknun”&lt;/i&gt; (lihat jilid 2 halaman 72). Dan didalam kitab &lt;i&gt;Idhoh al-Maknun&lt;/i&gt; ini juga menyinggung kitab karya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab lainnya yang berjudul “&lt;i&gt;Fashlul Khitab fi Madzhab Muhammad bin Abdul Wahhab&lt;/i&gt;” (Seruan Utama pada Madzhab Muhammad bin Abdul Wahhab). Namun, surat panjang yang kemudian dicetak menjadi kitab yang sudah beberapa kali dicetak itu memiliki judul panjang; “&lt;i&gt;Fashlul Khitab min Kitab Rabbil Arbab, wa Hadits Rasulallah al-Malak al-Wahhab, wa kalaam Uli al-Albab fi Madzhab Muhammad bin Abdul Wahhab&lt;/i&gt;”&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Seruan Utama dari Kitab Penguasa dari segala penguasa –Allah swt.– , dan hadits utusan Maha Kuasa dan Maha Pemberi anugerah –Muhammad saw.– dan ungkapan pemilik akal sehat pada madzhab Muhammad bin Abdul Wahhab).&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span style="color: black;"&gt;Kitab ini telah dicetak di beberapa Negara; di India pada tahun 1306 H, di Turki pada tahun 1399 H, di Mesir, Lebanon dan beberapa Negara lainnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Padahal kalau kita baca, kitab “&lt;i&gt;As-Showa’iq al-Ilahiyah fi Madzhab al-Wahabiyah&lt;/i&gt;” adalah merupakan surat teguran &lt;i&gt;Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab&lt;/i&gt; terhadap adiknya (Muhammad bin Abdul Wahhab) secara &lt;i&gt;langsung,&lt;/i&gt; namun kitabnya beliau yang berjudul “&lt;i&gt;Fashlul Khitab fi Madzhab Muhammad bin Abdul Wahhab&lt;/i&gt;” adalah surat yang ditujukan kepada &lt;i&gt;“Hasan bin ‘Idan”,&lt;/i&gt; salah satu sahabat dan &lt;i&gt;pendukung setia nan fanatik&lt;/i&gt; Muhammad bin Abdul Wahhab (pencetus Wahabisme). Jadi ada dua karya yang berbeda dari Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, &lt;i&gt;yang kedua-duanya berfungsi sama yaitu&lt;/i&gt; &lt;i&gt;mengeritik ajaran Wahabisme,&lt;/i&gt; walaupun keduanya berbeda dari sisi obyek yang diajak bicara. Dan tidak benar jika dikatakan bahwa terjadi perubahan judul dari karya beliau tadi, karena adanya dua buku dengan dua judul yang berbeda tersebut.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kedua surat itu walaupun memiliki perbedaan dari sisi obyek yang diajak bicara (satu buat sang adik, dan satu lagi buat pendukung fanatik buta adiknya), namun memiliki kesamaan dari sisi kekuatan dan keilmiahan argumentasinya, baik argument dari al-Qur’an, Hadits maupun dari para Salaf Sholeh. Tentu sebagai seorang kakak, Syeikh Sulaiman tahu betul sifat dan watak adiknya yang hidup bersamanya dari semenjak kecil. Dia paham bahwa apa yang dilakukannya akan sia-sia, namun apa yang dilakukannya itu tidak lain hanya sebagai argumentasi pamungkas &lt;i&gt;(Itmam al-Hujjah)&lt;/i&gt; akan segala perbuatan adiknya. Sehingga ia berpikir, dengan begitu ia tidak akan dimintai pertanggung-jawaban lagi oleh Allah, kelak di akherat, sebagai seorang kakak dan seorang ulama yang dituntut harus sigap dalam melihat dan menyikapi segala penyimpangan, berdasarkan konsep “Amar Makruf Nahi Munkar” yang diperintahkan (diwajibkan) Islam. Namun secara realita, usaha Syeikh Sulaiman tidak memberi hasil. Muhammad bin Abdul Wahhab tetap menjadi Muhammad bin Abdul Wahhab Sang pencetus Wahabisme, &lt;i&gt;Syeikhul Wahabiyah&lt;/i&gt;. Apalagi dia merasa di atas angin setelah mendapat dukungan penuh Kerajaan Saud (Saudi Arabia) pada waktu itu, dari sisi harta dan kekuatan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sedangkan sejarah telah menulis bahwa kekuatan Saud tadi didapat dari dukungan kerajaan Inggris, –penjajah Jazirah Arab kala itu– dalam memenangkan Saud di atas semua kabilah Arab yang menentang keberadaan imperialis Inggris kala itu. Muhammad bin Abdul Wahhab tidak lagi bisa mendengar (tuli) dan melihat (buta) akan kebenaran argumen al-Qur’an, hadits dan ungkapan Salaf Sholeh yang keluar dari siapapun, termasuk Sang kakak yang tergolong salah seorang ulama madzhab Hanbali dizamannya. Segala usaha Syeikh Sulaiman terhadap Sang adik dan pendukung setia adiknya tadi ibarat apa yang pernah Allah swt. singgung dalam al-Qur’an yang berbunyi; “&lt;i&gt;Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang&amp;nbsp; yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”&lt;/i&gt; (QS al-Qoshosh: 56). Dalam ayat lainnya: &lt;i&gt;“Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau &lt;/i&gt;(dapatkah)&lt;i&gt; kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta &lt;/i&gt;(hatinya)&lt;i&gt; dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata&lt;/i&gt;?” (QS az-Zukhruf: 40). Atau ayat: &lt;i&gt;“Apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan” &lt;/i&gt;(QS Yunus 43).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dari keterangan diatas jelas sekali bahwa, kebenaran pernyataan yang menyatakan bahwa Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab telah bertobat merupakan &lt;i&gt;pernyataan yang tidak berdasar,&lt;/i&gt; karena &lt;i&gt;tidak ada bukti konkrit&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;otentik&lt;/i&gt; akan kebenaran hal itu, misalnya bukti tertulis karya Syeikh Sulaiman sendiri atau paling tidak orang yang sezaman dengan beliau. Yang ada hanya &lt;i&gt;pengakuan-pengakuan&lt;/i&gt; dari para ulama Wahabi kontemporer sendiri (yang tidak mengetahui ihwal meninggalnya Syeikh Sulaiman, apalagi hidupnya) yang menyatakan bahwa Syeikh Sulaiman telah tobat, telah mengikuti bahkan menyokong sekte ajaran adiknya (Wahabisme).Ini adalah pembohongan yang diatas namakan Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab. Semua itu mereka lakukan tidak lain hanya untuk &lt;i&gt;membersihkan pengaruh negatif &lt;/i&gt;akibat pengingkaran kakak kandung pencetus Wahabisme yang akan memberikan image negatif terhadap perkembangan sekte Wahabisme ini.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi, atas dasar itu jangan heran jika pengikut Wahabi seperti &lt;i&gt;Khairuddin az-Zarkali&lt;/i&gt; tidak berani dengan terang-terangan bahkan cenderung ragu dalam menghukumi kebenarannya. Apalagi ditambah dengan kenyataan yang ada di luar bahwa para pengikut sekte Wahabi ini –terkhusus para ulamanya yang berada di Saudi, Yaman dan Kuwait– sangat membenci Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab. Jika Syeikh Sulaiman benar-benar telah bertaubat, kenapa ada kesepakatan (terkhusus antar ulama Wahabi beserta para santri mereka) untuk mencela dan menghina ulama madzhab Hanbali (salah satu madzhab Ahlussunah wal Jama’ah) ini? Jika madzhab Hanbali (yang metode madzhabnya banyak diadopsi oleh Wahabi) saja diolok-olok, bagaimana dengan madzhab lain Ahlussunah seperti madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;NB:&amp;nbsp;Untuk diketahui oleh pembaca nama-nama dan judul kitab golongan Wahabi kontemporer (tidak sezaman bahkan hidup jauh pasca Syeikh Sulaiman wafat) yang menulis dan mengarang-ngarang tentang taubatnya Syekh Sulaiman bin Abdul Wahab dari penentangan ajaran Wahabisme (sekte bikinan adiknya) adalah: “Ibnu Ghannam (Tarikh Nejed 1/143); Ibnu Bisyr (Unwan Majd hal. 25); Syaikh Mas’ud An Nadawi (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlih Mazhlum 48-50); Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (Ta’liq Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 95); Syaikh Ahmad bin Hajar Alu Abu Thami (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 30); Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwa’ir (Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab Syaikh muftara ‘alaihi lihat majalah Buhuts Islamiyah edisi 60/1421H); Syaikh Nashir Abdul Karim Al Aql (Islamiyah la Wahabiyah hal. 183); Syaikh Muhammad As-Sakakir (Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab wa Manhajuhu fi Dakwah hal. 126); Syaikh Sulaiman bin Abdurrahman Al Huqail (Hayat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 26. yang diberi kata pengantar oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh) dan lain-lain”. Jika kita lihat masa hidup mereka semua, maka bagaimana mungkin mereka akan bisa memberi kesaksian atas pertaubatan Syeikh Sulaiman sedang mereka tidak sezaman bahkan jauh dari zaman Syeikh Sulaiman wafat? Mungkinkah (secara logis dan ilmiah) orang-orang itu mampu memberikan secara langsung (tanpa merujuk orang-orang yang sezaman dengan Syeikh Sulaiman) kesaksian pertaubatan syeikh Sulaiman? Silahkan pembaca yang budiman renungkan!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9035263491279041580-2742997454749624400?l=wahabi-selawat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/2742997454749624400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9035263491279041580/posts/default/2742997454749624400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahabi-selawat.blogspot.com/2010/09/penentangan-terhadap-muhammad-ibnu.html' title='Penentangan Terhadap Muhammad Ibnu Abdul Wahhab'/><author><name>AWePe</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9035263491279041580.post-4750416000909536903</id><published>2010-09-23T06:43:00.000-07:00</published><updated>2010-09-23T06:43:58.608-07:00</updated><title type='text'>Muhammad bin Abdul Wahhab Mengkafirkan Beberapa Tokoh Ulama</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di sini, kita akan mengemukakan beberapa pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap beberapa tokoh ulama Ahlusunah yang tidak sejalan dengan pemikiran sektenya: Dalam sebuah surat yang dilayangkan kepada &lt;i&gt;Syeikh Sulaiman bin Sahim&lt;/i&gt; –seorang tokoh madzhab Hanbali pada zamannya– Ia (Muhamad Abdul Wahhab) menuliskan: ‘Aku mengingatkan kepadamu bahwa engkau bersama ayahmu telah dengan jelas melakukan perbuatan &lt;i&gt;kekafiran,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;syirik dan kemunafikan &lt;/i&gt;!….engkau bersama ayahmu siang dan malam sekuat tenagamu telah berbuat permusuhan terhadap agama ini !…engkau adalah seorang penentang yang sesat di atas keilmuan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dengan sengaja melakukan kekafiran terhadap Islam. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kitab kalian itu menjadi bukti kekafiran kalian!” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 31). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam surat yang dilayangkan kepada &lt;i&gt;Ahmad bin Abdul&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Karim&lt;/i&gt; yang mengkritisinya. Ia (Muhamad Abdul Wahhab) menuliskan: “Engkau telah menyesatkan &lt;i&gt;Ibnu Ghonam&lt;/i&gt; dan beberapa orang lainnya. Engkau telah lepas dari &lt;i&gt;millah&lt;/i&gt; (ajaran) Ibrahim. Mereka menjadi saksi atas dirimu bahwa engkau tergolong pengikut kaum musyrik” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 64). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam sebuah surat yang dilayangkan untuk &lt;i&gt;Ibnu Isa&lt;/i&gt;&amp;nbsp; –yang telah melakukan argumentasi terhadap pemikirannya –Muhammad Abdul Wahhab menvonis sesat para pakar fikih (fuqoha) secara keseluruhan.Ia (Muhamad Abdul Wahhab) menyatakan: (Firman Allah); “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah”&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;Rasul dan para imam setelahnya telah mengartikannya sebagai &lt;i&gt;‘Fikih’&lt;/i&gt; dan itu yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai perbuatan &lt;i&gt;syirik&lt;/i&gt;. Mempelajari hal tadi masuk kategori &lt;i&gt;menuhankan&lt;/i&gt; hal-hal lain selain Allah. Aku tidak melihat terdapat perbedaan pendapat para ahli tafsir dalam masalah ini.” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 2 halaman 59). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Berkaitan dengan &lt;i&gt;Fakhrur Razi&lt;/i&gt; –pengarang kitab &lt;i&gt;Tafsir al-Kabir&lt;/i&gt;, yang bermadzhab Syafi’i Asy’ary– ia (Muhamad Abdul Wahhab) mengatakan: “Sesungguhnya &lt;i&gt;Razi&lt;/i&gt; tersebut telah mengarang sebuah kitab yang membenarkan para penyembah bintang” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 hal. 355). Betapa kedangkalan ilmu Muhamad bin &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Abdul Wahhab terhadap karya &lt;i&gt;Fakhrur Razi.&lt;/i&gt; Padahal dalam karya tersebut, Fakhrur Razi menjelaskan tentang beberapa hal yang menjelaskan &lt;i&gt;fungsi&lt;/i&gt; &lt;i&gt;gugusan bintang&lt;/i&gt; dalam kaitannya dengan fenomena yang berada di bumi, termasuk berkaitan dengan bidang pertanian. Namun Muhamad bin Abdul Wahhab dengan keterbatasan ilmu&amp;nbsp; terhadap ilmu perbintangan telah menvonisnya dengan julukan yang tidak layak, tanpa didasari ilmu yang cukup. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Setelah adanya makalah-makalah diatas, &lt;i&gt;lantas apakah layak ia disebut ulama pewaris akhlak dan ilmu Nabi, apalagi pembaharu (mujaddid) sebagaimana yang diakui oleh kaum Wahabi?&lt;/i&gt; Dari berbagai pernyataan di atas maka jangan kita heran jika lantas Muhammad bin Abdul Wahhab pun mengkafirkan –serta di-ikuti oleh para pengikutnya (Wahhabi)– para &lt;i&gt;pakar teologi&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;mutakallimin&lt;/i&gt;) Ahlusunnah &lt;i&gt;secara keseluruhan&lt;/i&gt; (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 53), bahkan ia (Muhamad Abdul Wahhab) mengaku-ngaku bahwa kesesatan &lt;i&gt;para pakar teologi&lt;/i&gt; tadi merupakan konsensus &lt;i&gt;(ijma’)&lt;/i&gt; para ulama dengan mencatut nama para ulama seperti &lt;i&gt;adz-Dzahabi, Imam Daruquthni &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; al-Baihaqi. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Padahal jika seseorang meneliti apa yang ditulis oleh seorang seperti adz-Dzahabi –yang konon kata Ibnu Abdul Wahhab juga mengkafirkan para teolog– dalam kitabnya&lt;i&gt; ‘Siar A’lam an-Nubala’&lt;/i&gt; dimana beliau (Adz-Dzahabi) banyak menjelaskan dan memperkenalkan beberapa tokoh teolog, &lt;i&gt;tanpa &lt;/i&gt;terdapat ungkapan&lt;i&gt; pengkafiran dan penyesatan&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Walaupun kalaulah umpama terdapat beberapa teolog yang menyimpang namun tentu bukan hal yang bijak jika hal itu &lt;i&gt;di generalisir.&lt;/i&gt; Jika kita teliti dari konteks yang terdapat dalam ungkapan Muhamad bin Abdul Wahhab, jelas sekali yang ia maksud bukanlah para teolog non muslim atau yang menyimpang saja, tetapi &lt;i&gt;semua para teolog muslim&lt;/i&gt; seperti &lt;i&gt;Abul Hasan al-Asy’ari&lt;/i&gt; –pendiri mazhab ‘Asy’ariyah– dan selainnya sekalipun. Jangankan terhadap orang yang berlainan madzhab –konon Muhamad bin Abdul Wahhab yang mengaku sebagai penghidup ajaran dan metode &lt;i&gt;(manhaj)&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Imam Ahmad bin Hanbal&lt;/i&gt; sesuai dengan pemahaman Ibnu Taimiyah– dengan sesama madzhab pun turut disesatkan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kita akan melihat contoh berikut ini dari penyesatan pribadi-pribadi tersebut:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Adapun &lt;i&gt;Ibnu Abdul Lathif, Ibnu ‘Afaliq dan Ibnu Mutlaq adalah&lt;/i&gt; orang-orang yang pencela ajaran Tauhid..., namun &lt;i&gt;Ibnu Fairuz&lt;/i&gt; dari semuanya &lt;i&gt;lebih dekat&lt;/i&gt; dengan Islam”(Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 78).&amp;nbsp;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apa makna &lt;i&gt;lebih dekat &lt;/i&gt;pada tekts diatas? Berarti mereka bukan Islam (baca:kafir) namun mendekati ajaran Islam. Padahal Muhammad bin Abdul Wahhab juga mengakui bahwa &lt;i&gt;Ibnu Fairuz&lt;/i&gt; adalah pengikut dari mazhab Hanbali, penjunjung ajaran Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Bahkan di tempat lain, Muhammad Abul Wahhab berkaitan dengan &lt;i&gt;Ibnu Fairuz&lt;/i&gt; mengatakan: “Dia telah&lt;i&gt; kafir &lt;/i&gt;dengan kekafiran yang besar dan telah keluar dari &lt;i&gt;millah&lt;/i&gt; (agama Islam)” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 63).&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bagaimana Muhamad bin Abdul Wahhab tega dan berani mengkafirkan orang yang se-manhaj dengannya?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Jika rasa persaudaraan terhadap orang yang se-manhaj saja telah sirna, lantas bagaimana mungkin ia memiliki jiwa persaudaraan dengan pengikut manhaj lain yang di luar manhajnya? Niscaya pengkafirannya akan menjadi-jadi dan lebih menggila!&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kita akan kembali melihat apa yang diungkapkannya kepada pengikut ajaran lain. Jika para ulama &lt;i&gt;pakar fikih&lt;/i&gt; &lt;i&gt;(fuqoha’)&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;ahli teologi&lt;/i&gt; &lt;i&gt;(mutak-klim)&lt;/i&gt; telah disesatkannya, maka jangan heran pula jika pakar &lt;i&gt;ilmu mistik modern&lt;/i&gt; (baca: &lt;i&gt;tasawwuf falsafi)&lt;/i&gt; seperti &lt;i&gt;Ibnu ‘Arabi&lt;/i&gt; pun dikafirkan sekafir-kafirnya. Bahkan dinyatakan bahwa &lt;i&gt;kekafiran Ibnu Arabi&lt;/i&gt; yang bermadzhab Maliki itu dinyatakan &lt;i&gt;lebih kafir dari Fir’aun&lt;/i&gt;. Bahkan bukan hanya sebatas pengkafiran dirinya terhadap pribadi Ibnu Arabi saja, tetapi Muhamad Abdul Wahhab telah &lt;i&gt;memerintahkan&lt;/i&gt; (baca: mewajibkan) orang lain untuk &lt;i&gt;mengkafirkannya &lt;/i&gt;juga. Dia menyatakan: “Barangsiapa yang &lt;i&gt;tidak mengkafirkannya&lt;/i&gt; (Ibnu Arabi) maka iapun tergolong orang yang kafir pula”. Dan bukan hanya orang yang tidak mau mengkafirkan yang divonis Muhamad bin Abdul Wahhab sebagai orang kafir, bahkan &lt;i&gt;yang ragu&lt;/i&gt; dalam kekafiran Ibnu Arabi pun divonisnya &lt;i&gt;sebagai orang kafir&lt;/i&gt;. Ia mengatakan: “Barangsiapa yang meragukan &lt;i&gt;kekafirannya&lt;/i&gt; (Ibnu Arabi) maka ia tergolong kafir juga”. (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 25). &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mungkinkan sekte pengkafiran ini mampu mewakili sebagai ajaran suci Rasulallah saw. yang dinyatakan sebagai “Rahmatan lil Alaminin”?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FR" style="font-fa
